post image
Ilustrasi AI
KOMENTAR

Oleh: Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific

PELEMAHAN Rupiah ke level Rp17.300/US$ merupakan tekanan eksternal yang harus dimanfaatkan pemerintah dan pelaku usaha sebagai katalis untuk mempercepat substitusi impor dan memperdalam struktur hilirisasi industri.

Angka Rp17.300 per dolar AS yang terpampang di layar terminal Bloomberg baru-baru ini bukan sekadar statistik moneter yang mendinginkan suhu di lantai bursa. Bagi para pelaku industri, angka itu adalah sirene peringatan. 

Selama berdekade-dekade, struktur ekonomi kita terjebak dalam pola yang nyaman namun rapuh: kita sangat bergantung pada ekspor komoditas mentah saat harga tinggi, namun terengah-engah saat nilai tukar melemah karena ketergantungan impor bahan baku yang masih akut. Pelemahan Rupiah kali ini harus dibaca melampaui urusan intervensi Bank Indonesia; ini adalah momentum emas untuk memaksa reorientasi industri nasional.

Sejujurnya, kita telah terlalu lama dininabobokan oleh nilai tukar yang stabil dan murah, yang secara tidak sadar membuat industri kita malas membangun kekuatan di sektor hulu. Ketika Rupiah melemah tajam, jeritan yang paling keras terdengar dari sektor manufaktur yang "perutnya" masih diisi oleh komponen impor. Inilah paradoks industri nasional: kita merakit di sini, tetapi nilai tambahnya terbang ke luar negeri. Jika kita terus merespons pelemahan kurs hanya dengan kecemasan, kita akan kehilangan peluang untuk melakukan transformasi struktural yang sudah lama tertunda.

Pelemahan Rupiah ini adalah "insentif alamiah" yang memaksa produk impor menjadi mahal dan produk domestik menjadi lebih kompetitif secara relatif.

Tesis utama yang harus kita pegang adalah bahwa kemandirian ekonomi tidak akan lahir dari kondisi yang nyaman. Pelemahan kurs harus dijadikan daya dorong bagi program substitusi impor yang lebih agresif. Pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada retorika "Cinta Produk Indonesia".

Momentum ini harus dibarengi dengan kebijakan industri yang berani untuk mengisi kekosongan rantai pasok di tingkat hulu dan antara. Mengapa kita masih mengimpor bahan kimia dasar atau komponen elektronik sederhana ketika kita memiliki sumber daya dan talenta yang cukup? Jawabannya seringkali karena impor lebih murah. Namun, dengan kurs di level saat ini, kalkulasi bisnis tersebut mulai berubah. Inilah saatnya pelaku usaha menghitung ulang kelayakan investasi di pabrik bahan baku domestik.

Hilirisasi yang telah dimulai di sektor pertambangan, seperti nikel, adalah prototipe yang baik, namun harus diperdalam. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada produk setengah jadi yang kemudian diekspor kembali hanya untuk diimpor lagi dalam bentuk barang jadi.

Kita membutuhkan hilirisasi yang "mengakar" ke bumi pertiwi, yang menghubungkan antara kekayaan alam dengan kebutuhan industri manufaktur di dalam negeri. Dengan Rupiah yang melemah, daya saing produk hasil hilirisasi kita di pasar global seharusnya meningkat tajam. Devisa yang dihasilkan dari nilai tambah ini akan menjadi bantalan yang jauh lebih kuat bagi stabilitas moneter dibandingkan sekadar mengandalkan arus modal panas (hot money) di pasar saham atau obligasi.

Tentu saja, banyak pihak yang berargumen bahwa kenaikan biaya produksi akibat kurs akan memicu inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Pandangan ini ada benarnya, namun bersifat jangka pendek. Jika kita selalu takut pada kenaikan biaya jangka pendek, kita akan selamanya terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah yang ekonominya didikte oleh volatilitas harga komoditas global.

Kita tidak bisa terus-menerus menjadi bangsa yang mengekspor tanah air dan mengimpor barang jadi. Risiko inflasi akibat barang impor harus dimitigasi dengan mempercepat produksi barang substitusi di dalam negeri, bukan dengan memaksakan nilai tukar kembali ke level yang tidak realistis secara fundamental.

Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial untuk hadir melalui kebijakan fiskal yang sinkron. Jika Bank Indonesia sudah bekerja keras di sisi moneter, maka kementerian terkait harus memberikan insentif pajak, kemudahan perizinan, dan jaminan ketersediaan energi bagi industri yang berfokus pada substitusi impor. Kita perlu menciptakan ekosistem di mana "pulang ke rumah" bagi rantai pasok industri menjadi pilihan bisnis yang paling rasional dan menguntungkan. Transformasi ini memang menyakitkan di awal, namun ia memberikan ketahanan jangka panjang yang tak ternilai harganya.

Kita harus belajar dari sejarah ekonomi banyak negara maju. Jepang dan Korea Selatan membangun kedigdayaan industrinya bukan saat mata uang mereka sangat kuat, melainkan melalui disiplin dalam membangun basis produksi domestik yang kuat saat menghadapi tekanan ekonomi. Pelemahan Rupiah saat ini adalah ujian karakter bagi nasionalisme ekonomi kita. Apakah kita akan terus mengeluh tentang mahalnya dolar, atau kita akan mulai membangun pabrik-pabrik yang tidak lagi butuh dolar untuk sekadar membeli baut dan baut pengikat mesinnya?

Sebagai penutup, angka Rp17.300 harus kita jadikan titik balik. Jangan biarkan pelemahan nilai tukar ini lewat begitu saja tanpa meninggalkan bekas pada perbaikan struktur industri kita. Jika kita berhasil melakukan reorientasi ini, maka di masa depan, ketika badai moneter global kembali datang, kita tidak perlu lagi panik menatap layar bursa.

Sebab, jantung industri kita sudah berdetak dengan tenaga sendiri, bukan lagi bergantung pada tetesan infus dari luar negeri. Stabilitas yang hakiki adalah stabilitas yang lahir dari produktivitas sektor riil yang tangguh, bukan sekadar angka di atas kertas kebijakan moneter.

Transformasi industri memang membutuhkan 'obat pahit' bernama depresiasi kurs; pertanyaannya kini, apakah kita cukup berani untuk menelannya demi kesembuhan ekonomi jangka panjang?


Pesawat Terlalu Berat, Lima Penumpang Diminta Keluar

Sebelumnya

Gegara Bau Kabin Tak Sedap Penerbangan JetBlue Dialihkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews