post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

China tidak menyalahkan Iran secara terbuka. Tapi tekanan diplomatiknya nyata.

Di PBB, China hampir pasti akan veto resolusi AS yang menuntut Iran hentikan serangan di Hormuz. China sudah veto resolusi serupa bulan April lalu dengan alasan resolusi itu bias dan bisa melegitimasi serangan AS ke Iran.

Jadi posisi China adalah: oposisi politik ke AS, tapi jaga stabilitas ekonomi. China tidak mau Iran hancur karena Iran adalah simpul penting dalam Belt and Road Initiative. Tapi China juga tidak mau perang panjang yang merusak dagang global.

Rusia: Penjamin Politik yang Kehabisan Amunisi

Rusia posisinya mirip China. Mereka juga likely veto resolusi AS di Dewan Keamanan.

Alasannya sama: resolusi itu tidak mengecam serangan AS-Israel ke Iran. Rusia melihat ini sebagai standar ganda Barat.

Secara militer, Rusia dan China masih rutin latihan gabungan “Maritime Security Belt 2026” dengan Iran di Bandar Abbas. Tapi itu lebih simbolik. Nyatanya, stok rudal Rusia sudah menipis karena disedot perang Ukraina. Moskow tidak punya kapasitas untuk resupply Iran dalam skala besar.

Jadi peran Rusia saat ini lebih ke political backer, bukan military enabler.

Serangan Fujairah: Pesan untuk Semua Pihak

Serangan Iran ke Fujairah 4 Mei 2026 bukan tanpa perhitungan. Fujairah adalah jalur pipa alternatif UEA jika Hormuz ditutup. Menyerang Fujairah berarti pesan Iran: “Tidak ada tempat aman jika Hormuz ditutup.”

Tiga warga India terluka dalam serangan itu. Iran sengaja tidak menyasar korban Barat untuk hindari eskalasi dengan AS dan Eropa.

Ini menunjukkan Iran masih main di batas merah. Mereka ingin menekan, tapi tidak ingin perang total.

Tiga Skenario Ke Depan

Berdasarkan pergerakan tiga kutub ini, ada tiga skenario:

Pertama. Gencatan Senjata 30 Hari Berjalan - 45%
AS-Iran capai kesepakatan sementara. Hormuz dibuka. Eropa jadi penjamin keamanan maritim. China jadi penjamin ekonomi Iran. Ini skenario paling mungkin, tapi rapuh. Bisa runtuh kalau Israel lanjut serang Hizbullah.

Kedua. Perang Proxy Membeku - 35%
AS-Iran berhenti bentrok langsung. Tapi Israel tetap gempur Hizbullah dan Houthi. Iran balas lewat proxy di Yaman dan Irak. Hormuz dibuka sebagian, tapi premi asuransi tetap tinggi. Ini status quo yang melelahkan semua pihak.

Ketiga. Eskalasi Total - 20%
Jika nego gagal atau Israel serang fasilitas nuklir Iran, maka Iran akan benar-benar tutup Hormuz pakai ranjau dan rudal pantai. Harga minyak tembus $200. AS harus buka blokade militer penuh. China dan Rusia tidak akan ikut militer langsung, tapi akan pasok Iran secara diam-diam.

Siapa Penentu Akhir?

Jawaban singkatnya: bukan AS, bukan Iran, bukan Israel.

China yang pegang kunci ekonomi Iran. Tanpa minyak yang dibeli China, ekonomi Iran runtuh dalam 3 bulan. Jadi kalau Beijing tekan Teheran, Iran akan menurut.

Rusia yang pegang kunci politik di PBB. Satu veto Rusia bisa menggagalkan semua resolusi AS. Tapi Rusia juga tidak mau perang meluas karena mereka sedang terikat di Ukraina.

Eropa yang pegang kunci ekonomi-maritim. Kapal perang Eropa yang bisa turunkan premi asuransi dan buka jalur dagang tanpa harus perang. Ini memberi AS dan Iran ruang untuk mundur tanpa kehilangan muka.

Jadi perang Teluk 2026 adalah perang di mana tiga aktor non-combatant yang justru jadi penentu akhir.

Implikasi untuk Indonesia

Sebagai negara yang 80% impor energi juga lewat jalur Selat Malaka, Indonesia harus belajar dari ini. Selat sempit adalah titik lemah geopolitik.


NATO Perkuat Pertahanan Udara Hadapi Ancaman Rusia

Sebelumnya

Saat Amerika dan China Berada di Ambang Perangkap Thucydides

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Dunia