Ini perkembangan menarik setelah kabar AS menenggelamkan enam kapal cepat Iran dan Iran mengklaim menembak kapal perusak AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, yang dikenal sebagai "Project Freedom", pada Selasa malam waktu setempat, 5 Mei 2026.
Penangguhan ini disebut akan berlangsung dalam "jangka waktu singkat" setelah adanya klaim kemajuan dalam pembicaraan dengan Teheran.
Trump menyatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan kesepakatan bersama karena adanya "kemajuan besar" menuju kesepakatan dengan Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut atas permintaan dari Pakistan, yang bertindak sebagai perantara komunikasi antara kedua negara. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap berlaku.
Reaksi Beragam dan Ketidakpastian Global
Keputusan mendadak ini mengejutkan banyak pihak, mengingat sebelumnya Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth berkomitmen penuh untuk menjamin kebebasan navigasi di Teluk Persia.
Media pemerintah Iran menyebut langkah ini sebagai kemenangan dan mengklaim Trump "mundur" setelah gagal membuka kembali jalur air vital tersebut.
Sementara Menlu AS Marco Rubio menyatakan bahwa serangan awal AS-Israel (Operasi Epic Fury) telah selesai setelah mencapai tujuannya, namun ia memperingatkan bahwa kehancuran ekonomi yang dialami Iran harus menjadi pelajaran bagi para pemimpin Teheran.
Situasi Keamanan yang Masih Rapuh
Meskipun ada pengumuman penangguhan, situasi di lapangan tetap mencekam. Serangan Kapal Kargo: Lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo terkena "proyektil tak dikenal" di Selat Hormuz tak lama setelah pengumuman Trump.
Konflik dengan UEA: Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan bahwa pertahanan udaranya mencegat rudal dan drone dari Iran selama dua hari berturut-turut, termasuk serangan terhadap pelabuhan minyak Fujairah.
Iran telah membantah keterlibatan dalam serangan tersebut. Sementara Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, mencatat bahwa Iran telah menyerang pasukan AS sebanyak 10 kali sejak gencatan senjata dimulai pada bulan April, namun intensitasnya masih "di bawah ambang batas" untuk memulai kembali perang skala penuh.
Upaya Diplomatik Selanjutnya
Penangguhan "Project Freedom" dipandang sebagai pertaruhan diplomatik. Di satu sisi, ini bisa membawa Iran kembali ke meja perundingan. Di sisi lain, jika gangguan terhadap pengiriman minyak global terus berlanjut selama masa jeda ini, kredibilitas kebijakan luar negeri AS di kawasan tersebut akan terancam.
Trump dijadwalkan akan melanjutkan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dengan Jepang, serta berencana mendiskusikan masalah ini dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam kunjungannya ke Beijing minggu depan.
Krisis ini bermula dari Operasi Epic Fury pada 28 Februari lalu, yang memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran—jalur yang melayani 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.




KOMENTAR ANDA