post image
Bekas sambaran petir di pesawat SriLankan Airlines dengan nomor penerbangan UL606 yang melayani rute dari Colombo menuju Sydney, 12 Juni 2026.
KOMENTAR

Penerbangan SriLankan Airlines dengan nomor penerbangan UL606 yang melayani rute dari Colombo menuju Sydney terpaksa melakukan pendaratan darurat tidak lama setelah lepas landas pada Jumat, 12 Juni 2026. Keputusan return to base (RTB) ini diambil setelah pesawat berbadan lebar tersebut dilaporkan tersambar petir yang mengenai salah satu mesinnya.

Sebagai langkah antisipasi dan demi menjaga keselamatan penerbangan, kru pesawat segera memutuskan untuk membatalkan perjalanan menuju Australia dan memutar balik kendaraan udara tersebut. Pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Bandaranaike, Colombo, dengan seluruh 207 penumpang dan 16 anggota kru dalam kondisi aman tanpa cedera.

Insiden ini langsung menarik perhatian luas di jagat maya setelah sejumlah video dan foto amatir beredar di media sosial. Unggahan dari para pengamat penerbangan dan akun pelacak penerbangan memperlihatkan adanya kobaran api singkat serta percikan api yang keluar dari sekitar mesin bagian kanan pesawat saat melakukan fase menanjak (climb).

Menurut data dari Aviation Safety Network, armada yang terlibat dalam peristiwa menegangkan ini adalah Airbus A330-243 dengan nomor registrasi 4R-ALH. Otoritas penerbangan sipil Sri Lanka mengonfirmasi bahwa insiden sambaran petir terjadi saat pesawat masih berada di dalam ruang udara domestik Sri Lanka, sehingga proses evakuasi udara berjalan cepat.

Meskipun visual api pada mesin sempat memicu kekhawatiran dan spekulasi mengenai tingkat keparahan kerusakan, pihak maskapai mengimbau publik untuk menunggu hasil investigasi resmi. Tim teknis dan penyelidik keselamatan penerbangan saat ini tengah melakukan inspeksi menyeluruh untuk mengukur dampak nyata dari sambaran petir tersebut.

Berdasarkan data operasional, pesawat berkode registrasi 4R-ALH ini ditenagai oleh dua mesin turbofan Rolls-Royce Trent 772B-60. Pesawat yang diproduksi pada tahun 2004 ini merupakan salah satu armada jarak jauh senior milik SriLankan Airlines, yang memiliki konfigurasi kursi 18 kelas bisnis dan 252 kelas ekonomi untuk rute-rute internasional.

Secara regulasi, pesawat komersial modern sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa untuk dapat menahan sambaran petir yang kerap terjadi di udara. Estimasi industri menunjukkan bahwa rata-rata satu pesawat jet dapat tersambar petir setidaknya satu hingga dua tahun sekali, di mana arus listrik biasanya dialirkan melalui jalur khusus pada rangka pesawat dan keluar kembali dengan aman.

Namun, munculnya percikan api pada mesin tetap dikategorikan sebagai situasi darurat yang memerlukan penanganan khusus. Oleh karena itu, tim mekanik wajib melakukan inspeksi pasca-penerbangan secara mendalam guna mengidentifikasi kerusakan struktural atau sistem internal yang mungkin tidak terlihat secara kasat mata.

Dalam pernyataan resminya, manajemen SriLankan Airlines menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan kru udara adalah prioritas tertinggi perusahaan. Guna meminimalkan dampak keterlambatan, pihak maskapai langsung menyiapkan pesawat pengganti yang akhirnya diberangkatkan pada pukul 05.51 waktu setempat untuk mengangkut kembali para penumpang ke Sydney.

Peristiwa penanganan darurat ini membuktikan efektivitas standar sertifikasi pesawat, kesiapan prosedur darurat, serta ketepatan latihan yang dijalani oleh kru kabin. Dibandingkan memaksakan penerbangan lintas samudra selama hampir 10 jam menuju Australia, keputusan cepat untuk kembali ke pangkalan perawatan dinilai sebagai langkah paling bijak dalam mitigasi risiko cuaca buruk.


Hasil Investigasi Kecelakaan Dreamliner Air India Belum Bisa Diumumkan

Sebelumnya

Piala Dunia FIFA 2026, Dunia Penerbangan AS Lesu

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel AviaNews