post image
@usairforce Lt. Gen. Clark Quinn, COMAETC, mengunjungi @airforcetestcenter di @edwardsairforcebase untuk memeriksa program T-7A Red Hawk./@@AETCommand
KOMENTAR

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) resmi memberikan lampu hijau kepada Boeing Defense untuk memulai produksi serial jet latih jet tempur terbaru mereka, T-7A Red Hawk. Keputusan ini diambil setelah pesawat tersebut berhasil melewati fase Milestone C pada 23 April 2024, sebuah tonggak krusial yang menandai kesiapan desain untuk diproduksi secara massal.

Menyusul pengumuman tersebut pada 4 Mei 2026, Boeing menerima kontrak senilai $219 juta (sekitar Rp3,5 triliun) untuk pengadaan 14 unit pertama dalam fase Produksi Awal Tingkat Rendah (Low-Rate Initial Production/LRIP).

T-7A Red Hawk bukan sekadar pesawat latih biasa. Pesawat ini merupakan platform pertama USAF yang dirancang dan dibangun sepenuhnya menggunakan metode digital. Teknologi ini memungkinkan pengembangan yang lebih cepat serta pemeliharaan yang lebih efisien di masa depan.

"T-7A adalah program penting bagi masa depan kekuatan udara tempur kami," ujar William Bailey, pejabat asisten sekretaris Angkatan Udara untuk akuisisi. "Masuk ke tahap produksi membawa kita selangkah lebih dekat untuk memberikan kemampuan esensial ini ke tangan para instruktur dan siswa pilot."

Rencana Jangka Panjang

Program pengadaan ini diproyeksikan mencakup total 351 unit T-7A dan 46 simulator pelatihan berbasis darat yang akan dikirim ke lima pangkalan Komando Pendidikan dan Pelatihan Udara (AETC) selama dekade berikutnya.

Beberapa poin penting dalam jadwal operasional meliputi Target IOC (Initial Operational Capability): Dijadwalkan pada tahun 2027, penggantian Armada di mana T-7A akan menggantikan T-38 Talon yang telah bertugas selama lebih dari 60 tahun. Juga untuk membangun sistem pelatihan masa depan di mana pesawat ini dirancang untuk melatih pilot yang akan menerbangkan jet tempur generasi ke-4, ke-5, hingga generasi ke-6.

Sempat Tertunda, Kini Kembali Sesuai Jalur

Meskipun kini telah memasuki tahap produksi, program T-7A sempat mengalami serangkaian penundaan akibat masalah teknis pada sistem kursi pelontar (egress system) dan performa pesawat pada sudut serang tinggi (high angle of attack).

Namun, serangkaian uji coba ketat sepanjang tahun 2025 telah menyelesaikan kekhawatiran tersebut. Pada April 2025, uji coba kursi pelontar kecepatan tinggi dinyatakan sukses.

Selain itu, pada Maret 2026, gelombang pertama teknisi pemeliharaan di Pangkalan San Antonio-Randolph telah menyelesaikan pelatihan kualifikasi Fase 1 untuk menangani pesawat canggih ini.

Brigadir Jenderal Matthew Leard dari AETC menegaskan bahwa kehadiran T-7A adalah prioritas utama.

"Sistem canggih pada T-7A akan memberikan lingkungan pelatihan yang jauh lebih realistis, memastikan siswa pilot kita siap menghadapi kokpit masa depan," pungkasnya.


P-8A Poseidon Increment 3 Block 2 Capai Kemampuan Operasional Awal

Sebelumnya

Israel Perkuat Kekuatan Udara, Tanker KC-46 “Gideon” Diterbangkan Perdana

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Militer