post image
Presiden Perhimpunan Persahabatan Indonesia Maroko Dr. Teguh Santosa dan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini
KOMENTAR

PENUNJUKAN Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Kepala Pemerintahan menandai babak baru yang sangat penting dalam lintasan sejarah politik Kerajaan Maroko. Peristiwa monumental ini bukan sekadar pencapaian simbolis bagi kaum perempuan, melainkan buah dari visi visioner dan komitmen jangka panjang Yang Mulia Raja Mohammed VI dalam mengarusutamakan kesetaraan, memperkuat peran strategis perempuan di ruang publik, serta mendudukkan kompetensi dan meritokrasi sebagai tolok ukur utama kepemimpinan nasional.

Dalam wawancara khusus ini, dikupas lebih mendalam bagaimana lompatan historis tersebut terintegrasi secara harmonis dalam kerangka kesinambungan reformasi institusional, sosial, dan demokratis di Maroko. Wawancara ini juga merefleksikan bagaimana Maroko terus melangkah maju di kancah regional maupun internasional—meneguhkan posisi perempuan sebagai pilar utama pembangunan negara yang berpijak pada stabilitas, modernitas, dan keadilan.

Bagaimana pandangan Anda mengenai pengangkatan perempuan pertama sebagai Kepala Pemerintahan dalam sejarah Kerajaan Maroko?

Pengangkatan Ibu Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Kepala Pemerintahan merupakan tonggak penting dalam sejarah Kerajaan, sekaligus menjadi bagian dari proses yang telah dimulai oleh Maroko sejak bertahun-tahun lalu.

Sejak awal masa pemerintahan Yang Mulia Raja Mohammed VI—semoga Allah menolong Beliau—telah ada visi ke depan yang jelas untuk memperkuat status perempuan Maroko, memberdayakan mereka agar dapat mencapai posisi yang mengemban tanggung jawab, serta berkontribusi dalam kehidupan publik dan pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, pengangkatan seorang perempuan sebagai Kepala Pemerintahan bukanlah menandai awal dari proses ini, melainkan merupakan kelanjutan yang wajar dari proses tersebut. Kerajaan telah bergerak secara bertahap, mulai dari memperkuat hak-hak perempuan hingga memberdayakan mereka secara ekonomi dan sosial, yang kemudian dilanjutkan dengan meningkatkan kehadiran efektif mereka di berbagai tingkat tanggung jawab politik dan institusional.

Apa saja tonggak utama yang telah membentuk proses penguatan kehadiran perempuan Maroko dalam kehidupan publik dan posisi yang mengemban tanggung jawab?

Proses ini tidak dimulai hari ini, melainkan merupakan hasil dari visi visioner Yang Mulia Raja Mohammed VI—semoga Allah menolong Beliau—yang sejak awal masa pemerintahan Beliau berkomitmen untuk membuka jalan bagi perempuan Maroko guna mengakses posisi penuh tanggung jawab serta memainkan peran penting dalam melayani bangsa.

Maroko telah melalui serangkaian tonggak penting, termasuk reformasi Kitab Undang-Undang Hukum Keluarga (Moudawana) pada tahun 2004, yang diikuti dengan pengukuhan prinsip kesetaraan dalam Konstitusi 2011.

Namun, yang paling penting adalah bahwa kehadiran perempuan Maroko dalam posisi penanggung jawab bukanlah hal baru. Pengalaman mendiang Ibu Zoulikha Nasri adalah contoh nyata yang sangat jelas mengenai hal ini. Beliau menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Penasihat Yang Mulia Raja pada tahun 2000 dan tetap berada di posisi tersebut hingga akhir hayatnya pada tahun 2015. Selama bertahun-tahun itu, melalui kerja keras dan dedikasinya, beliau membuktikan bahwa kriteria untuk memegang tanggung jawab adalah kompetensi, keseriusan, dan kemampuan untuk memberikan hasil, bukan jenis kelamin.

Kasus ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Kerajaan telah menyaksikan sejumlah perempuan Maroko menduduki posisi kepemimpinan dan institusional penting, di antaranya Ibu Zineb El Adaoui yang memimpin Dewan Pengawas Keuangan Negara (Court of Accounts), serta Ibu Amina Benkhadra yang telah memegang tanggung jawab di sektor strategis seperti hidrokarbon dan pertambangan, di samping perempuan-perempuan lain yang telah mengemban jabatan setingkat menteri dan posisi senior lainnya.

Oleh karena itu, pengangkatan Ibu Fatima Ezzahra El Mansouri bukanlah awal dari proses ini, melainkan kelanjutan yang wajar darinya serta tonggak baru yang menegaskan bahwa perempuan Maroko telah membuktikan kemampuan mereka untuk memikul tanggung jawab dengan kompetensi dan tekad yang kuat.

Bagaimana proses ini berkontribusi terhadap pengembangan institusi dan mekanisme partisipasi dalam kehidupan politik serta pengambilan keputusan?

Proses ini secara nyata telah memperkuat kehadiran perempuan di dalam institusi-institusi Maroko, baik dalam kehidupan politik maupun di berbagai posisi penuh tanggung jawab. Sebagai contoh, jumlah perempuan di DPR (House of Representatives) meningkat dari dua orang anggota parlemen perempuan pada tahun 1993 menjadi 96 orang anggota parlemen perempuan setelah pemilu 2021, yang mewakili hampir seperempat dari total anggota dewan.

Kehadiran ini juga telah meluas ke Korps Diplomatik dan Konsuler Maroko. Saat ini, perempuan menyumbang sekitar 40% dari total Konsul Jenderal Kerajaan, yang mencerminkan semakin meningkatnya kehadiran perempuan dalam posisi tanggung jawab diplomatik dan konsuler. Perkembangan ini menunjukkan bahwa perempuan Maroko mampu memikul tanggung jawab dan menjalankan tugas mereka dengan kompetensi serta kelayakan. Oleh karena itu, kriteria sejati dalam mengemban tanggung jawab adalah kompetensi, kelayakan (merit), dan kemampuan untuk memberikan hasil, bukan jenis kelamin.

Hal ini sepenuhnya sejalan dengan visi visioner Yang Mulia Raja Mohammed VI—semoga Allah menolong Beliau—untuk membuka jalan bagi bakat perempuan dan memberdayakan perempuan Maroko agar dapat berkontribusi secara penuh dalam kehidupan nasional dan pengambilan keputusan.

Apa arti penting pengambilalihan posisi Kepala Pemerintahan oleh seorang perempuan dalam kaitannya dengan perkembangan politik dan institusional yang sedang berlangsung di Kerajaan?

Pengangkatan Ibu Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai Kepala Pemerintahan merepresentasikan tahap baru dalam kehidupan institusional Kerajaan, sekaligus menegaskan bahwa perkembangan ini berlangsung dalam kerangka kesinambungan dan stabilitas.

Hal ini secara jelas mencerminkan visi visioner Yang Mulia Raja Mohammed VI—semoga Allah menolong Beliau—yang didasarkan pada upaya mendampingi evolusi masyarakat dan mengembangkan institusi dengan tetap menjaga kesinambungan serta prinsip-prinsip fundamental Negara. Tonggak sejarah ini menunjukkan bahwa pembangunan dan kesinambungan bukanlah hal yang saling bertentangan, dan bahwa institusi-institusi negara mampu beradaptasi dengan transformasi sosial tanpa kehilangan landasan dan stabilitas mereka.

Oleh karena itu, langkah ini bukan sekadar peristiwa simbolis; melainkan merepresentasikan tahap baru dalam evolusi institusi Maroko, di mana simbolisme memberikan jalan bagi pelaksanaan tanggung jawab, pencapaian hasil nyata, dan pemenuhan harapan warga negara.

Sebagai perempuan pertama yang memegang posisi tingkat tinggi ini dalam sejarah Kerajaan, pesan apakah yang disampaikan oleh peristiwa penting ini kepada para mitra internasional?

Pesan mendasarnya adalah bahwa Maroko terus mengembangkan institusinya sesuai dengan jalurnya sendiri dan dengan cara yang selaras dengan evolusi masyarakat serta lembaga-lembaganya. Pengangkatan Ibu Fatima Ezzahra El Mansouri juga mencerminkan kepercayaan terhadap bakat perempuan Maroko serta kemampuan mereka dalam memikul tanggung jawab tertinggi. Kendati demikian, perkembangan ini tidak boleh dilihat secara terpisah dari proses yang telah dilalui Maroko selama beberapa tahun terakhir.

Peristiwa ini juga memiliki gaung di luar batas Kerajaan, khususnya di ruang lingkup Arab, Afrika, dan Mediterania, karena mencerminkan sebuah negara Maroko yang terus berevolusi secara bertahap dan merangkul perubahan, namun tetap menjaga stabilitas serta kesinambungan institusinya. Pesan yang paling penting adalah bahwa mengemban tanggung jawab bukanlah masalah jenis kelamin, melainkan masalah kompetensi, kelayakan, kemampuan untuk memberikan hasil, dan komitmen untuk mengabdi kepada bangsa.

Apa arti peristiwa ini bagi generasi masa depan, dan bagaimana preseden bersejarah ini dapat menjadi fitur normal dalam kehidupan institusional Kerajaan?


Dubes Kuba di Jakarta Kecam Kerusakan Akibat Blokade AS

Sebelumnya

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia