post image
Sigmund Freud
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SETELAH membaca karya-karya Sigmund Freud tertuang di dalam “Studien über Hysterie”, “Die Traumdeutung”, “Zur Psychopathologie des Alltagslebens”, “Drei Abhandlungen zur Sexualtheorie”, “Totem und Tabu”, “Zur Einführung des Narzißmus”, “Jenseits des Lustprinzips”, “Die Zukunft einer Illusion”, “Das Unbehagen in der Kultur”, “Neue Folge der Vorlesungen zur Einführung in die Psychoanalyse” etc, etc. saya menyimpulkan bahwa Sigmund Freud lebih mahir menulis secara memikat pembaca ketimbang Karl Marx.

Dan harus saya akui juga bahwa Freud sangat kreatif dalam mencipta istilah bersuasana intelektual-akademis seperti ego, super ego, id, alam bawah sadar, Kompleks Oedipus, parapraxis, transference, katarsis, proyeksi, sublimasi, displacement, denial, et cetera et cetera termasuk istilah psikoanalisa itu sendiri.

Tidak semua teori Sigmund Freud, saya setuju karena banyak di antaranya justru memicu gejala self fullfiling idea alias gagasan yang membenarkan dirinya sendiri meski senarnta tidak benar. 

Semisal Oedipus Complex malah menimbulkan masalah dalam hubungan internal antar keluarga terutama antara anak dengan ibu yang rawan memusuhi ayah. Terjadi fenomena yang semula begitu akibat terus-menerus dianggap begini maka yang begitu akhirnya benar-benar menjadi begini. Hubungan internal keluarga yang semula sebenarnya tidak bermasalah akibat teori Kompleks Oedipus yang dipetik dari mitologi Yunani kuno, justru benar-benar menjadi bermasalah.

Sebagai penggagas humorologi, saya menilai Sigmund Freud gagal dalam upayanya mengulas humor melalui buku Der Witz. Freud terjebak di dalam perangkap makna lelucon padahal lelucon memang merupakan bagian dari humor namun humor an sich jauh lebih luas dan kompleks ketimbang lelucon. Memang lelucon merupakan satu di antara jenis humor namun humor bukan hanya lelucon.

Terkesan Sigmund Freud gemar menggeneralisir melalui analisa terhadap pasien-pasiennya padahal setiap pasien memiliki karakter dan kasus masing-masing yang saling beda satu dengan lain-lainnya. Pada hakikatnya keunikan setiap pasien tidak layak dipukul-rata alias digeneralisasikan sebagai konsep akibat lebih bersifat konstekstual ketimbang konsepsual.

Analisa terhadap setiap kasus lebih bersifat subyektif ketimbang obyektif. Maka menurut pendapat subyektif saya, sebenarnya Sigmund Freud tidak layak disebut sebagai Bapak Psikologi sebab lebih pantas disebut sebagai Bapak Psikoanalisa yang sekadar merupakan sub-disiplin psikologi. Di alam semesta ilmu perilaku kontemporer Sigmund Freud tercatat sebagai sejarah belaka. Psikoanalisa yang semula menelaah Das Sein lambat namun pasti sudah bergeser ke arah Das Sollen terutama dalam bentuk psikologi positif yang kemudian bermetamorfosa menjadi neurosains.

Sigmund Freud juga kerap melalaikan faktor lingkungan kebudayaan. Dapat dibuktikan dengan eksperimen tentang seorang warga pedesaan Indonesia yang semula waras. Apabila sang insan dianalisa dengan teori Sigmund Freud dikhawatirkan bahwa warga pedesaan yang semula waras itu malah menderita gangguan mental.

Sigmund Freud yang dilahirkan kemudian tumbuh kembang di lingkungan kebudayaan urban Eropa sebelum hijrah ke Amerika Serikat, sulit – demi menghindari istilah mustahil -- mafhum batin dan perilaku manusia yang berada di dalam lingkungan kebudayaan rural nun jauh di kecamatan Sayung, kabupaten Demak, pantura Jawa Tengah, Indonesia.


Sadarkah Trump atas Perbuatannya?

Sebelumnya

Burung Hantu Bukan Hantu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana