Apakah kita sudah pasrah?
Yang paling mengkhawatirkan bagi saya, melihat dari jauh, adalah keheningan. Bukan keheningan yang tenang dan penuh keyakinan, melainkan keheningan yang terasa seperti kepasrahan. Seolah-olah Rp17.000 per dolar sudah menjadi new normal yang harus diterima, bukan masalah yang harus dipecahkan.
Di media masa, sudah sering melihat judul “Nilai Tukar Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa”, namun di satu sisi kita masih sibuk dengan hal-hal yang membuat rupiah semakin dalam, program-program andalan yang semakin membebani APBN, Independensi regulator dari nepotisme yang semakin dipertanyakan, dan lain sebagainya.
Taiwan tidak pernah bisa bersikap pasrah. Negara ini tidak punya kemewahan itu. Ancaman dari seberang Selat Taiwan memaksa Masyarakat untuk selalu waspada, selalu mempersiapkan diri, selalu mencari jalan keluar alternatif. Mungkin keadaan tersulitlah yang justru melahirkan ketahanan.
Indonesia, dengan segala kekayaan sumber daya alam, luas wilayah, dan besarnya populasi, seharusnya memiliki modal yang jauh lebih besar untuk merespons krisis. Yang dibutuhkan bukan sekadar sumber daya, melainkan kehendak politik dan kepemimpinan yang berani.
Optimisme yang tidak naïf
Saya tidak pesimis. Justru sebaliknya: krisis adalah cermin terbaik untuk melihat apa yang harus dibenahi. Pertumbuhan ekonomi 5,11 persen sepanjang 2025 di tengah tekanan global yang luar biasa adalah prestasi yang nyata. Inflasi terjaga di kisaran 2,65 persen. Bank Indonesia bergerak sigap mengintervensi pasar saat rupiah terguncang. Ini bukan negara yang sedang kolaps, ini negara yang sedang bertumbuh, dan perlu memperkuat fondasinya.
Dari Taipei, saya melihat sebuah ironi yang seharusnya jadi pengingat: negara yang paling dekat dengan moncong meriam justru bisa membuat mata uangnya stabil karena punya sesuatu yang dunia butuhkan dan tidak mudah mencarikan gantinya. Indonesia punya sumber daya alam luar biasa, populasi muda yang besar, dan posisi geopolitik yang strategis. Tapi semua itu perlu diubah menjadi kekuatan struktural yang nyata, bukan sekadar potensi di atas kertas.
Rupiah bukan sekadar angka di layar monitor. Ia adalah cerminan kepercayaan dunia terhadap ekonomi kita. Dan kepercayaan itu dibangun bukan dalam semalam, namu celakanya ia bisa dirobohkan dalam hitungan jam jika fondasinya rapuh.
Dunia sedang memanas. Tapi bukan berarti kita harus ikut terbakar. Bukan Soal Siapa yang Paling Dekat Perang, Tapi Siapa yang Paling Siap Menghadapinya. Karena pada akhirnya, ketahanan rupiah bukan hanya tanggung jawab Pemerintah, sudah saatnya seluruh ekosistem bergerak seiring.
Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili institusi tempat penulis bekerja.




KOMENTAR ANDA