Ironisnya, krisis energi dunia justru menjadi katalis yang mengakselerasi eskalasi rivalitas. Ketika harga energi melonjak tinggi dan pasokan tidak pasti, setiap negara menjadi lebih agresif dalam mengamankan kepentingan energi domestik. China melihat kontrol atas LCS sebagai asuransi jangka panjang terhadap kemungkinan blokade oleh kekuatan Barat. AS mempersepsikan jika China berhasil menguasai kawasan tersebut, maka Beijing akan memiliki kekuatan untuk mendominasi aktivitas ekonomi Asia Timur.
Krisis energi juga membuat biaya operasi militer di kawasan semakin mahal. Sejumlah kapal perang dan pesawat tempur membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar. Inflasi energi yang tinggi memaksa Cina dan AS untuk memangkas alokasi anggaran di pos tertentu demi mempertahankan kehadiran militer di LCS. Hal ini kemungkinan besar menciptakan tekanan politik domestik yang dapat memicu tindakan tidak rasional.
Rivalitas China-AS di LCS bukan sekadar sengketa teritorial. Di tengah krisis energi dunia yang belum pernah terjadi sebelumnya, kawasan ini telah menjadi pusat dari perebutan supremasi global. Beijing dan Washington menyadari, siapa pun yang menguasai LCS akan memiliki pengaruh signifikan terhadap penguasaan pasar energi dunia. Namun disayangkan, kesadaran ini justru kian berpotensi mendorong eskalasi konflik.
Dunia internasional sudah lelah dengan kenaikan harga energi tinggi dan ketidakpastian pasokan akibat perang di Timur Tengah, dan masih harus menghadapi ancaman lain seperti potensi konflik terbuka di jalur perdagangan strategis.
Satu-satunya harapan, rasionalitas ekonomi dan kepentingan mempertahankan diri pada akhirnya akan mengalahkan ambisi geopolitik. Namun, dengan masing-masing pemimpin terus mengerahkan kekuatan militer, maka jalan menuju deeskalasi konflik semakin jauh.
Krisis energi mungkin segera berakhir, tetapi rivalitas di LCS akan terus menjadi pusaran ketegangan global untuk waktu lama.
Penulis:
1. Hendra Manurung, Dosen Tetap Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI)
2. Dimas Aprilian, Mahasiswa Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan RI (UNHAN RI)




KOMENTAR ANDA