Oleh: Jaya Suprana, Budaywan dan Pendidi MURI
SEMULA saya menduga bahwa Abu Nawas sama dengan Imam Hoja alias Nasreddin Hoja. Mereka berdua memang beda nama namun saya duga merupakan tokoh cerdas dan jenaka yang sama. Ternyata saya keliru.
Abu Nawas dan Imam Hoja memang sering keliru dianggap sama karena sama-sama tokoh cerita yang cerdas dan jenaka namun sebenarnya mereka berdua bukan tokoh yang sama. Konon Abu Nawas berasal dari Baghdad, Irak sementara Imam Hoja berasal dari Konya, Turkiye.
Abu Nawas hidup pada sekitar abad 8-9 Masehi pada era Abbasiyah sementara Imam Hoja hidup sekitar abad ke 13 Masehi. Abu Nawas kerap dikaitkan dengan Khalifah Harun ar-Rasyid sementara Imam Hoja dikaitkan dengan kaum Sufi dengan kemashuran merambah sampai ke Persia, Asia Tengah bahkan Balkan.
Memang ada tokoh sejarah bernama Abu Nuwas yang penyair serius namun dianggap lucu sementara Imam Hoja diyakini ada tanpa bukti-bukti historiografis yang menyakinkan bahwa dia memang tokoh nyata.
Harus diakui bahwa mereka berdua kerap dianggap termasuk semula oleh saya, sebagai insan yang sama apalagi kisah-kisah jenaka mereka berdua sama-sama bersifat folklor jenaka yang merakyat . Di sisi lain mereka berdua memang sama-sama “mengalahkan” orang berkuasa dengan akal serta sama-sama dimanfaatkan untuk kritik sosial.
Saya pribadi sangat mengagumi kecerdasan dan kejenakaan Abu Nawas mempermainkan Sultan Harun ar-Rasyid sehingga murka sampai kerap mempersonagratakan Abu Nawas.
Namun ibarat benci tapi rindu, sang penguasa Baghdad selalu kembali mengundang Abu Nawas ke istana untuk dimintai nasehat-nasehat bijak meski sering menyakitkan sanubari penguasa.
Sebagai penggagas humorologi, saya mengagumi kisah bagaimana Imam Hoja diundang untuk berkhotbah di masjid, lalu di atas mimbar, bertanya ke hadirin apakah mereka sudah tahu isi khotbah yang akan dikhotbahkan. Ketika hadirin serentak menjawab belum tahu, maka Imam Hoja mengomel buat apa berkhotbah di hadapan hadirin yang tidak tahu apa yang dikhotbahkan lalu segera meninggalkan masjid.
Kemudian Imam Hoja kembali diundang ke masjid yang sama untuk berkhotbah, dan hadirin serentak mengaku bahwa mereka sudah tahu apa isi khotbah Imam Hoja sehingga beliau menggerutu bahwa mubazir berkhotbah di hadapan hadirin yang sudah tahu apa isi khotbahnya lalu segera meninggalkan masjid.
Jemaah masjid tidak mau menyerah kalah maka kembali mengundang Imam Hoja ke masjid mereka. Kali ini mereka tidak sudi kalah cerdas dan licik maka separuh hadirin mengaku sudah tahu dan separuh hadirin lainnya mengaku belum tahu.
Ternyata Imam Hoja tetap lebih cerdas dan licik maka menyarankan separuh yang sudah tahu silakan memberitahu isi khotbah kepada separuh yang belum tahu. Kemudian Imam Hoja segera meninggalkan masjid!
Tidak diketahui apakah Imam Hoja pernah kembali diundang untuk berkhotbah di masjid tersebut.




KOMENTAR ANDA