post image
Montase dari akun Facebook Ismail Amin
KOMENTAR

Media Barat menggambarkan situasi di dalam negeri Iran begitu kacau: kerusuhan di mana-mana dan pemerintah melakukan kekerasan untuk menundukkan demonstran. 

Potongan-potongan video singkat yang memperlihatkan demonstrasi hingga malam hari, juga deretan kantong mayat memperkuat narasi yang dikembangkan untuk menyudutkan Republik Islam Iran. Keputusan pemerintah memutus jaringan internet digunakan kelompok ini untuk menyebarluaskan propaganda dan narasi hoax. 

Baru belakangan, bermunculan video dari kelompok masyarakat sipil Iran yang memperlihatkan dukungan mereka pada pemerintah dan Republik Islam Iran. 

Seorang mahasiswa asal Indonesia, Ismail Amin, dalam salah satu postingnya di Facebook juga ikut memberikan kesaksian mengenai situasi normal di dalam negeri Irang. 

Sejak 2023 Ismail Amin menuntut ilmu Al Mustafa International University di Qom, Iran.

Berikut narasi yang disampaikan Ismail dalam postingnya:

Saya di mana selama ini? Ada kok. Cuman memang saya tidak bisa memberikan kabar dan berita apa-apa sebab jaringan internet diputus. Mengapa diputus, (padahal) katanya Iran aman-aman saja. Oke saya jelaskan:

Pada malam Jumat (8/1), sesuai seruan Pahlevi (Reza Pahlevi, putra Shah Reza Pahlevi penguasa Iran yang digulingkan tahun 1979) untuk turun ke jalan menyuarakan penolakan pada sistem, turun seribuan orang ke jalan serentak dibanyak kota. Mereka teriak-teriak di jalan meminta warga untuk juga bergabung dengan mereka. Namun mereka tidak mendapat sambutan, sehingga mulai bertindak onar. Warga yang menolak dipaksa, diancam bahkan ada yang dikeroyok, dan sampai mati. Aparat keamanan yang menjaga pun diserang tiba-tiba, tidak sedikit dari perusuh bersenjata. 

Mereka membakar apa saja yang mereka temui, bis, mobil pribadi warga, halte bis, bak sampah, ATM, bank, sampai masjid. Bahkan di Rasht rumah sakit 6 lantai dibakar oleh mereka. Di Teheran terhitung 25 masjid yang dibakar. Ribuan perusuh -lebih tepatnya disebut pengacau keamanan- melakukan aksi pengrusakan ini secara massif dan serentak dibanyak kota di Iran.

Sebenarnya kebijakan memutus jaringan internet terhitung terlambat, sebab para perusuh masih sempat melakukan koordinasi dalam menjalankan aksi-aksi mereka. pukul 21 malam, saya sudah tidak bisa mengakses internet lagi. Kondisi kota yang terbakar oleh kebrutalan para perusuh saya tatap nanar di siaran live di TV.

Siapa perusuh itu? Apa mewakili suara rakyat Iran? 

Tidak.

Faktanya pada Jumat pagi rakyat Iran turun ke jalan mengecam aksi brutal mereka (kelompok perusuh). 

Iran bagaimana? Tetap aman dan terkendali. 

Tidak ada pejabat dan pimpinan militer dan kepolisian yang terdampak oleh aksi kekerasan itu. Pemerintahan tetap berjalan dan kondisi tetap stabil. Bahkan pagi hari jam 9, pertemuan akbar Ayatullah Khamenei bersama ribuan warga Qom tetap berjalan sesuai agenda. Dia tidak kabur dengan aksi anarkis perusuh yang membakar fasilitas publik. 

Memang tidak bisa dipungkiri, Iran terpukul dengan insiden ini. Tapi Iran tidak tersungkur. Iran memang terluka, tapi Iran masih berdiri. Dan yang pasti rakyat Iran masih berdiri tegak bersama pemimpinnya.

Untuk Teheran, 100 aparat keamanan dan warga sipil yang menjadi korban jiwa. Di Qom ada dua aparat keamanan yang meregang nyawa dikeroyok perusuh. Namun ketidak hadiran warga di jalan sangat membantu aparat mengidentifikasi para perusuh. Dalam sehari 600 orang ditangkap di seluruh Iran. 

Mereka disergap di tempat persembunyian mereka bersama alat-alat kejahatan mereka: senjata api, bahan peledak dan alat komunikasi. Pemutusan internet juga mempermudah langkah aparat membekuk para perusuh. Mereka kehilangan kontak dan tidak lagi bisa berkoordinasi satu sama lain terutama mendapat arahan dari dinas intelijen asing. 

Star link yang mereka punya nyaris tidak berfungsi karena disadap dan diacak konfigurasinya. Bahkan menjadi senjata makan tuan, yang mempermudah intelijen melacak titik koordinat dan lokasi mereka. Satu demi satu mereka ditangkap. Sebagian ditembak mati saat penyergapan karena melawan.

Sejak Jumat bahkan sampai hari ini, rakyat Iran tidak henti-hentinya turun ke jalan. Mereka menunjukkan solidaritas nasional. Mengecam kerusuhan dan mengutuk keterlibatan asing dalam kerusuhan yang direkayasa dan terorganisir tersebut. 

Pada Senin (12/1) jutaan rakyat Iran serentak turun ke jalan menyatakan dukungan pada Republik Islam Iran mereka juga menyatakan kesetiaan pada kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei. 

Lautan manusia yang menggulung kota-kota Iran sekaligus menggulung berita-berita sampah dari media internasional yang menyebut Iran telah hancur dan rezim Islam di Iran telah tumbang. Juga suara propagandis Zionis dan Wahabi pekok yang sempat kegirangan melihat Iran terbakar.

Saya sendiri gimana? 

Ya gak ada akvitas rutin yang berubah. Tiap pagi saya masih rutin antar anak ke sekolah. Jadwal ujian anak-anak juga tidak ada yang ditunda. Semua berjalan normal. Masih ke masjid juga bersama keluarga. Saya juga masih ke pasar berbelanja kebutuhan harian, ke taman sore hari.


Tokoh Oposisi Venezuela Bertemu Trump, Menyerahkan Medali Hadiah Nobel

Sebelumnya

Kuba Sambut 32 Jenazah Tentara yang Tewas dalam Tugas Melindungi Maduro

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global