TAHUN 2001 menjadi lembaran paling mendebarkan dalam karier jurnalistik Teguh Santosa. Saat dunia terpaku pada runtuhnya menara kembar di New York, Teguh, yang mewakili Rakyat Merdeka, justru bergerak melawan arus menuju jantung konflik. Ia diterjunkan ke Uzbekistan, namun bukan untuk menikmati keindahan arsitektur Tashkent, melainkan menuju Termez, sebuah kota militer di ujung selatan yang menjadi pintu masuk ke neraka perang Afghanistan.
Termez bukanlah destinasi wisata. Kota ini adalah titik strategis di mana Uni Soviet dahulu meluncurkan invasi ke Afghanistan pada 1979 melalui Jembatan Persahabatan (Friendship Bridge). Kedatangan Teguh di Termez pada tahun 2001 menempatkannya pada posisi saksi mata yang sangat langka, tepat ketika Amerika Serikat dan sekutunya bersiap melakukan serangan balasan terhadap rezim Taliban dan Al-Qaeda.
Di Termez, Teguh merasakan ketegangan yang pekat. Sebagai wartawan muda, ia harus berhadapan dengan pengawasan ketat dari aparat keamanan Uzbekistan yang dikenal sangat paranoid terhadap orang asing di wilayah perbatasan. Namun, ketajaman instingnya membuat ia mampu menembus batasan tersebut, mengamati pergerakan logistik militer yang mulai menumpuk di sepanjang Sungai Amu Darya.
Teguh yang kini adalah Direktur Geopolitik GREAT Institute mencatat bagaimana Sungai Amu Darya menjadi saksi bisu kesiagaan tempur. Dari tepian sungai tersebut, ia bisa melihat daratan Afghanistan di seberang sana yang diselimuti debu dan ketidakpastian. Pengalaman ini memberikan perspektif yang sangat emosional baginya; ia tidak hanya melihat peta konflik, tetapi juga melihat manusia-manusia yang terjebak di antara dua kepentingan besar.
Salah satu fokus liputan Teguh di Termez adalah keberadaan Jembatan Persahabatan yang saat itu ditutup untuk lalu lintas umum. Ia menggambarkan jembatan itu sebagai simbol paradoks: dinamai persahabatan, namun menjadi jalur mesin perang. Tulisan-tulisannya di Rakyat Merdeka saat itu memberikan gambaran visual yang kuat kepada publik Indonesia tentang betapa dekatnya dunia dengan eskalasi perang besar.
Selama di Termez, Teguh juga menyoroti persiapan bantuan kemanusiaan. Ia mengunjungi gudang-gudang PBB yang mulai diisi dengan gandum dan obat-obatan. Di sini, sisi kemanusiaan Teguh sangat menonjol; ia menuliskan kekhawatiran akan nasib warga sipil Afghanistan yang akan segera menghadapi musim dingin di tengah kecamuk pengeboman.
Teguh juga merekam atmosfer di pasar-pasar lokal Termez yang tetap berdenyut meski di bawah bayang-bayang perang. Ia melihat bagaimana pedagang lokal menyikapi kehadiran jurnalis internasional dan personel militer asing. Baginya, ketangguhan masyarakat Termez menghadapi situasi darurat adalah pelajaran berharga tentang daya tahan hidup manusia di garis depan.
Interaksi Teguh dengan tentara penjaga perbatasan Uzbekistan memberikan gambaran tentang betapa ketatnya kedaulatan dijaga. Ia harus berkali-kali menunjukkan identitas persnya dan menjelaskan maksud kedatangannya. Pengalaman “kucing-kucingan” dengan birokrasi militer ini mengasah mentalitasnya sebagai wartawan lapangan yang tidak mudah menyerah oleh tekanan otoritas.
Teguh tidak hanya menulis dan melaporkan berita; ia menyusun analisis mendalam mengenai potensi gelombang pengungsi. Ia memprediksi bahwa jika Termez dibuka sebagai koridor kemanusiaan, maka kota kecil ini akan menjadi pusat perhatian dunia. Prediksi tersebut terbukti akurat ketika beberapa waktu kemudian bantuan internasional mulai mengalir deras melalui jalur tersebut.
Pengalaman di Termez ini menjadi fondasi bagi pandangan geopolitik Teguh di masa depan. Ia belajar bahwa kebijakan luar negeri sebuah negara sering kali ditentukan oleh apa yang terjadi di perbatasannya. Pelajaran ini ia bawa hingga ke level akademis, di mana ia sering menggunakan studi kasus Termez untuk menjelaskan teori keamanan regional dan diplomasi perbatasan.
Keberanian Teguh di Termez juga mencerminkan gaya jurnalisme Rakyat Merdeka yang saat itu memang sedang naik daun. Ia membawa gaya laporan yang lugas, apa adanya, dan terkadang berisiko tinggi. Di tengah debu perbatasan, ia membuktikan bahwa jurnalis Indonesia mampu bersaing dengan kantor berita global dalam menyajikan berita dari garis depan.
Teguh juga mencatat peran Rusia yang masih sangat terasa di Termez. Meskipun Uzbekistan sudah merdeka, jejak-jejak militer dan pengaruh Moskow di wilayah perbatasan selatan masih sangat dominan. Observasi ini memberinya pemahaman mendalam tentang konsep “halaman belakang” Rusia di Asia Tengah yang nantinya berguna saat ia menganalisis konflik-konflik pasca-Soviet lainnya.
Di penginapan sederhana di Termez, Teguh berbagi cerita dengan jurnalis asing lainnya. Pertukaran informasi ini memperluas cakrawala berpikirnya tentang standar jurnalisme internasional. Namun, ia tetap mempertahankan karakteristiknya yang khas Indonesia: ramah, mudah bergaul, namun tetap kritis terhadap setiap informasi yang diterima.
Perjalanan ke Termez adalah sebuah “api unggun” bagi Teguh Santosa. Ia merasakan dinginnya malam di gurun dan panasnya situasi politik yang bisa meledak kapan saja. Pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinannya yang tenang namun taktis, yang kelak ia terapkan saat menakhodai Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).
Teguh melihat bahwa Termez adalah kunci. Tanpa akses melalui Termez, operasi bantuan ke Afghanistan utara akan lumpuh. Dari sinilah ia memahami pentingnya infrastruktur strategis dalam diplomasi internasional, sebuah pemikiran yang kemudian ia hubungkan dengan berbagai isu konektivitas global lainnya.
Sekembalinya dari Termez, tulisan-tulisan Teguh menjadi salah satu laporan paling komprehensif tentang situasi perbatasan utara Afghanistan di media nasional Indonesia. Ia berhasil membawa pembacanya hadir di tepi Sungai Amu Darya, merasakan desingan angin dan ketegangan tentara penjaga perbatasan.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, kenangan tentang Termez tetap segar di ingatan Teguh. Saat ia berbicara di PBB mengenai isu Sahara Barat, ia sering menarik garis paralel tentang bagaimana wilayah perbatasan dan sengketa lahan bisa berdampak besar pada stabilitas dunia, persis seperti yang ia lihat di Termez.
Pengalaman tahun 2001 itu membuktikan bahwa Teguh Santosa bukan sekadar jurnalis di balik meja. Ia adalah praktisi lapangan yang pernah mencium bau debu perang di salah satu titik paling menantang di dunia. Hal ini memberinya legitimasi moral saat ia berbicara tentang etika jurnalistik di daerah konflik.
Bagi Teguh, Termez adalah titik di mana ia belajar tentang batas-batas kemanusiaan. Ia melihat bahwa di balik senjata dan kebijakan politik, ada rakyat jelata yang hanya ingin hidup tenang. Empati inilah yang kemudian menjadi landasan perjuangannya dalam isu-isu kemanusiaan di berbagai belahan dunia lainnya.
Dua puluh paragraf ini merangkum sebuah perjalanan heroik seorang wartawan Indonesia di tanah Uzbekistan yang keras. Termez 2001 bukan sekadar penugasan, melainkan sebuah transformasi intelektual bagi Teguh Santosa, mengubahnya dari seorang pelapor berita menjadi seorang pemikir diplomasi dan pemimpin media yang disegani.




KOMENTAR ANDA