Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior
ZIARAH pertama saya di Kairo: ke makam Imam Syafi'i. Satu dari imam empat mazhab: Syafi'i, Maliki, Hambali, dan Hanafi.
Islam di Tiongkok mazhabnya Hanafi. Indonesia Syafi'i. Rasanya saya ikut Syafi'i campur Hanafi.
Bangunan tinggi di sekitar makam Imam Syafi'i banyak dikosongkan. Sebagian sudah dihancurkan. Itu menambah tebalnya debu yang harus masuk paru. Tapi itu juga memberi harapan: pembangunan ekonomi dan modernisasi terus berlangsung di Mesir.
Sementara ini suasananya masih seperti dulu: jalan tanah, debu tebal, kaki lima saling bersaing, pengemis berbaris, dan terik matahari kian ngeri.
***
Imam Syafi'i inilah yang membuat Islam sangat moderat. Selalu memberi jalan tengah untuk urusan keagamaan. Indonesia berada di jalur ini. Al Azhar University di jalur ini. Banyak mahasiswa yang pilih kuliah di Al Azhar karena ingin belajar sikap tengahnya itu.
Tapi yang mendampingi saya selama di Kairo adalah orang Indonesia dengan latar belakang keluarga pengikut Persis –Persatuan Islam.
Anda sudah tahu seperti apa Persis: tegas. Sesuatu yang tidak ada dalam Alquran dan Hadis tidak boleh dikerjakan. Titik. Tidak ada titik koma.
Termasuk ziarah ke kuburan: tidak boleh. Tidak diajarkan. Tahlil tidak boleh. Orang itu kalau sudah mati ya sudah. Mati. Sudah terputus dengan siapa pun kecuali tiga: ilmunya, amal sedekahnya, dan doa anaknya yang saleh.
Setelah kuliah di Al Azhar sikapnya melunak. Apalagi setelah ia punya bisnis travel: harus sering mengantarkan rombongan yang ingin ziarah ke kuburannya Imam Syafi'i.
Namanya Anda sudah tahu: Fauzi Syam Latif (Disway 19 Februari 2026: Tiga Huruf). Orang Bandung. Mertuanya orang Garut. Sekeluarga Fauzi Persis semua –sedangkan keluarga istrinya NU semua.
Akhirnya Fauzi menciptakan istilah baru. Jalan tengah. Ziarah kubur itu ia bagi dua: ada yang bi barokiyah dan ada yang bi tarikiyah. Yang penting jangan yang pertama: ziarah ke kuburan untuk minta berkah. Kuburan tidak bisa memberi berkah.
Mendengar Fauzi sering ke kuburan, keluarganya di Bandung heboh. Termasuk ayahnya sendiri. Fauzi dianggap orang Persis yang tidak tegak lurus lagi. Fauzi pun sibuk menjelaskan teorinya tentang dua jenis ziarah ke kuburan itu.
Apalagi ketika mertuanya meninggal dunia. Ia harus mengadakan tahlil di rumahnya selama tujuh malam. Ia diejek habis oleh keluarganya.
"Tapi Anda masih tetap Persis kan?" tanya saya.
"Masih," katanya.
"Ada berapa orang Persis yang kuliah di Al Azhar?"
"Ada 200-an orang".
Tentu itu objek menarik untuk penelitian: bagaimana 200 orang itu bermetamorfosis dari ajaran Persis ke ahli sunnah yang wasatiyah.
"Bisa untuk disertasi S-3," kata saya kepada ustaz saudagar Fauzi. Apalagi ia sendiri mengalaminya.
Saya ceritakan kepadanya: waktu muda salah satu bacaan saya adalah majalah Al Muslimun. Rutin. Itu majalahnya Persis. Yang menerbitkan Persis Bangil, Pasuruan. Sudah lama majalah itu mati.
Saya juga bercerita tentang wartawan saya yang juga dari keluarga pimpinan Persis di Tasikmalaya. Wartawan hebat. Akhirnya jadi pemred harian Rakyat Merdeka.
Ia alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meneruskan S-2 di McGill University di Kanada. Lalu ambil gelar doktor di Belanda. Disertasinya tentang tarekat Nahshabandiyah Qadiriyah. Sekarang ia jadi wakil mursyid aliran tarekat itu. Di Ciamis. Di Sirna Rasa. Menjadi wakilnya Abah Aos –keturunan Abah Anom Suryalaya. Namanya: Dr Budi Rahman Hakim. Dari Persis ke tarekat.


KOMENTAR ANDA