Oleh: Jaya Suprana
"DUBITO ERGO SUM" dapat diterjemahkan sebagai "Saya ragu, maka saya ada".
Frasa ini menekankan bahwa keraguan adalah bukti adanya pikiran dan kesadaran diri. Frasa COGITO ERGO SUM pertama kali diucapkan oleh Descartes dalam karyanya "Discours de la Méthode" (1637).
Descartes menggunakan frasa ini untuk menunjukkan bahwa satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah adanya pikiran dan kesadaran diri sendiri. Frasa DUBITO ERGO SUM adalah variasi COGITO ERGO SUM yang lebih menekankan peran keraguan dalam proses berpikir. Keraguan adalah suku cadang penggerak mekanisme peradaban.
Frasa DUBITO ERGO SUM (DES) memiliki pengaruh besar dalam filsafat modern, terutama dalam epistemologi (teori pengetahuan) dan metafisika. Frasa ini menekankan pentingnya keraguan dan skeptisisme dalam mencari kebenaran.
Frasa DES telah diadaptasi dan dikembangkan dalam berbagai konteks, termasuk filsafat, sastra, dan seni. Frasa ini sering digunakan untuk menekankan pentingnya keraguan dan kritisisme dalam mencari kebenaran.
Thomas Sang Peragu adalah satu di antara 12 apostel Jesus Kristus yang memiliki keraguan tentang kebangkitan Jesus. Menurut Injil Yohanes (20:24-29), Thomas tidak percaya bahwa Jesus telah bangkit dari kematian sampai dia melihat dan meraba sendiri luka-luka di tubuh Jesus.
Aliran Skeptikisme dan Zyiniker Yunani kuno juga memiliki kesamaan dengan keraguan Thomas. Skeptikisme Yunani kuno, yang dipimpin oleh Pyrrho, menekankan pentingnya keraguan dan skeptisisme dalam mencari kebenaran. Zyiniker, yang dipimpin oleh Diogenes, juga menekankan pentingnya keraguan dan kritik terhadap norma-norma sosial dan agama.
Namun, perlu diingat bahwa keraguan Thomas memiliki konteks yang berbeda dengan Skeptikisme dan Zyiniker. Thomas adalah seorang yang memiliki iman yang kuat, tetapi dia membutuhkan bukti langsung untuk memperkuat imannya. Sedangkan Skeptikisme dan Zyiniker lebih fokus pada keraguan sebagai cara hidup dan kritik terhadap norma-norma sosial dan agama.
Persamaan antara Thomas dan Skeptikisme/Zyiniker adalah:
- Keraguan sebagai cara untuk mencari kebenaran
- Pentingnya bukti dan pengalaman langsung
- Kritik terhadap asumsi dan dogma
Namun, perbedaan antara Thomas dan Skeptikisme/Zyiniker adalah:
- Thomas memiliki iman yang kuat dan mencari bukti untuk memperkuat imannya, sedangkan Skeptikisme dan Zyiniker lebih fokus pada keraguan sebagai cara hidup.
- Thomas tidak menolak kebangkitan Jesus, tetapi hanya membutuhkan bukti untuk memperkuat imannya, sedangkan Skeptikisme dan Zyiniker lebih fokus pada kritik terhadap norma-norma sosial dan agama.
Pengembangan DES di masa kini telah menjadi metode untuk mencari kebenaran, terutama dalam konteks filsafat dan teologi. DES dapat membantu kita mempertanyakan asumsi dan dogma yang ada, sehingga kita dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang kebenaran’ Dalam konteks agama juga dapat menjadi model dialektika kritis, seperti yang ditunjukkan oleh sikap skeptis Rasul Thomas.
Thomas tidak langsung percaya pada kebangkitan Jesus tanpa bukti, melainkan meminta bukti organoleptik untuk memperkuat imannya. Sikap ini dapat menjadi contoh bagi kita dalam menghadapi masalah hoaks dan informasi tidak akurat di era post-truth didukung teknologi Kecerdasan Buatan.
Apabila dihubungkan ke persada Indonesia masa kini , pada hakikatnya inti sukma DES seiring-sejalan inti sukma Manunggaling Kawula Gusti sembari berdampingan inti sukma Sangkan Paraning Dumadi.
Bertabur butir-butir kearifan Ojo Dumeh mau pun Ngono Yo Ngono Ning Ojo Nongo serta Gemi Nastiti. Di jalur Gerakan Konsumerisme melawan Konsumtifisme , Dubito Ergo Sum memunculkan kearifan Teliti Sebelum Beli. Atau kesadaran jika tidak punya uang, jangan beli!




KOMENTAR ANDA