Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
DI alam semesta para mahapianis abad ke-20, nama Glenn Gould dan Friedrich Gulda menjulang sebagai dua puncak yang sama-sama cemerlang, namun diterangi oleh cahaya yang berbeda. Keduanya adalah pianis jenius, pemikir musik radikal, dan pembongkar ilusi tentang “tradisi”, “latihan”, bahkan “kesempurnaan”.
Mengenang mereka bukan sekadar mengenang dua virtuoso besar, melainkan merenungi kembali hakikat manusia di hadapan kejeniusan. Saya beruntung sekaligus tidak beruntung pernah berada dekat dengan satu di antara kedua beliau.
Pada masa awal studi musik saya di Jerman, hidup saya nyaris sepenuhnya didominasi oleh pianoforte. Saya berlatih dengan gelora semangat obsesif, rata-rata delapan jam sehari. Tuts piano menjadi medan askese; pengulangan menjadi doa.
Kesungguhan itu malah berdampak buruk yaitu saya berulang kali diusir dari kos-kosan karena dianggap terlalu berisik. Namun bagi saya, suara piano saat itu bukan kebisingan, melainkan satu-satunya jalan menuju makna.
Di tengah periode itulah saya memperoleh kehormatan mengikuti sebuah master class langsung dengan tidak kurang dari seorang Friedrich Gulda. Dengan kepolosan seorang murid yang percaya pada etos kerja keras, saya memberanikan diri bertanya: berapa jam beliau berlatih setiap hari.
Jawaban Gulda datang tanpa basa-basi, tegas mengguncang fondasi keyakinan saya. Beliau menegaskan bahwa sejak usia enam belas tahun, tidak pernah lagi “latihan”.
Latihannya berlangsung di atas panggung konser dengan repertoaer seluruh karya Mozart, Beethoven, Schubert, Schumann, Liszt, dan Brahms yang telah sepenuhnya hidup dan bersemayam di dalam sanubari serta kesadarannya.
Partitur baginya bukan tantangan, melainkan sekadar penanda. Kesaktian sight reading-nya mandraguna, hampir tak masuk akal. Pada saat itulah kesadaran datang dengan telak dan jujur bahwa Gulda memang seorang jenius. Sementara saya hanyalah seorang insan manusia biasa.
Saya tersadar bahwa diri saya tidak dianugerahi kejeniusan, tetapi harus ikhlas mewajibkan diri untuk bekerja, bersabar, dan terpaksa menerima batas-batasan diri dengan kerendahan hati. Ojo Dumeh!
Jika pengalaman ragawiah berjumpa Friedrich Gulda mempertemukan saya langsung dengan kejeniusan yang hidup dan bernapas, maka pengalaman saya dengan Glenn Gould sepenuhnya bersifat batiniah dan justru karena itu terasa relatif lebih impresif.
Saya tidak pernah berjumpa dengan sang mahapianis mahajenius kelahiran Toronto, Kanada. Kekaguman saya pada sang mahadewa pianoforte hanya terjalin dari kejauhan, melalui kesetiaan mengoleksi dan mendengarkan seluruh rekamannya.
Namun jarak fisik itu sirna seketika ketika saya pertama kali mendengar nada pembuka Partita No. 1 karya Johann Sebastian Bach ditafsirkan oleh Glenn Gould. Pada detik itu, sanubari saya meleleh hingga ke lubuk terdalam. Bukan karena keindahan semata, melainkan karena kejernihan jiwa yang seolah disuarakan tanpa sisa.
Kekaguman itu semakin merajalela ketika saya menyelami interpretasi-interpretasi Gould atas karya Brahms, Gibbons, Liszt dalam transkripsi, hingga Schoenberg sebagai rekaman-rekaman yang, bagi saya, tiada duanya dalam alam semesta ini maupun itu.
Gould tidak sekadar memainkan musik; ia memikirkannya, membedahnya, lalu menghidupkannya kembali dalam bentuk yang jujur, asketis, dan metafisis. Bukan resisutasi namun restrukturisasi, Gould menolak romantisme semu, menghindari tepuk tangan panggung, dan memilih kesunyian studio rekaman sebagai ruang kontemplasi sejati.
Sama halnya saya tidak pernah berjumpa Bunda Teresa, saya tidak pernah berkesempatan berjumpa langsung dengan Glenn Gould akibat kedua beliau telah lebih dahulu meninggalkan dunia fana. Tidak lama setelah merekam Goldberg Variations versi kedua, Gould wafat pada usia lima puluh tahun.
Kepergiannya terasa terlalu cepat, seakan dunia baru mulai memahami kedalaman visinya ketika ia memilih pergi. Yang tertinggal bagi kita hanyalah suara rekaman-rekaman yang terus berbicara, melampaui waktu, kesunyian, dan kematian. Glenn Gould menyadarkan saya bahwa rekaman adalah mesin waktu yang bisa abadi mengulang waktu.
Mengenang Glenn Gould dan Friedrich Gulda pada akhirnya membawa saya pada kesadaran sunyi bahwa kejeniusan bukanlah tujuan, melainkan anugerah yang tak dapat diminta. Yang bisa saya pilih hanyalah sikap jujur pada suara batin diri saya sendiri, setia pada kerja keras, dan berani menerima bahwa kenyataan bahwa perjalanan hidup setiap insan berbeda.
Di antara kejeniusan dan keterbatasan, di situlah harkat dan martabat manusia menemukan makna sejatinya. Mustahil saya mampu menjadi Friedrich Gulda atau Glenn Gould yang ke dua namun bukan mustahil bahwa saya bisa menjadi diri saya sendiri yang pertama.




KOMENTAR ANDA