post image
Ilustrasi personel TNI ikut mempesiapkan dapur MBG.
KOMENTAR

Di tengah kabar mengenai serangan pertama koalisi Iran dan Israel ke Tehran, Iran, lembaga survei Timur Barat Research Center (TBRC) merilis hasil survei yang mereka lakukan untuk menilai setahun program makan Siang Gratis (MBG) pemerintahan Prabowo Subianto. 

Dalam keterangan yang diterima redaksi disebutkan bahwa survei dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Februari 2026 di 458 Kabupaten Kota di Indonesia dengan jumlah responden sebanyak 1802 responden yang tersebar secara proposional.

Direktur Eksekutif TBRC,  Zaenal Abidin, lebih lanjut mengatakan bahwa respon yang mereka pilih adalah warga negara Indonesia yang merupakan  orang tua  peserta didik penerima program MBG. Data Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan jumlah penerima MBG di awal 2026 sebanyak 59,86 juta peserta didik.

“Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error +/_ 2,31 persen,” ujar Zaenal Abidin.

Dapat disimpulkan bahwa program MBG bukan sekadar program makan gratis, melainkan sebuah strategi ekonomi dan juga kebijakan pembangunan manusia dan MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi nasional 

“Ketika produktivitas naik, maka pendapatan masyarakat meningkat. Ketika pendapatan meningkat, konsumsi ikut terdorong dan ketika konsumsi menguat, roda ekonomi bergerak lebih cepat,” ujar Zainal.

“MBG merupakan  investasi pada kualitas sumber daya manusia, pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang,” sambungnya.

Gizi yang cukup pada usia sekolah, masih kata Zainal, terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif. Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Dari survei ini ditemukan bahwa sebanyak 79,4 persen responden sangat mengetahui adanya program MBG untuk anak-anak sekolah dan sebanyak 12,2 persen sekadar mengetahui adanya program MBG untuk anak-anak sekolah. Sementara 3,1 persen mengatakan tidak tahu dan sebanyak 5,3 persen lainnya memilih tidak menjawab.

Survei juga menemukan sebanyak 82,2 persen menyatakan sangat puas  dengan program MBG untuk anak anak mereka. Lalu sebanyak 12,6 persen menyatakan tidak puas, dan sebanyak 5,2 persen tidak menjawab 

Temuan survei juga mendapati bahwa sebanyak 74,6 persen responden tidak tahu dan tidak melihat  menu dan jenis makanan  yang diberikan untuk program MBG pada anak anak mereka. Sebanyak 3,7 persen responden kurang tahu sedangkan 16,3 persen tahu dan melihat, adapun dan 5,4 persen lainnya tidak menjawab.

TBRC juga menanyakan kaitan antara MBG dengan pengaruh pada ekonomi rumah tangga. 

Sebanyak 84,3 persen responden menilai program MBG mempengaruhi secara positif pada  ekonomi rumah tangga responden, dan 11,3 persen menyatakan biasa saja, serta 4,4 persen tidak menjawab. 

Dari temuan survei didapati bahwa  64,3 persen responden menyatakan akibat program MBG, pengeluaran rumah tangga mereka setiap bulan menurun hingga 10-20 persen dan sebanyak 31,4 persen responden mengatakan pengeluaran rumah tangga mereka setiap bulan menurun hingga 5+10 persen dan 4,3 persen responden tidak menjawab. 

Lalu sebanyak 60,3 persen responden menyatakan pendapatan rumah tangga mereka meningkat dan membaik dengan adanya program MBG sedangkan 33,1 persen menyatakan pendapatan rumah tangga mereka biasa saja atau stabil  dan sebanyak 6,6 persen tidak menjawab. 

Kualitas Makanan MBG dan Pelibatan Sekolah

Sebanyak 60,2 persen persen responden menyatakan harus diperbaiki dan ditingkatkan mutu dan kualitas nya, sebanyak 30,7 persen menyatakan cukup bermutu dan berkualitas untuk gizi anak dan sebanyak 9,1 persen tidak menjawab. 

Sebanyak 85,7 persen responden meminta agar orang tua peserta didik dan guru (sekolah) dilibatkan untuk menjamin kualitas MBG. Sebanyak 7,1 persen responden menyatakan tidak perlu dilibatkan, dan 7,2 persen tidak menjawab. 

Bagaimana dengan keterlibatan aparat TNI dan Polri dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)?

Untuk pertanyaan ini sebanyak 88,7 persen responden setuju dan mendukung, lalu 7,2 persen responden tidak setuju dan tidak mendukung, serta 4,1 persene tidak menjawab 

Lantas sebanyak 90,1 persen responden menyatakan bahwa mutu dan Kualitas makanan untuk MBG dari SPPG Polri dan TNI sangat baik dan sebanyak 5,1 persen menilai biasa saja, serta dan sebanyak 4,8 persen tidak menjawab.

Walhasil sebanyak 89,7 persen mendukung agar program MBG dilanjutkan. adapun sebanyak 6,1 persen meminta agar tidak dilanjutkan, da sebanyak 4,2 persen tidak menjawab.

Sebanyak 90,4 persen responden menyatakan program MBG harus dimasukan dalam program-program pendidikan dan diundang-undangkan, adapun sebanyak 4,4 persen responden menyatakan tidak perlu, serta sebanyak 5,2 persen tidak menjawab.

 


Bangga dengan Paspor Indonesia di Tengah Tantangan Brain Drain

Sebelumnya

Balas Sindiran Prof. Uceng, Pigai: Anda Hanya Guru yang “Dibesar-besarkan”

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Indonesiana