post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Maskapai Kazakhstan, Air Astana, tengah bersiap menyambut era baru penerbangan jarak jauh dengan kedatangan armada Boeing 787-9 Dreamliner mulai tahun ini. Meski demikian, ambisi maskapai untuk membuka rute langsung ke Amerika Serikat (AS) masih terganjal oleh isu geopolitik dan sanksi wilayah udara.

Dalam presentasi hasil kuartal pertama (Q1), CEO Air Astana, Ibrahim Canliel, mengonfirmasi bahwa unit pertama dari pesanan Boeing 787 tersebut dijadwalkan tiba pada September 2024.

"Pesawat 787 pertama akan datang pada September tahun ini," ujar Canliel. Ia menambahkan bahwa pada bulan-bulan awal, pesawat tersebut akan dioperasikan untuk rute-rute jarak pendek guna mempercepat pelatihan pilot dan awak kabin sebelum melayani rute transkontinental.

Kendala Wilayah Udara Rusia Meskipun Boeing 787-9 memiliki jangkauan terbang yang mumpuni untuk menghubungkan Kazakhstan dengan AS, masalah jalur penerbangan menjadi hambatan utama. Akibat situasi geopolitik saat ini, Air Astana dilarang melintasi wilayah udara Rusia.

"787 perlu terbang melalui rute yang saat ini tidak dapat kami operasikan karena sanksi. Masalah tersebut harus diselesaikan sebelum kami dapat mempertimbangkan operasi langsung ke AS," jelas Canliel.

Tanpa akses ke wilayah udara Rusia, penerbangan langsung ke Amerika Serikat menjadi jauh lebih jauh dan tidak efisien secara ekonomi bagi maskapai.

Ekspansi Armada Terbesar dalam Sejarah Pesanan Air Astana untuk Boeing 787-9 ini mencatatkan sejarah sebagai pembelian pesawat tunggal terbesar bagi maskapai tersebut. 

Kesepakatan yang ditandatangani pada KTT C5+1 ini mencakup total potensi hingga 18 pesawat, yang terdiri dari  15 pesawat pesanan langsung ke Boeing (5 pesanan pasti, 5 opsi, dan 5 hak pembelian) serta 3 pesawat tambahan melalui perusahaan penyewaan (leasing).

Kehadiran armada ini akan secara signifikan meningkatkan kapasitas jarak jauh maskapai yang saat ini hanya mengandalkan tiga unit Boeing 767-300ER lama.

Peningkatan Pengalaman Penumpang Selain jangkauan terbang, kehadiran Dreamliner diharapkan dapat meningkatkan daya saing Air Astana di pasar internasional. Canliel menjanjikan peningkatan signifikan pada pengalaman penumpang di semua kabin dibandingkan dengan armada saat ini.

"Pelanggan akan menyukai produk baru ini. Ini membawa peningkatan besar pada penawaran produk yang kami berikan," katanya.

Sebagai perbandingan, armada Boeing 767 yang ada saat ini menggunakan konfigurasi kursi kelas bisnis staggered 1-2-1 dan kelas ekonomi 2-3-2. Dengan Boeing 787-9, Air Astana menargetkan standar kenyamanan yang lebih tinggi untuk memperkuat posisinya sebagai pemain kunci dalam pasar penerbangan yang sedang berkembang di Asia Tengah.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga