post image
Foto: Simple Flying
KOMENTAR

Dunia penerbangan internasional pekan lalu menyaksikan babak akhir dari maskapai berbiaya rendah (ultra-low-cost carrier) terbesar di Amerika Serikat, Spirit Airlines.

Maskapai yang identik dengan warna kuning cerah ini resmi menghentikan seluruh operasionalnya, meninggalkan ribuan staf tanpa pekerjaan dan memicu kekacauan bagi penumpang serta kru yang terdampar di berbagai jaringan rute mereka.

Akhir dari Kemelut Finansial

Kegagalan ini menutup sejarah panjang masalah keuangan yang diderita Spirit sejak pandemi COVID-19. Meskipun sempat ada secercah harapan melalui rencana dana talangan (bailout) dari pemerintah senilai $500 juta—yang akan memberikan pemerintah AS kepemilikan saham sebesar 90%—negosiasi tersebut akhirnya gagal total.

Tanpa dukungan dana, Spirit tidak memiliki pilihan lain selain berhenti terbang.

Sebelum resmi runtuh, Spirit sebenarnya telah melakukan berbagai upaya penyelamatan, termasuk membatalkan sejumlah rute dan memarkir sekitar 40 unit pesawat untuk menekan biaya operasional.

91 Pesawat Tersebar di 26 Bandara

Saat operasional dihentikan, sebanyak 91 jet keluarga Airbus A320 milik Spirit tertahan di 26 bandara di seluruh penjuru Amerika Serikat. Dua basis terbesar maskapai, Fort Lauderdale dan Orlando, menjadi lokasi dengan konsentrasi pesawat terbanyak.

Berikut adalah rincian 10 bandara dengan jumlah pesawat Spirit yang tertahan:

  1. Fort Lauderdale (FLL) sebanyak 17 pesawat
  2. Orlando (MCO) sebanyak 15 pesawat
  3. Dallas/Fort Worth (DFW) sebanyak 7 pesawat
  4. Newark (EWR) sebanyak 7 pesawat
  5. Las Vegas (LAS) sebanyak 6 pesawat
  6. Detroit (DTW) sebanyak 5 pesawat
  7. Miami (MIA) sebanyak 4 pesawat
  8. Chicago (ORD) sebanyak 4 pesawat
  9. New Orleans (MSY) sebanyak 3 pesawat
  10. Houston Intercontinental (IAH) sebanyak 3 pesawat

Migrasi ke Gurun Arizona

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pesawat mulai dipindahkan ke wilayah Arizona untuk penyimpanan jangka panjang. Berdasarkan data Flightradar24, pesawat-pesawat jenis A321-200NEO telah diterbangkan dari Houston, Fort Lauderdale, dan Miami menuju Pinal Airpark (MZJ) dan Goodyear (GYR).

Pemilihan lokasi di gurun Arizona bukan tanpa alasan. Kondisi udara yang kering dengan kelembapan rendah sangat ideal untuk menjaga integritas pesawat, mencegah korosi dan karat pada rangka pesawat secara efektif dan efisien.

Nasib Armada Spirit

Karena mayoritas armada Spirit berstatus sewa (lease), perusahaan penyewa (lessor) kini mulai mengambil alih kembali aset mereka untuk mencari operator baru. Namun, nasib berbeda menanti armada Airbus A321-200ceo yang dimiliki langsung oleh Spirit. Muncul spekulasi kuat bahwa pesawat-pesawat tersebut akan dibongkar untuk dijual suku cadangnya, terutama mesin GTF yang saat ini sedang sangat diminati di pasar global.

Penghentian operasional ini menjadi pengingat keras atas sulitnya persaingan industri penerbangan pascapandemi, bahkan bagi pemain besar sekelas Spirit Airlines.

 


Sengit, Penjualan Pesawat Sepanjang 2025 Dimenangkan Boeing

Sebelumnya

Uni Emirat Arab Borong 10 Pesawat Embraer C-390 Millennium

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews