Bruno Rodríguez Parrilla, Menteri Luar Negeri Kuba, menyampaikan pernyataan keras dalam Pertemuan Internasional Solidaritas dengan Kuba bertema “Untuk Dunia Tanpa Blokade: Solidaritas Aktif di Centennial Fidel” pada 2 Mei 2026. Ia mengutip ucapan Presiden Amerika Serikat malam sebelumnya yang menyebut Kuba akan segera dikuasai.
Menurut Rodríguez, Trump menyatakan bahwa setelah “kembalinya Iran”, AS akan mengirim salah satu kapal terbesarnya, mungkin USS Abraham Lincoln, ke perairan Kuba. Kapal itu disebut akan berhenti sekitar 90 meter dari pantai Kuba dan para pemimpin Kuba akan menyerah. Pernyataan itu ia anggap sebagai bentuk ancaman militer terbuka.
Ia juga menyoroti perintah eksekutif terbaru AS yang kembali menetapkan Kuba sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS. Rodríguez menyebut klaim itu sebagai kebohongan yang sudah usang. Untuk pertama kalinya, perintah tersebut memberlakukan sanksi sekunder yang bisa menargetkan siapa saja yang berhubungan dengan Kuba, bahkan tanpa keterkaitan ekonomi dengan AS.
Langkah itu dinilai sebagai penerapan blokade yang paling agresif dan belum pernah terjadi sebelumnya secara ekstrateritorial. Yang membuatnya semakin mengkhawatirkan adalah klausul yang tidak mewajibkan AS mempublikasikan daftar individu atau entitas yang disanksi. Tujuannya, menurut Rodríguez, adalah menciptakan efek intimidasi yang lebih luas.
Perintah eksekutif itu menunjuk sektor energi, militer, pertambangan, keamanan, dan keuangan sebagai prioritas tindakan terhadap Kuba. Namun yang lebih mengancam, kata dia, adalah lembaran fakta yang dibagikan pemerintah AS sehari sebelumnya. Dokumen itu merinci “keberhasilan militer” AS secara berurutan, yang ia tafsirkan sebagai penguatan ancaman militer.
Rodríguez mempertanyakan alasan yang bisa dipakai kekuatan besar untuk melakukan tindakan barbar dan brutal semacam itu. Ia bertanya apa alasan yang bisa membenarkan kematian puluhan pemuda Kuba dan Amerika, serta kehancuran yang akan ditimbulkan. Ia juga menimbang dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan jalur perdagangan serta penerbangan di timur AS.
Ia menegaskan bahwa Kuba memiliki kapasitas untuk mencegah dan mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan, serta penentuan nasib sendiri secara sosialis. Jika tidak ada negara yang bersikap hari ini, menurutnya, tak ada negara lain yang bisa bertindak berdaulat atau mempertahankan yurisdiksi hukumnya sendiri di masa depan.
Dengan nada yang lebih santai, Rodríguez menyinggung soal kapal induk AS yang berjarak 90 meter dari pantai Kuba. Ia bercanda bahwa Laut Karibia menjadi bergelombang jika ada kapal induk. Ia bahkan bertanya apakah kapal sebesar itu bisa diubah menjadi kapal niaga atau lantai dansa.
Meski bersiap menghadapi segala kemungkinan termasuk agresi militer langsung, Kuba tetap bertindak bertanggung jawab. Ia berharap akal sehat dan nalar akan menang sebelum AS melangkah ke petualangan berbahaya itu.
Rodríguez menutup dengan menegaskan bahwa tidak ada justifikasi untuk agresi terhadap Kuba. Kuba tidak mengancam siapa pun, bertahan karena dukungan internasional, dan akan membela diri dengan ide dan, jika perlu, dengan senjata.




KOMENTAR ANDA