Oleh: Hendra Manurung1 dan Dimas Aprilian2
LAUT CHINA SELATAN (LCS) telah lama menjadi salah satu kawasan paling strategis di dunia, tidak hanya letak posisi yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia, tetapi juga berlimpahnya kekayaan sumber daya alam.
Di tengah krisis energi global yang terus berlangsung, rivalitas antara China dan Amerika Serikat (AS) di perairan sengketa ini semakin memanas. Kedua negara adidaya tersebut saling klaim, membangun kehadiran militer, dan memperebutkan pengaruh, sementara dunia internasional menyaksikan dengan cemas bagaimana ketegangan kedepannya semakin memperparah kerentanan pasokan energi global.
Laut China Selatan merupakan jalur pelayaran tersibuk kedua di dunia setelah Selat Malaka. Setiap tahun, sekitar sepertiga perdagangan maritim global dan lebih dari setengah kapal tanker minyak dunia melewati perairan ini.
Tidak mengherankan jika kawasan ini menjadi pusat perhatian geopolitik. China mengklaim hampir seluruh wilayah LCS berdasarkan peta garis sembilan putus kontroversial, sementara AS bersama sekutunya seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan menolak klaim tersebut dengan mengacu pada hukum laut internasional (UNCLOS 1982).
Putusan Arbitrase Permanen tahun 2016 yang memenangkan posisi Filipina terhadap China semakin memperuncing konflik. China menolak putusan tersebut dan terus melanjutkan program reklamasi lahan serta pembangunan pangkalan militer di berbagai pulau dan karang yang dipersengketakan.
Sementara itu, AS secara konsisten melakukan operasi kebebasan berlayar (freedom of navigation operations) di dekat wilayah yang diklaim China sebagai bentuk penegakan hukum internasional.
Dampak Rivalitas terhadap Pasokan Energi. Krisis energi dunia yang dimulai sejak pandemi COVID-19 dan diperparah oleh konflik berkepanjangan di Ukraina hingga perang Iran vs Israel-AS telah menciptakan kerapuhan sistem internasional.
Negara-negara Eropa selama ini berjuang mencari alternatif sumber energi selain Rusia, sementara harga minyak dan gas alam terus melonjak. Dalam konteks inilah memahami sejauh mana rivalitas China-AS di LCS menjadi krusial. Sebagai jalur utama transportasi energi dari Timur Tengah dan Afrika ke seluruh Asia Timur, gangguan sekecil apa pun di LCS dapat menyebabkan lonjakan harga energi global.
China sebagai negara pengimpor minyak mentah terbesar dunia sangat bergantung pada kelancaran jalur ini. Lebih dari 80 persen impor minyak China melewati perairan LCS. Oleh karena itu, kontrol atas kawasan ini bukan hanya persoalan kedaulatan, tetapi juga terkait ketahanan energi nasional.
AS menyadari ketergantungan China ini dengan terus memperkuat kehadiran militer di kawasan, Washington berupaya menciptakan efek pencegahan terhadap ekspansi Beijing sekaligus memastikan jalur perdagangan tetap terbuka untuk sekutu-sekutunya seperti Jepang dan Korea Selatan.
Namun, langkah ini justru sewaktu-waktu meningkatkan risiko konfrontasi langsung.
Ancaman Blokade dan Perang Dagang Energi
Skenario terburuk yang dikhawatirkan sehubungan kemungkinan China menerapkan blokade di LCS terhadap perlintasan kapal-kapal. Jika hal itu terjadi, dampaknya terhadap krisis energi dunia akan menjadi bencana.
Filipina, Vietnam, dan negara-negara ASEAN lainnya akan kehilangan akses pasokan energi. Jepang dan Korea Selatan yang hampir sepenuhnya mengimpor energi dari Timur Tengah akan menghadapi krisis ekonomi. Dunia akan memasuki resesi berkepanjangan.
Sebaliknya, jika AS dan sekutunya berhasil memblokade aktivitas China di kawasan tersebut, Beijing selanjutnya akan kehilangan akses ke sumber daya energi vital. China mungkin terpaksa mengandalkan jalur pipa dari wilayah Rusia dan Asia Tengah, yang kapasitasnya masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan industri raksasa tersebut. Konsekuensinya, ekonomi China bisa kolaps, memicu efek domino ke seluruh rantai pasok global.
Persaingan Eksplorasi Sumber Daya
LCS selain jalur perdagangan juga menyimpan cadangan minyak dan gas alam signifikan. Perkiraan menunjukkan bahwa kawasan ini mengandung sekitar 11 miliar barel cadangan minyak dan 190 triliun kaki kubik gas alam. China, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei masing-masing telah melakukan eksplorasi di blok-blok yang tumpang tindih klaimnya.
China melalui perusahaan milik negara seperti CNOOC secara agresif melakukan pengeboran eksplorasi di sekitar Kepulauan Paracel dan Spratly. Vietnam dan Filipina juga melakukan eksplorasi di wilayah yang diklaim China. Bentrokan diantara kapal-kapal patroli China dengan kapal nelayan atau kapal riset negara lain sudah sering terjadi.
Dalam konteks krisis energi dunia, tekanan untuk mengeksploitasi sumber daya ini semakin besar. Setiap negara di kawasan ingin mengamankan cadangan energi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan global yang tidak pasti dan mahal.
Respons Negara-Negara ASEAN
Sejumlah negara ASEAN dalam rivalitas ini berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka membutuhkan dukungan AS untuk menahan ambisi ekpansionis China. Namun di sisi lain, ketergantungan ekonomi mereka pada perdagangan dengan China sangat besar.
Indonesia, Malaysia, dan Vietnam mencoba memainkan peran penyeimbang dengan tidak secara terbuka memihak salah satu kekuatan. Selanjutnya, upaya untuk menyelesaikan sengketa melalui Code of Conduct di LCS yang dirundingkan China dan ASEAN terus berjalan tetapi sangat lambat. Sejumlah negara ini khawatir jika rivalitas terus berlanjut tanpa penyelesaian damai, akan terjadi perang proksi yang menimbukan korban.
Krisis Energi sebagai Pemicu Eskalasi




KOMENTAR ANDA