Aksi berubah menjadi vandalisme sistematis: penyerangan aparat, perusakan fasilitas publik, pembakaran properti warga, hingga pembakaran masjid, sebuah tindakan yang jelas-jelas tidak mungkin lahir dari rakyat biasa yang sedang menuntut harga pangan lebih adil.
Oleh: Ismail Amin, WNI tinggal di Iran
BANYAK yang lantas nyinyir dan merespon negatif pernyataan terbaru Ayatullah Ali Khamenei yang menuding dan mengecam Donald Trump Trump atas kerusuhan di Iran. Di antara mereka bilang begini, lho dia sendiri yang sakit tapi menyalahkan orang lain penyebabnya. Lho dia sendiri yang membunuhi rakyatnya, Trump yang jauh malah yang dikambinghitamkan.
Nah saya jawab mengapa Ayatullah Khamenei menyalahkan Trump.
Jawabannya tidak terletak pada retorika emosional, melainkan pada rantai sebab-akibat yang konkret, terukur, dan terdokumentasi.
Iran memang mengalami inflasi tinggi dan itu bukan fenomena normal atau kegagalan ekonomi internal semata, melainkan konsekuensi langsung dari kebijakan “maximum pressure” Amerika Serikat, yaitu sanksi ekonomi paling brutal dan komprehensif dalam sejarah hubungan internasional modern.
Sanksi ini dengan sengaja memutus Iran dari sistem keuangan global, membatasi ekspor minyak, menghambat transaksi perbankan, dan menekan nilai mata uang nasional. Akibatnya, ketika nilai dolar AS melonjak karena tekanan eksternal, harga kebutuhan pokok di pasar domestik ikut naik sebuah absurditas yang wajar memicu kemarahan rakyat. Protes sosial pun muncul, terutama dari pelaku pasar dan masyarakat urban, dengan tuntutan ekonomi yang rasional dan sah: stabilitas harga dan kinerja pemerintah yang lebih efektif.
Namun masalahnya bukan pada protes itu. Masalahnya dimulai ketika demonstrasi ekonomi disusupi dan dibajak oleh elemen terorganisir yang sama sekali tidak merepresentasikan aspirasi rakyat. Aksi berubah menjadi vandalisme sistematis: penyerangan aparat, perusakan fasilitas publik, pembakaran properti warga, hingga pembakaran masjid, sebuah tindakan yang jelas-jelas tidak mungkin lahir dari rakyat biasa yang sedang menuntut harga pangan lebih adil.
Pada saat yang sama, muncul slogan-slogan politik ekstrem seperti “ganti rezim” dan “matilah diktator”, tuntutan yang tidak pernah menjadi agenda awal demonstrasi. Ini adalah pola klasik regime change operation: memanfaatkan keluhan riil rakyat, lalu mengubahnya menjadi kekacauan politik.
Fakta kunci yang tak bisa diabaikan: jaringan intelijen asing, termasuk Mossad, secara terbuka maupun tersirat mengakui keterlibatan dalam operasi destabilisasi, bukan hanya memasukkan agen-agen terlatih tapi juga mensuplai senjata, sementara Trump baik melalui pernyataan publik maupun sinyal politik secara konsisten mendorong eskalasi tekanan dan kekacauan, bukan de-eskalasi.
Dengan kata lain, AS bukan pengamat pasif, melainkan arsitek tekanan ekonomi sekaligus penyokong atmosfer kerusuhan. Ketika korban jiwa berjatuhan akibat aksi vandalisme dan kekerasan terorganisir itu, menuding pihak yang merancang tekanan strukturalnya bukanlah kambing hitam, melainkan penunjukan tanggung jawab politik.
Karena itu, menyamakan para perusuh dengan pendemo adalah manipulasi fakta. Mereka bukan representasi rakyat Iran, bahkan bukan bagian organik dari masyarakat Iran.
Justru sebagai respons, jutaan rakyat Iran turun ke jalan untuk mengecam kerusuhan dan menolak agenda asing, sebuah fakta besar yang secara sistematis dihapus oleh narasi media Barat. Maka pertanyaannya berbalik: jika sanksi ekonomi dirancang di Washington, tekanan mata uang dipicu dari luar, dan kerusuhan disulut oleh jaringan asing, apa yang keliru ketika Ayatullah Khamenei menyalahkan Trump?
Yang keliru justru mereka yang menutup mata terhadap sebab, lalu berpura-pura netral sambil membebek pada narasi Barat. Yang keliru adalah mereka yang malas berpikir, tapi sok memberi analisis.
Pernyataan terbaru Ayatullah Khamenei yang mengecam Trump mendapat dukungan rakyat Iran, sambil juga teriak “Mampus Amerika, mampus Israel, ampus pengkhianat.”
Fenomena yang membuat bingung mereka yang tidak mengenal Iran, “Kok mereka bisa manut banget ya sama Khamenei?”


KOMENTAR ANDA