post image
Ilustrasi ZonaTerbang
KOMENTAR

Iran dilaporkan telah menyerahkan counterproposal 14 poin kepada Amerika Serikat yang berisi tuntutan penghentian permusuhan secara permanen dan penarikan penuh pasukan AS dari kawasan Timur Tengah. Rencana itu disampaikan melalui perantara Pakistan, menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Langkah Iran ini merupakan respons terhadap proposal 9 poin yang diajukan Washington sebelumnya. Sementara AS menawarkan gencatan senjata selama dua bulan, Tehran mendorong tenggat waktu 30 hari untuk menyelesaikan isu-isu kunci.

Tehran menegaskan bahwa perundingan harus difokuskan pada “penghentian perang” dan bukan sekadar gencatan senjata sementara. Sikap ini menjadi pembeda utama dari pendekatan AS yang dinilai lebih jangka pendek.

Tuntutan Penarikan Pasukan dan Jaminan Keamanan  
Dalam proposalnya, Iran menuntut penarikan pasukan AS dari wilayah yang berada dekat perbatasan negaranya. Tehran juga meminta jaminan resmi bahwa AS tidak akan melakukan agresi militer di masa mendatang.

Selain aspek keamanan, Iran mengajukan langkah ekonomi sebagai bagian dari kesepakatan. Tuntutan itu mencakup pencabutan blokade laut, pembebasan aset Iran yang dibekukan, pelonggaran sanksi, serta pembayaran kompensasi.

Strait of Hormuz Jadi Sorotan

Proposal Iran juga mencakup penghentian permusuhan di berbagai front, termasuk di Lebanon. Isu regional lain yang diangkat adalah pembentukan mekanisme pemerintahan baru untuk Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang strategis.

Selat Hormuz selama ini menjadi titik ketegangan antara Iran dan Barat. Tehran menilai pengelolaan jalur tersebut perlu diatur ulang agar tidak menjadi sumber konflik.

Menunggu Respons Resmi AS

Iran menyatakan masih menunggu tanggapan resmi dari pihak AS atas proposal yang telah disampaikan. Media pemerintah Iran menyebut dokumen baru itu dikirimkan melalui Pakistan pada Selasa, 28 April 2026.

Situasi memanas setelah pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke Tehran dan kota-kota lain. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, sejumlah komandan senior, dan warga sipil.

Balasan Iran dan Gencatan Senjata April

Sebagai respons, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke Israel serta kepentingan AS di kawasan. Eskalasi sempat mereda setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April.

Pasca-gencatan senjata, delegasi Iran dan AS sempat bertemu di Islamabad untuk melakukan perundingan. Namun pertemuan itu gagal menghasilkan kesepakatan.

Dinamika Perundingan yang Berlarut

Proposal 14 poin terbaru menunjukkan Iran ingin penyelesaian yang lebih komprehensif dibanding sekadar jeda tempur. Tehran menekankan bahwa tanpa jaminan keamanan dan langkah ekonomi nyata, perdamaian akan sulit bertahan.

Di sisi lain, AS belum memberikan sinyal terbuka terhadap tuntutan penarikan pasukan. Posisi Washington sejauh ini masih menekankan gencatan senjata sebagai langkah awal.

Selat Hormuz dan Risiko Ekonomi Global

Usulan Iran untuk membentuk mekanisme baru di Selat Hormuz berpotensi menjadi isu paling sensitif. Jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap perubahan statusnya berdampak langsung pada ekonomi global.

Pengamat menilai permintaan kompensasi dan pencabutan sanksi juga akan menjadi hambatan utama dalam negosiasi. AS selama ini menolak mencabut sanksi tanpa konsesi besar dari Tehran.

Harapan dan Ketidakpastian

Dengan gencatan senjata yang masih berjalan sejak April, ruang diplomasi masih terbuka. Namun perbedaan mendasar antara proposal AS dan Iran menunjukkan jalan menuju perdamaian permanen masih panjang.

Keputusan Washington terhadap counterproposal 14 poin ini akan menjadi penentu arah konflik ke depan, apakah menuju de-eskalasi atau kembali memanas.


Trump Mau Duduki Kuba, Menlu Rodriguez: Kebohongan yang Sudah Usang

Sebelumnya

Trump: Konflik dengan Iran Telah Berakhir

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia