Dalam narasi perjuangan yang panjang, sosok seperti ini sering ditempatkan berdampingan dengan tokoh-tokoh sejarah yang melawan kekuasaan besar pada zamannya:
Ali bin Abi Thalib,
Khalid bin Walid,
Mehmed II,
Salahuddin al-Ayyubi,
Sultan Hasanuddin,
Teuku Umar,
Mahatma Gandhi,
Tan Malaka,
Sutan Sjahrir,
Sudirman,
dan Abdul Haris Nasution.
Sejarah memang selalu menilai para pemimpin dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memujinya sebagai pembela martabat bangsa. Ada pula yang mengkritiknya dari sudut pandang lain.
Namun satu hal yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun:
Korban perang selalu manusia biasa.
Anak-anak.
Orang tua.
Rumah yang hancur.
Sajadah yang berubah warna.
Ramadhan seharusnya menjadi musim menahan amarah manusia. Tetapi di banyak tempat di dunia, ia justru menjadi saksi bahwa kekuasaan sering kali lebih keras daripada doa.
Dan pada akhirnya, yang tersisa dari semua ledakan itu bukanlah kemenangan.
Yang tersisa hanyalah senja—
dan pertanyaan tua umat manusia:
Sampai kapan darah harus menjadi harga dari ambisi kekuasaan?
Di sajadah yang memerah itu, kemanusiaan sedang diuji. Bukan hanya di Iran. Tetapi di hati kita semua.


KOMENTAR ANDA