post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Oleh: Dahlan Iskan, Wartawan Senior 

TIDAK hanya saya yang tidak bisa kumpul keluarga di hari raya Idulfitri besok. Pun para masinis kereta, pilot, perawat, tentara, para satpam, polisi....

Kami masih bisa bersyukur: masih bisa hidup tenang. Bayangkan yang di Iran. Yang tiap hari digempur bom oleh Israel dan Amerika Serikat. Atau yang di Lebanon selatan: dihujani peluru Israel tiada henti. Tidak ada nuzulul Quran. Tidak ada lailatul qodar. Siang malam dihujani bom jarak jauh.

Bahkan, bisa jadi, di hari raya Idulfitri besok, di sana, serangan diperdahsyat lagi.

Pasukan khusus marinir Amerika Serikat sudah dalam perjalanan ke Iran. Dari pangkalan militer Amerika di Okinawa. Laporan media independen di Amerika menyatakan mereka sudah melewati Singapura --maksudnya: melewati Selat Malaka.

Itu sudah dua hari. Berarti besok sudah bisa tiba di Iran. Mereka adalah pasukan khusus yang amat terlatih. Mereka bisa bergerak tanpa komando. Bisa melakukan aksi sendirian maupun dalam grup kecil.

Pasukan itu amat terlatih. Termasuk berlatih di gurun pasir di California. Mereka bisa bertahan tanpa logistik.

Jumlah mereka 2.500 orang. Diangkut dengan kapal amphibi Tripoli. Saya bayangkan mereka akan ditugaskan seperti Rambo dalam film-film Amerika. Yang satu orang bisa mengalahkan 100 lawan bersenjata. Yang kalau tersudut bisa meloncati pagar berduri atau lautan api.

Mendaratnya pasukan khusus memerlukan kondisi khusus. Mereka harus dilindungi dari udara. Maka pengerahan pasukan akan dilakukan di darat dan di udara. Wilayah-wilayah yang akan dimasuki pasukan khusus itu tentu akan lebih dulu dibersihkan lewat udara.

Semua analis militer dunia yang saya ikuti berpendapat: kalau itu dilakukan Amerika akan fatal. Amerika masuk jebakan. Masuk medan pembantaian. Ini bukan di Hollywood. Ini di medan yang kejam. Mirip Afghanistan. Bukan mirip Vietnam apalagi Venezuela.

Tapi Presiden Donald Trump memang sudah sangat kecewa. Sudah dua minggu berperang Amerika belum bisa menggulingkan pemerintah Iran. Padahal perkiraan semula tujuan Amerika sudah akan tercapai dalam 48 jam.

Bahkan kini seluruh dunia mengecamnya: terutama setelah pasok energi dunia terhambat sangat berat.

Kekecewaan Trump lainnya: Trump sudah gembar-gembor persenjataan Iran sudah berhasil dimusnahkan. Hanya tersisa 10 persennya, bahkan tidak sampai. Tapi nyatanya Iran masih terus meluncurkan rudal dan drone dengan sasaran Israel dan pangkalan AS di negara-negara Teluk.

Kejengkelan Trump bertambah-tambah: negara sekutunya menolak ikut membantu. Jepang, Korea Selatan, Inggris tidak mau kirim pasukan. Trump sampai terlihat frustrasi dengan menyatakan ”tidak ada harapan lagi NATO punya masa depan”.

Betapa malunya: Trump akhirnya sampai minta tolong Tiongkok. Agar Tiongkok mau turun tangan. Lebih malu lagi: yang diminta tidak bersedia. Sampai Trump menyatakan akan membatalkan kunjungannya ke Beijing tanggal 31 Maret depan.

Jelaslah sehebat-hebat serangan udara tidak menghasilkan yang ingin dicapai. Memang serangan udara itu menewaskan tokoh utama Iran --dan banyak tokoh penting lainnya-- tapi tujuan Amerika mengganti pemerintahan Iran gagal.

Trump bukan orang yang mudah menyerah. Ia justru ingin membuktikan bahwa Amerika tidak mungkin bisa dikalahkan biar pun seorang diri. Itulah yang akan terjadi satu dua hari ini: Amerika akan menunjukkan kehebatannya di mata lawan pun sekutunya.

Di manakah 2.500 pasukan khusus itu akan mendarat? Di pantai? Diterjunkan dengan parasit? Langsung di jantung ibu kota Teheran? Atau diterjunkan di Iraq, dekat perbatasan dengan Iran?

Jangan-jangan mereka diterjunkan langsung di jantung ibu kota Teheran --dengan asumsi Teheran sudah ditinggalkan para pimpinan negara untuk menghindari serangan bom? Lalu dengan kemampuannya sebagai pasukan khusus menguasai satu sudut ibu kota --sebagai pijakan? Kemudian memperluasnya lewat operasi Rambo?

Trump tentu membayangkan operasi seperti itu. Di matanya itu sangat heroik. Sangat Amerika. Sangat Hollywood. Lalu rakyat di sana bangga kepadanya.

Tentu bisa saja pasukan khusus marinir itu tidak untuk melakukan pendaratan. Siapa tahu hanya untuk meningkatkan gertakan.

Hari ini atau besok puasa hari terakhir di bulan Ramadan tahun ini. Besok atau lusa adalah hari raya Idulfitri yang juga disebut sebagai hari kemenangan --menurut para juru khotbah di mimbar Idulfitri.

Umat Islam-lah yang mengakhiri berpuasa sebulan penuh. Amerika yang ingin meraih kemenangan di Idulfitri ini.


Otak Maextro

Sebelumnya

Pantat Kuda

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway