Lalu, saat semua mata tertuju ke Narsaq, rudal Tomahawk justru terbang ke gurun Iran. Siapa tahu, kan? Dalam Transactional Politics ala Trump, kekacauan adalah tangga. Trump tidak butuh mineral Greenland sebanyak ia butuh "nama" di peta. Ini soal Empire Cosplay. Ambisi psikologis untuk memperluas teritori.
Sama seperti Putin ingin mengembalikan Uni Soviet, Trump ingin dikenang sebagai Presiden yang "memperbesar" Amerika. Nafsu ini tidak punya rem. Venezuela kemarin. Greenland hari ini. Iran besok?
Menunggu Giliran
Kita di Indonesia, harus membaca ini dengan napas tertahan. Posisi kita agak mirip Greenland. Kita punya nikel. Kita punya bauksit. Kita punya tembaga. Semuanya. Kita adalah "gadis cantik" di tengah kerumunan preman pasar global.
Saat ini, kita aman karena kita pandai menari "bebas aktif" di antara dua gendang: Beijing dan Washington. Tapi lihatlah Greenland.
Mereka mencoba mandiri dengan UU No. 20 (melarang Uranium). Mereka mencoba berdaulat. Hasilnya? Mereka kini terjepit juga. Perusahaan Australia (proksi Tiongkok) menuntut ganti rugi USD 11,5 Miliar. Membangkrutkan negara lewat Asymmetric Lawfare.
Sementara Amerika datang membawa ancaman aneksasi. Kedaulatan di era Critical Mineral War ini mahal harganya. Malam ini, sambil mengaduk capcay hangat di Denpasar, saya membayangkan wajah-wajah pucat di Eropa. Mereka sadar, persahabatan transatlantik sudah mati.
Amerika bukan lagi Paman mereka. Ia kini menjadi raksasa yang lapar. Di Narsaq, kapal nelayan memecah es. Suaranya “krak, krak” seperti tulang punggung NATO yang akan segera patah.
Di bawah cahaya Aurora yang membisu, hantu-hantu geopolitik tersenyum tipis. Entah besok pagi tank akan mendarat di atas es Greenland, atau rudal akan menghujani reaktor Iran.
Dunia sedang tidak baik-baik saja. Dan kita masih ada waktu untuk bisa memesan satu porsi lagi, sambil menatap menunggu giliran.


KOMENTAR ANDA