General Atomics Aeronautical Systems (GA-ASI) bekerja sama dengan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) baru saja mengumumkan keberhasilan uji coba penembakan roket terpandu laser Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS) menggunakan pesawat nirawak MQ-9A Reaper.
Uji coba yang berlangsung di Nevada Test and Training Range (NTTR) ini menandai langkah signifikan dalam meningkatkan kapabilitas tempur pesawat tanpa awak tersebut, khususnya dalam menghadapi ancaman di udara maupun di darat.
Dalam serangkaian penerbangan uji coba tersebut, tim penguji mendemonstrasikan berbagai profil tembakan yang mencakup target darat dan target udara secara simultan. GA-ASI menyatakan bahwa seluruh skenario penembakan dieksekusi dengan sempurna oleh kru MQ-9A menggunakan sistem peluncur khusus. Keberhasilan ini menunjukkan fleksibilitas Reaper yang kini tidak hanya berperan dalam misi pengintaian atau serangan darat, tetapi juga mampu menjadi pencegat target udara.
Secara teknis, MQ-9A dalam uji coba tersebut terlihat dilengkapi dengan pod LAU-131 A/A yang memuat roket AGR-20, sebutan militer untuk APKWS. Integrasi ini merupakan bagian dari upaya adaptasi teknologi real-time yang bergerak cepat dari tahap perencanaan hingga uji terbang. Meski belum dikonfirmasi apakah langkah ini merupakan respons terhadap Kebutuhan Operasional Mendesak (UON), kolaborasi antara pemerintah dan industri ini terbukti mampu menghadirkan kemampuan baru bagi prajurit dalam waktu singkat.
Presiden GA-ASI, David R. Alexander, menekankan bahwa APKWS memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi platform MQ-9 sebagai alat untuk menangkal drone serangan satu arah (one-way attack drones). Selain efektif secara taktis, penggunaan roket ini memungkinkan MQ-9A membawa jumlah senjata yang jauh lebih banyak dengan biaya yang lebih rendah. Inovasi ini memperkuat posisi Reaper sebagai platform multifungsi yang semakin mematikan namun tetap ekonomis.
Signifikansi dari pengujian ini terletak pada kemampuannya memberikan Angkatan Udara AS keunggulan dalam operasi Counter-Unmanned Aircraft Systems (C-UAS). Dibandingkan dengan jet tempur konvensional, MQ-9A mampu berada di area operasi jauh lebih lama tanpa memerlukan pengisian bahan bakar di udara. Hal ini memberikan ketahanan operasional yang sangat dibutuhkan untuk mengawasi wilayah udara dari ancaman drone yang bergerak lambat namun berbahaya.
Dari sisi finansial, penggunaan MQ-9A jauh lebih efisien dibandingkan pesawat tempur seperti F-16 atau F-15E. Biaya operasional Reaper diperkirakan hanya berkisar antara $3.000 hingga $4.000 per jam terbang, sementara jet tempur bisa menghabiskan $20.000 hingga $30.000 per jam. Dengan mengalihkan peran C-UAS kepada Reaper, Angkatan Udara dapat menghemat anggaran besar sekaligus membebaskan jet tempur untuk fokus pada misi-misi tempur yang lebih kompleks dan berisiko tinggi.
Meskipun memiliki keunggulan biaya dan daya tahan, Reaper memiliki keterbatasan dalam hal kecepatan. Dengan kecepatan jelajah sekitar 200 knot, pesawat ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mencegat target yang berada jauh dari posisinya dibandingkan jet tempur. Namun, kapasitas angkutnya menjadi kompensasi yang menarik; dengan enam hardpoint, sebuah MQ-9 berpotensi membawa hingga 42 roket APKWS jika menggunakan pod berisi tujuh peluncur di setiap titik senjatanya.
Sebagai informasi, roket AGR-20 APKWS II sendiri merupakan hasil konversi dari roket Hydra 70 yang tidak terpandu. Dengan menambahkan kit pemandu laser di bagian tengah roket, teknologi ini mengubah senjata murah menjadi amunisi presisi tinggi (PGM). APKWS sangat berguna dalam situasi di mana penggunaan rudal yang lebih besar seperti Hellfire atau bom JDAM dianggap berlebihan atau berisiko tinggi menyebabkan kerusakan kolateral.
Keunggulan utama lainnya adalah harga per unitnya yang sangat murah dibandingkan rudal udara-ke-udara lainnya. Satu unit sistem pemandu APKWS II hanya memakan biaya sekitar $15.000, sangat jauh jika dibandingkan dengan rudal AIM-120 AMRAAM yang berharga lebih dari $1 juta atau AIM-9X Sidewinder yang mencapai $420.000. Hal ini menjawab kekhawatiran militer mengenai ketimpangan biaya saat harus menjatuhkan drone musuh yang murah dengan rudal pencegat yang sangat mahal.
Terakhir, integrasi APKWS II memberikan "majalah senjata" yang lebih dalam bagi armada Amerika. Sebuah hardpoint yang biasanya hanya bisa membawa satu rudal Sidewinder kini dapat membawa tujuh roket APKWS dalam satu pod. Kemampuan membawa amunisi dalam jumlah banyak ini sangat krusial dalam menghadapi taktik serangan kawanan (swarm) atau saturasi drone yang kini semakin sering digunakan dalam konflik modern di berbagai belahan dunia.




KOMENTAR ANDA