post image
Dari kiri ke kanan: Benjamin Netanyahu, Ayatollah Ali Khamenei, Donald Trump
KOMENTAR

CNN.com baru saja melaporkan bahwa serangan Operasi Epic Fury pada Sabtu pagi waktu Iran, 28 Februari 2026, berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Informasi ini disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump. 

“Kematiannya menjadi kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka,” kata Trump, Minggu, 1 Maret 2026. 

Selain dari AS, informasi mengenai tewasnya Ayatollah Ali Khamenei juga disampaikan pihak Israel. Di Israel, preemptive strike ini dinamakan Operasi Roaring Lion.

“Presiden Donald Trump mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan besar-besaran AS dan Israel hari ini, yang menurut Trump akan berlanjut dengan pemboman berat sepanjang minggu,” tulis CNN.com.

Namun, dalam laporan yang sama juga disebutkan bahwa Iran mengklaim para pemimpinnya “save and sound”.

Trump dalam pernyataannya menegasakan bahwa tujuan utama dari Operasi Epic Fury ini adalah menggulingkan pemerintahan Teheran.

Sejauh ini media Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas.

Adapun Iran telah melakukan serangan balasan yang dimungkinkan dalam Pasal 51 Piagam PBB. Iran menyebut serangan balasan mereka ini pada skala yang belum pernah terjadi. Iran menyerang pangkalamn AS di negara-negara Teluk. Tidak sedikit juga rudal Iran jatuh di kawasan padat penduduk. 

Sementara itu militer AS melaporkan tidak ada korban jiwa di pihak AS. Tim kontra-terorisme FBI dalam keadaan siaga tinggi, dan Departemen Luar Negeri menyarankan warga AS di seluruh dunia untuk "meningkatkan kewaspadaan."

Sementara pemimpin Arab Saudi mengecam serangan Iran, Uni Emirat Arab menyebut konflik tersebut sebagai “momen bersejarah” di Timur Tengah yang memperlihatkan kegagalan pemimpin dunia untuk memastikan stabilitas kawasan.


Permusuhan Washington dan Teheran

Sebelumnya

Dinamika Industri Software dan Serangan Duet AS-Israel ke Iran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Politik Global