post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

JIKA para sejarawan sibuk menapak tilas jalan Daendels atau sumpah Gajah Mada, maka ijinkan saya menapak tilas benda yang lebih sederhana tapi setia yakni lemari. Jangan tertawa dulu.

Peradaban manusia bisa dibaca dari dua hal: kuburan dan lemari. Kuburan menyimpan jasad, lemari menyimpan “kulit kedua”. Bedanya, kuburan ditangisi, lemari dikunci. Keduanya sama-sama penuh rahasia. Mari kita buka pintunya, pelan-pelan. Bunyi kriiieet adalah suara pembuka pintu sejarah.

Arkeologi menduga manusia mulai menyimpan sejak 3000 Sebelum Masehi. Di Mesir, para Firaun tidak mau masuk alam baka tanpa peti kotak berisi linen, parfum, dan sandal emas.

Di Yunani-Romawi, lemari disebut armarium, dari kata arma: senjata. Jadi cikal bakal lemari adalah gudang senjata dan gulungan kitab. Masuk akal: yang paling berharga memang harus dikunci. Berarti sebenarnya lemari lahir bukan untuk baju. Ia lahir untuk hal-hal yang kalau hilang, harga diri ikut hilang.

Sampai hari ini fungsinya tidak berubah. Coba cek lemari Anda. Isinya pasti: ijazah, BPKB, akte jual beli tanah dan bangunan, surat kawin, akte kelahiran,  catatan piutang (hutang jarang dicatat) dan baju kondangan kekecilan tapi tak rela dibuang. 

Masuk Eropa abad ke-14, peti berevolusi jadi cassone: peti kawin besar berukir adegan dari Kitab Suci. Fungsinya rangkap tiga: tempat mahar, tempat duduk tamu, dan—kalau pernikahan gagal—bisa jadi tempat sembunyi.

Di Nusantara, VOC membawa lemari pada abad ke-17. Kayu jati Jepara diukir motif Eropa. Seketika lemari jadi penanda status. Makin besar ukiran, makin tinggi derajat sosial. Inilah era “pamer lemari” pertama. Jika hari ini kita fleksing di Instagram, moyang kita pamer lemari di ruang tamu. Manusianya sama, etalasenya saja yang berubah.

Titik balik terjadi abad 19. Mesin bisa produksi engsel dan cermin murah. Lemari yang tadinya hak asasi bangsawan mendadak jadi hak asasi rakyat. Revolusi kedua: baju mulai digantung, bukan dilipat.

Mengapa? Karena munculnya "baju kerja" yang harus rapi. Lemari vertikal dengan gantungan adalah monumen tak langsung untuk jam kerja 8 jam sehari. Di sinilah lemari berhenti jadi brankas, mulai jadi “asisten”. Ia tidak lagi hanya menyembunyikan, tapi juga mempresentasikan. Baju digantung agar besok pagi kita bisa cepat tampil sebagai “manusia produktif”.

Tahun 1990-an, pabrik mebel makin mendemokratisasi lemari lewat sistem knock-down. Filosofinya: jika Anda tidak bisa beli lemari, maka rakitlah makna hidup Anda sendiri. Tahun 2026, kita punya smart wardrobe : lampu sensor, pewangi otomatis, cermin yang bisa bilang “Baju itu membuat Anda terlihat gendut”.

Teknologi terbaru, kegelisahan terbaru. Paradoksnya: tren Jepang-Korea justru mengajak kita membuang lemari. Marie Kondo bertanya: “Does it spark joy?” Kalau tidak, buang. Open rack dan minimalisme adalah perlawanan terhadap peradaban abad pertengahan. Dari kontemplasi pamer keberlimpahan menjadi Zen pamer kekosongan.

Sejarawan Fernand Braudel bersabda bahwa peradaban adalah “struktur jangka panjang”. Lemari adalah struktur itu. Ia menyimpan tiga lapis waktu .Masa Lalu : baju almarhum, ijazah SD, surat cinta pertama. Museum pribadi. Masa Kini: Seragam kerja, daster, stok mie instan, logistik bertahan hidup. Masa Depan: baju “nanti kalau kurus”, kado belum dibuka. Harapan.

Jean-Paul Sartre mungkin akan menegaskan bahwa eksistensi mendahului esensi. Lemari tak bermakna sampai Anda mengisinya. Tapi begitu diisi, ia balik menuntut Anda: ‘Jadilah orang yang pantas memakai isi gue’.” Terlaknat bebas memilih baju.

Lalu masih ada lemari es untuk menyimpan makanan yang segar maupun yang  basi sebab dibuang sayang.

Jadi, sebelum kita rebutan likes dan followers di media sosial, mari sekali-kali buka lemari masing-masing. Duduk di depannya. Tanya: “Dari semua yang kusimpan, mana yang benar-benar kubutuhkan, dan mana yang sampah?”

Sejarah membuktikan peradaban runtuh bukan saat ayam mati di lubung beras,  tapi saat lemari penuh barang yang tak pernah dipakai. Singkatnya: bereskan lemarimu, maka kau bereskan seperempat hidupmu.

Seperempat lagi lunaskan hutang. Separuh sisanya? Serahkan pada Tuhan. Que sera sera. Kriiieet. Pintu lemari saya tutup kembali.


Nama Pena

Sebelumnya

Cogito Ergo Sum Versus Sum Cogito Ergo

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana