post image
Penempatan pasukan China dalam latihan perang yang digelar di bulan Agustus 2022./AP
KOMENTAR

Setelah sempat menaikkan ketegangan di kawasan, pemerintah Republik Rakyat China (RRC) akhirnya menghentikan latihan militer di sekitar Taiwan, Sabtu (25/5). Latihan perang ini sangat berbahaya, kesalahan sekecil apapun dapat menyebabkan terjadinya perang besar.

Latihan yang diberi judul "Pedang Bersama 2024" mengujicoba serangan yang melibatkaan ratusan jet tempur dan kapal perang ke target.

Latihan perang dimulai sejak Kamis pagi (23/5), ketika pesawat dan kapal angkatan laut mengepung Taiwan untuk melakukan simulasi serangan terhadap target sasaran penting.

Latihan dimulai tiga hari setelah Lai Ching-te dilantik sebagai presiden baru Taiwan. China mengecam pelantikan itu sebagai pengakuan kemerdekaan.

Jurubicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian mengatakan pada Jumat bahwa Lai telah mendorong Taiwan ke dalam situasi perang yang berbahaya akibat pidatonya.

“Setiap kali kemerdekaan Taiwan memprovokasi kami, kami akan mendorong tindakan penanggulangan kami selangkah lebih maju, hingga reunifikasi penuh tanah air tercapai,” katanya.

Taiwan sendiri diketahui telah mempunyai pemerintahan sendiri sejak tahun 1949, ketika kaum nasionalis melarikan diri ke pulau itu menyusul kekalahan mereka dari Partai Komunis China dalam perang saudara di daratan.

Namun sampai saat ini, Beijing masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sehingga membuat mereka terus meningkatkan kampanye intimidasinya dengan latihan militer skala besar dalam beberapa tahun terakhir ini.

"Latihan tersebut sengaja menyimulasikan serangan yang menargetkan para pemimpin Taiwan serta pelabuhan dan bandaranya untuk memotong 'pembuluh darah' di pulau itu," kata analis militer China kepada media pemerintah.

Latihan perang China di sekitar Taiwan sesungguhnya kerap kali terjadi. Seperti di bulan Agustus 2022, dalam latihan perang China secara sengaja mengelilingi Taiwan.

Menanggapi latihan perang itu, pemerintah Taiwan mengecam tindakan yang dilakukan China yang disebut dapat mengganggu keamanan nasional kawasan itu.

“Provokasi sepihak China baru-baru ini tidak hanya merusak status quo perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan tetapi juga merupakan provokasi terang-terangan terhadap tatanan internasional,” kata juru bicara Kantor Kepresidenan Karen Kuo.


Hadapi Peraturan Baru China, Filipina Tingkatkan Patroli Laut

Sebelumnya

Pasukan TNI Desak Mundur OPM, Tewaskan Danis Murib

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Global Politics