Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DUA debat termashur sepanjang sejarah iptek adalah antara Niels Bohr lawan Albert Einstein tentang kuantum serta Noam Chomsky versus B.F. Skinner tentang proses belajar. Saya pribadi lebih berpihak ke Bohr dan Chomsky meski saya tetap menghormati dan menghargai Einstein dan Skinner.
Sebagai warga awam yang dibesarkan di lingkungan kebudayaan Jawa, wajar saya berikhtiar memelajari psikolinguistik Jawa tanpa berani dumeh merasa diri pasti benar. Di ranah protopsikologi Jawa dikenal beberapa istilah terkait karakter manusia yang menggunakan kata-ulang saling mirip meski tidak sama (lazimnya beda satu huruf) yaitu morat-marit, petakal-petakil, mencla-mencle, cengangas-cengenges, cekat-ceket, sat-set, gasrak-gusruk, compang-camping, gedebak-gedebuk atau plonga-plongo.
Akhir-akhir ini berkat jasa atau dosa seorang pejabat tinggi Indonesia yang tidak perlu saya sebut namanya di sini namun semua pasti tahu siapa beliau, istilah plonga-plongo menjadi popular. Wajar di alam kebebasan berpendapat semesta demokratis, hadir pula para antisimpatisan dan simpatisan sang pejabat tinggi sehingga muncul dualisme dalam tafsir terhadap plonga-plongo.
Para antisimpatisan menganggap plonga-plongo adalah sikap kepribadian buruk citra kedunguan, kegoblokan, kebodohan, kebebalan, kepandiran yang ditampilkan oleh para “bolo dupak” semisal Buto Cakil dan Burisrawa pada mitologi pewayangan. Pendek kata, plonga-plongo tidak pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat.
Sebaliknya, para simpatisan meyakini plonga-plongo adalah sikap kepribadian jati diri citra kejujuran, ketulusan, indera humor tinggi, kerendahan hati, kearifan seperti yang ditampilkan oleh para Punakawan pada mitologi pewayangan yang sangat dihormati oleh para kesatria bahkan dewata.
Gejala sikap plonga-plonga juga tampak pada diri Batara Narada yang senantiasa setia mendampingi Batara Guru. Pendek kata, plonga-plongo pada saat-saat tertentu dianggap pantas bagi seorang pejabat tinggi yang seharusnya menjadi panutan rakyat jelata seperti halnya para Punakawan terutama pada diri Bagong yang mewarisi sikap arif bijaksana Ki Semar Badranaya, di balik tabir citra keplonga-plongoannya.
Menurut versi wayang purwa, Ki Semar Badranaya dalam hal kesaktian flatulisme alias angin perut atau kentut tiada tanding di jagad raya ini.
Sungguh di luar niatan naskah sederhana ini untuk berani melibatkan diri ke dalam kemelut polemik plonga-plonga secara politis. Sungguh tidak ada mens rea menyelinap di lubuk sanubari saya.
Naskah sederhana ini sekadar secara subyektif ingin mengungkap rasa hormat, kagum dan takjub saya pribadi terhadap daya kreatifitas kakek-nenek moyang Nusantara dalam menggunakan tutur-kata kaya makna dan matra.


KOMENTAR ANDA