post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Maskapai raksasa Teluk, Qatar Airways, melakukan perombakan besar-besaran pada jadwal penerbangannya. Berdasarkan data terbaru dari Cirium Diio dan OAG, maskapai ini telah memangkas lebih dari 12 ribu rencana penerbangan untuk periode April dan Mei 2026, serta menangguhkan layanan ke lebih dari 60 destinasi di seluruh dunia.

Langkah drastis ini dibarengi dengan keputusan perusahaan untuk mengandangkan (grounding) seluruh delapan armada Airbus A380 yang biasanya beroperasi.

Seluruh Superjumbo Kembali ke Doha

Meskipun Qatar Airways memiliki total 10 unit pesawat "Superjumbo" A380, dua di antaranya telah disimpan sejak tahun 2020 dan kemungkinan besar tidak akan terbang lagi. Delapan pesawat sisanya, yang sempat beroperasi secara komersial pada Maret lalu, kini telah dipulangkan ke Doha dari berbagai lokasi penyimpanan sementara seperti Teruel (Spanyol), Bangkok, dan London.

Pengandangan ini menjadi faktor utama penurunan aktivitas pesawat double-decker tersebut secara global, yang tercatat turun sebesar 7% dalam satu minggu terakhir.

Rencana Kembali Beroperasi pada Juni

Jika tidak ada perubahan lebih lanjut, Qatar Airways menjadwalkan armada A380 untuk kembali mengudara pada 1 Juni 2026. Pada tanggal tersebut, direncanakan ada lima keberangkatan dari Doha menuju destinasi utama, yaitu:

  1. London Heathrow
  2. Bangkok Suvarnabhumi
  3. Singapura
  4. Paris CDG
  5. Sydney

Untuk periode Juni hingga Desember 2026, rute menuju Bangkok diprediksi akan menjadi jalur yang paling sering dilayani oleh A380 dengan frekuensi 10 kali seminggu, sebelum akhirnya dikurangi menjadi sekali sehari mulai November.

Penurunan aktivitas A380 tidak hanya dialami oleh Qatar Airways. Beberapa maskapai lain juga mencatatkan penurunan kapasitas pada pesawat jenis ini selama April dan Mei:

  1. Emirates: Layanan A380 turun 14%.
  2. Etihad Airways: Mengalami penurunan tipis sebesar 2% dibandingkan minggu lalu.
  3. Singapore Airlines: Menjadi satu-satunya operator non-Teluk yang mengurangi jadwal A380 (turun 6%) setelah menarik jenis pesawat ini dari rute Dubai.

Situasi ini mencerminkan dinamika pasar penerbangan global yang masih fluktuatif, memaksa maskapai-maskapai besar untuk terus menyesuaikan kapasitas armada mereka dengan permintaan pasar dan situasi geopolitik yang berkembang.

 


Sengit, Penjualan Pesawat Sepanjang 2025 Dimenangkan Boeing

Sebelumnya

Uni Emirat Arab Borong 10 Pesawat Embraer C-390 Millennium

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews