post image
Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis malam WIB, 22 Januari 2026.
KOMENTAR

Pidato Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEV) 2026 di Davos, Swiss, Kamis malam WIB, 22 Januari 2026, menguraikan sejumlah pencapaian dalam satu tahun pertama pemerintahannya. 

Dari pidato tersebut hal utama yang dapat disimpulkan adalah bahwa pemerintahan sebelum Prabowo meninggalkan pekerjaan rumah yang begitu besar, khususnya di bidang ekonomi, akibat dari prilaku greedy-economic atau serakahnomik kelompok oligarki yang menumpuk keuntungan untuk diri dan kelompok sendiri tanpa mempertimbangkan dampak atau kerusakan yang ditimbulkan.

Prabowo tidak menyebutkan, tapi mengindikan bahwa pemerintahan sebelumnya lalai dalam memberantas hal-hal tersebut. 

Pidato Prabowo disampaikan dengan nada suara yang datar dan terkontrol. Sesekali dia menyelipkan humor yang disambut dengan tawa hadirin. Misalnya, saat dia membandingkan keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru berusia satu tahun dengan produksi waralaba McDonald’s. 

“McDonald's memulai dapur pertamanya pada tahun 1940. Untuk mencapai 68 juta, mereka membutuhkan 55 dekade lagi. Kami akan mencapai 82,9 juta. Saya harap pada akhir Desember 2026. Tetapi orang-orang saya mengatakan, tidak, Pak, kami akan mencapai 82,9 juta sebelum Desember. Jadi, semoga kita bisa mencapainya,” ujar Prabowo.

Berikut adalah delapan poin penting dalam pidato Prabowo tersebut:

1. Perdamaian dan stabilitas sebagai prasyarat kemakmuran

Prabowo menegaskan bahwa kemakmuran hanya dapat dicapai melalui perdamaian dan stabilitas. Indonesia memilih persatuan, kerja sama, dan persahabatan sebagai fondasi pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak stabilitas politik dan ekonomi yang kuat, serta tidak pernah sekali pun gagal membayar utang negara dalam sejarahnya, dan setiap pemerintahan selalu menghormati kewajiban pemerintahan sebelumnya.

2. Ketahanan makroekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global

Indonesia disebut sebagai titik terang global oleh IMF karena mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah pengetatan moneter dan ketegangan geopolitik dunia. Selama satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas 5 persen per tahun, inflasi sekitar 2 persen, dan defisit fiskal dijaga di bawah 3 persen PDB, menunjukkan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi yang kuat.

3. Pembentukan Danantara sebagai instrumen industrialisasi dan investasi

Danantara dibentuk sebagai dana pengelola aset strategis nasional untuk membiayai industri masa depan dan menjadikan Indonesia mitra investasi global yang setara. Lembaga ini mengelola aset sekitar satu triliun dolar AS dari 1.044 BUMN yang akan dirasionalisasi menjadi sekitar 300 perusahaan. Danantara diperbolehkan merekrut eksekutif asing dan menerapkan tata kelola berstandar internasional untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

4. Reformasi anggaran dan program makanan bergizi gratis berskala nasional

Pemerintah melakukan efisiensi anggaran besar-besaran untuk membiayai program sosial produktif, terutama program makanan bergizi gratis. Dalam dua bulan pertama pemerintahan, berhasil dihemat sekitar 18 miliar dolar AS. Program ini dimulai dari 190 dapur yang melayani 570 ribu orang per hari, berkembang menjadi 21.102 dapur dengan hampir 59,8 juta porsi makanan per hari, dan ditargetkan mencapai 82,9 juta porsi per hari pada tahun 2026.

5. Investasi besar dalam kesehatan dan pendidikan sebagai fondasi modal manusia

Prabowo menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama. Sekitar 70 juta warga menerima pemeriksaan kesehatan gratis tahunan seumur hidup. Pemerintah merenovasi 16.140 sekolah dan memasang 288 ribu panel interaktif digital, dengan target tambahan satu juta panel pada 2026. Setiap sekolah ditargetkan memiliki minimal enam kelas digital dalam tiga tahun, disertai pembangunan 500 sekolah berasrama untuk anak keluarga miskin dan pendirian 10 universitas baru.

6. Pemutusan lingkaran kemiskinan melalui koperasi desa dan pembangunan nelayan

Untuk memutus rantai kemiskinan struktural, pemerintah membangun 83 ribu koperasi desa lengkap dengan gudang, cold storage, minimarket, dan apotek desa. Program modernisasi desa nelayan menargetkan 10 juta nelayan dan berdampak pada sekitar 40 juta warga. Proyek percontohan di Biak menunjukkan kenaikan pendapatan rata-rata hingga 60 persen, menunjukkan potensi besar transformasi ekonomi desa dan pesisir.

7. Penegakan hukum tegas dan pemberantasan korupsi

Prabowo menegaskan bahwa tidak ada investasi tanpa supremasi hukum. Pemerintah menyita sekitar 4 juta hektar perkebunan dan tambang ilegal, mencabut izin 28 perusahaan dengan total lahan lebih dari satu juta hektar, serta menutup sekitar seribu tambang ilegal. Selain itu, ratusan peraturan yang menciptakan ruang korupsi dan ketidakadilan telah dihapuskan untuk memperbaiki iklim usaha dan tata kelola pemerintahan.

8. Integrasi perdagangan global dan diplomasi ekonomi berbasis perdamaian

Indonesia membuka diri pada integrasi ekonomi global dengan menandatangani perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, Kanada, Peru, dan Eurasia, serta membangun kemitraan strategis dengan Inggris. Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dengan produksi tertinggi sepanjang sejarah dan menargetkan swasembada jagung, gula, dan protein dalam empat tahun. Indonesia juga menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit di Bali sebagai bagian dari komitmen pada pembangunan berkelanjutan dan diplomasi perdamaian.


Prabowo dan Rezim yang Runtuh

Sebelumnya

Bagaimana India Melihat Indo-Pasifik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional