Hegseth adalah nasionalis Kristen yang membawa ideologi teokratis ke Pentagon.
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate
PETE Hegseth (45 tahun) bukan Menteri Pertahanan biasa. Ia menyebut dirinya “Menteri Perang”, mengutip Mazmur 144 di konferensi pers, dan menyatakan “pemeliharaan Tuhan” melindungi pasukan AS di Iran (Wolf, CNN, 13/3/2026).
Dalam wawancara dengan CBS News, wartawan Major Garrett bertanya kepada Pete Hegseth apakah ia memandang perang melawan Iran dari perspektif agama.
Hegseth menjawab bahwa Amerika sedang melawan “fanatik agama” (religious fanatics) yang berusaha memperoleh senjata nuklir demi mewujudkan “kiamat agama” (religious Armageddon) versi mereka. Ia kemudian menambahkan bahwa para prajurit “membutuhkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa di saat-saat seperti ini.”
Beberapa hari kemudian, tidak lama setelah Hegseth menghadiri upacara pemindahan jenazah prajurit yang gugur di Dover Air Force Base, ia muncul dalam konferensi pers di Pentagon. Di hadapan wartawan, ia mengutip Mazmur 144: “Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang melatih tanganku untuk perang dan jari-jariku untuk bertempur.”
Kutipan kitab suci itu disampaikannya di saat yang sama ketika peti mati prajurit AS mulai berangsur pulang.
Lisa Lambert dari BBC (11/3/2026) melaporkan bahwa Hegseth membawa “gaya kombatif” (combative style) sebagai juru bicara perang, menjuluki musuh sebagai “teroris pengecut” (terrorist cowards) dan menyatakan “kami baru mulai berburu” (we have only just begun to hunt).
Setidaknya, ada tiga hal yang dapat kita jelaskan terkait sosok Hegseth.
Pertama, Hegseth adalah nasionalis Kristen yang membawa ideologi teokratis ke Pentagon.
Tato salib Yerusalem dan frasa “Deus vult” (bahasa latin, artinya “Tuhan menghendakinya” atau “God wills it”) di tubuhnya bukan sekadar aksesori. Dalam buku “American Crusade" (2020), ia menulis bahwa Amerika menghadapi “momen perang salib” dan harus melawan Islam sebagaimana “saudara Kristen seribu tahun lalu” (Wilson, Guardian, 12/3/2026).
Ia juga mengundang pendeta Doug Wilson—pendukung teokrasi—ke Pentagon. Robert P Jones menyebut ini “glorifikasi kekerasan atas nama Kristen” (Smith, Guardian, 8/3/2026).
Kedua, rekam jejaknya menunjukkan permusuhan sistematis terhadap Iran.
Sejak 2017, ia menyebut Iran sebagai “musuh bebuyutan Amerika”. Pada 2018 di Yerusalem, ia menyebut Iran adalah “gurita” dengan tentakel global (Wilson, 2026). Ia pun merayakan pembunuhan Jenderal senior Iran dalam Pasukan Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Qassem Suleimani (1957-2020) dan mengancam akan “melakukan sesuatu lagi”.
Trita Parsi menegaskan sentimen anti-Islam ini telah lama “meresap di kalangan Republik” (Wilson, 2026). Lambert mencatat bahwa Hegseth mengganti bahasa teknokratis pendahulunya dengan retorika “pejuang” yang penuh keberanian palsu, memproyeksikan “keperkasaan Amerika yang tak terkalahkan” (BBC, 11/3/2026).
Ketiga, gaya kepemimpinannya bombastis dan tidak kompeten, bahkan telah memicu upaya pemakzulan.
Saat enam tentara tewas di Kuwait, ia menyalahkan pers: “Berita utama hanya ingin membuat presiden terlihat buruk” (Smith, 2026). Brett Bruen menilai Hegseth gagal memberi penjelasan strategis dan berkata: “Kami butuh pemimpin yang memberi tahu apa yang terjadi dan mengapa, bukan sekadar keberanian palsu” (BBC, 12/3/2026).
Lebih serius lagi, pada Desember 2025, DPR (House of Representatives) mengeluarkan Resolusi 935 (H.RES.935) “Impeaching Peter B. Hegseth, Secretary of Defense of the United States, for high crimes and misdemeanors” untuk memakzulkan Hegseth atas dua pasal: pembunuhan dan konspirasi pembunuhan serta penanganan informasi rahasia yang ceroboh.
Pasal pertama menuduh Hegseth memerintahkan serangan terhadap perahu kecil di Karibia dengan instruksi untuk “membunuh semua orang”, termasuk menyerang kembali korban selamat yang terombang-ambing di laut—tindakan yang dilarang keras oleh Hukum Perang.
Pasal kedua menjabarkan bagaimana ia membocorkan rencana serangan rahasia di Yaman melalui grup chat Signal yang tidak aman, yang tanpa sengaja juga diikuti seorang jurnalis (lihat congress.gov, “H. RES. 935”, akses 14/3/2026).
Military Religious Freedom Foundation (MRFF), organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2005 untuk memastikan anggota Angkatan Bersenjata AS memiliki hak konstitusional mereka atas kebebasan beragama, mencatat sebanyak 200 keluhan tentang retorika “akhir zaman” (biblical “end times”) di kalangan komandan, bahwa “perang yang terjadi di Iran sekarang adalah bagian dari rencana ilahi dan kembalinya Yesus Kristus yang akan segera terjadi” (Smith, 2026; Braun, 2026).
Sesuatu yang berlawanan dengan visi MRFF, yakni “pemisahan gereja dan negara” sekaligus menunjukkan terjadi ‘peningkatan ekstremisme Kristen di militer.’
Terakhir, David Smith di Guardian (8/3/2026) menyebut Hegseth sebagai “a very dangerous person”, sebuah ungkapan yang patut dipikirkan dan dievaluasi oleh Trump atau oleh orang Amerika sendiri. Hegseth digambarkan Smith sebagai pribadi “yang sombong, bombastis dan tidak kompeten untuk memandu militer AS melewati konflik di Timur Tengah.”


KOMENTAR ANDA