Pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City yang semestinya menjadi pesta sepak bola paling meriah di dunia, justru diwarnai kelesuan di sektor penerbangan Amerika Serikat. Berdasarkan data industri terbaru, jumlah pemesanan tiket pesawat dari Eropa menuju New York merosot tajam hingga 15,8% untuk periode Juni dan Juli dibandingkan dengan tahun lalu. Angka ini menjadi alarm bagi industri penerbangan yang awalnya berharap mendulang lonjakan penumpang dari turnamen akbar ini.
Penurunan drastis ini dinilai tidak biasa, mengingat tahun pelaksanaan Piala Dunia umumnya memicu lonjakan arus wisata internasional secara masif. Keengganan para penggemar sepak bola untuk terbang melintasi Samudra Atlantik diduga kuat akibat rentetan kontroversi yang menyelimuti turnamen tahun ini. Isu-isu miring mulai dari karut-marut manajemen transportasi, lonjakan harga tiket pertandingan yang melambung tinggi, hingga skandal birokrasi menjadi pemicu utama surutnya minat suporter.
Kekecewaan publik semakin diperparah oleh insiden diplomatik yang menarik perhatian internasional, di mana seorang wasit asal Somalia ditolak masuk ke wilayah Amerika Serikat. Padahal, sang pengadil lapangan tersebut dilaporkan telah mengantongi dokumen perjalanan dan visa yang sah. Kasus ini memicu gelombang kritik dan meninggalkan kesan buruk bagi para penggemar global yang semula berniat meramaikan atmosfer Piala Dunia di negara tuan rumah.
Menurut data dari perusahaan analitik penerbangan Cirium yang dilansir oleh Reuters, kelesuan ini tidak hanya terjadi di New York. Secara akumulatif, pemesanan tiket dari bandara-bandara di Eropa menuju 16 kota penyelenggara Piala Dunia mencatat penurunan rata-rata sebesar 3,8% pada bulan Juni dan Juli. Dampak penurunan ini sangat signifikan mengingat 16 dari 48 tim yang bertanding dalam format baru Piala Dunia kali ini berasal dari benua Eropa.
Di kawasan New York, dampak penurunan ini paling dirasakan oleh Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) dan Bandara Internasional Newark Liberty yang menjadi gerbang utama penerbangan transatlantik. Meski angka pemesanan merosot tajam, Otoritas Pelabuhan New York & New Jersey (PANYNJ) tetap berupaya optimal menyambut kedatangan wisatawan asing dengan menyiapkan layanan multibahasa guna mengantisipasi kedatangan suporter yang tersisa.
"Seluruh materi informasi di bandara akan ditampilkan dalam lebih dari 10 bahasa, termasuk Inggris, Spanyol, Mandarin, Arab, Korea, dan Prancis. Langkah ini mencerminkan keberagaman wisatawan internasional yang diperkirakan tetap tiba di bandara kelolaan kami untuk menyaksikan Piala Dunia," tulis pihak PANYNJ dalam pernyataan resminya.
Menariknya, penurunan jumlah pemesanan tiket ini tidak sebanding dengan kapasitas kursi yang disediakan oleh maskapai penerbangan. Maskapai-maskapai besar asal Eropa tampaknya terlalu optimistis saat menyusun jadwal penerbangan jarak jauh mereka. Meskipun mereka sudah memprediksi adanya resistensi pasar terhadap perjalanan pasca-pandemi, penyesuaian kapasitas yang mereka lakukan ternyata belum cukup dalam untuk mengimbangi anjloknya permintaan.
Data penjadwalan Cirium menunjukkan bahwa pada bulan Juni 2026, jumlah penerbangan dari Eropa ke New York hanya berkurang 3,5% secara tahunan, yaitu turun dari 5.317 penerbangan menjadi 5.132 penerbangan. Namun, kapasitas kursi penumpang turun lebih cepat sebesar 6,6%. Tren ini mengindikasikan bahwa maskapai penerbangan menyiasati penurunan jumlah penumpang dengan mengoperasikan armada pesawat yang berukuran lebih kecil pada rute-rute yang ada.
Kondisi pada bulan Juli diproyeksikan sedikit lebih baik, di mana jumlah frekuensi penerbangan dan kapasitas kursi masing-masing hanya turun sebesar 3,4% dan 5.7% secara tahunan. Di tengah tren pemangkasan ini, beberapa maskapai justru mengambil langkah berani dengan menambah pasokan. Air France, misalnya, tercatat menambah 4.810 kursi ekstra melalui 20 penerbangan tambahan antara Eropa dan New York untuk mengakomodasi sisa permintaan pasar.
Di balik rapor merah industri penerbangan, ajang ini justru menjadi berkah tersendiri bagi para pencinta aviasi atau aviation geeks (avgeeks) di Amerika Serikat karena kedatangan berbagai armada piagam (charter) yang langka. Tim nasional Prancis, misalnya, mendarat di Boston Logan menggunakan Airbus A321neo kelas bisnis penuh milik La Compagnie. Sementara itu, tim Inggris menggunakan armada Airbus A350 Virgin Atlantic menuju Palm Beach, dan tim Spanyol memilih Airbus A350 Iberia untuk mendarat di Nashville, dilengkapi dengan Qatar Airways yang meluncurkan desain badan pesawat (livery) khusus bertema Piala Dunia 2026.




KOMENTAR ANDA