post image
Infografis: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kebijakan isolasi oleh Amerika Serikat yang mendepak China dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sejak tahun 2011 kini berbalik menjadi bahan bakar utama ambisi antariksa Beijing. Alih-alih meredup, China justru membuktikan kemandiriannya lewat kesuksesan peluncuran misi luar angkasa berawak Shenzhou-23 dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan pada Minggu, 24 Mei 2026. 

Misi ini membawa pesan geopolitik yang kuat sekaligus menandai lompatan sains besar: untuk pertama kalinya, seorang astronaut mereka akan tinggal selama satu tahun penuh di stasiun luar angkasa Tiangong.

Langkah berani menempatkan manusia selama setahun di orbit ini bukan sekadar mengejar rekor, melainkan sebuah eksperimen krusial untuk mempelajari dampak biologis dan psikologis lingkungan mikrogravitasi. Data dari penelitian jangka panjang ini akan menjadi pondasi vital bagi Beijing dalam mempersiapkan misi berawak menuju Bulan sebelum tahun 2030, sekaligus membuka jalan bagi misi eksplorasi masa depan yang jauh lebih menantang, yaitu pendaratan manusia di planet Mars.

Misi bersejarah ini dipimpin oleh Komandan Zhu Yangzhu (39), seorang astronaut veteran yang sebelumnya sukses dalam misi Shenzhou-16. Dalam penerbangan kali ini, ia didampingi oleh Zhang Zhiyuan (39), mantan pilot Angkatan Udara China yang baru pertama kali mencicipi perjalanan ke luar angkasa.

Bersama kru lainnya, mereka meluncur mulus menggunakan roket Long March 2F/G dan beberapa jam kemudian dikonfirmasi oleh Badan Antariksa Berawak China (CMSA) telah berhasil melakukan pembetulan orbit serta berlabuh (docking) dengan aman di modul inti Tianhe.

Selain aspek durasi tinggal, Shenzhou-23 mengukir sejarah inklusivitas baru dengan mengikutsertakan Lai Ka-ying (43) sebagai astronaut pertama asal Hong Kong yang berhasil ke luar angkasa. Perempuan tangguh yang bertindak sebagai spesialis muatan ini memiliki latar belakang unik, di mana ia sebelumnya mengabdi sebagai anggota kepolisian di wilayah administratif khusus tersebut sebelum akhirnya terpilih dalam program ruang angkasa China.

Di dalam laboratorium melayang Tiangong, para kru mengemban tanggung jawab besar untuk mengeksplorasi berbagai proyek ilmiah mutakhir. Fokus penelitian mereka mencakup bidang ilmu hayati, ilmu material, fisika fluida, hingga kedokteran antariksa. Hingga saat ini, CMSA masih merahasiakan identitas satu astronaut yang telah dipilih untuk mengemban tugas berat tinggal selama satu tahun penuh di orbit dan baru akan mengumumkannya ke publik pada waktu mendatang.

Meski menjanjikan masa depan cerah bagi sains, misi berdurasi satu tahun ini menghadirkan risiko keselamatan yang sangat tinggi bagi tubuh manusia. Richard de Grijs, seorang astrofisikawan dan profesor dari Macquarie University, Australia, mengungkapkan bahwa tantangan utama misi ekstrem ini berkisar pada penurunan kepadatan tulang, penyusutan otot, risiko paparan radiasi kosmik, gangguan tidur kronis, hingga kelelahan perilaku akibat isolasi. Profesor de Grijs juga mengingatkan bahwa ketahanan misi ini sepenuhnya bergantung pada keandalan sistem daur ulang air dan udara, serta kesiapan penanganan darurat medis yang jauh dari Bumi.

Selama ini, China menerapkan manajemen rotasi berkala di mana kru Tiangong umumnya hanya tinggal di orbit selama enam bulan sebelum digantikan. Oleh sebab itu, menurut de Grijs, misi satu tahun ini menuntut perangkat keras dan kesiapan mental awak manusia untuk beroperasi dalam kondisi yang jauh berbeda dari misi-misi Shenzhou berdurasi pendek sebelumnya. Ini adalah tahapan evolusi China dalam membangun pengalaman operasional untuk mempertahankan eksistensi manusia secara berkelanjutan di luar angkasa.

Di sisi lain, persiapan menuju Bulan kian agresif dengan rencana pengujian wahana antariksa generasi baru bernama Mengzhou pada akhir tahun ini. Wahana Mengzhou dirancang khusus untuk menggantikan lini Shenzhou dan akan menjadi kendaraan utama yang mengangkut astronaut China mendarat di satelit Bumi tersebut. Agendanya tidak berhenti di sana; China juga berencana menyambut astronaut asing pertamanya yang berasal dari Pakistan untuk mengunjungi Tiangong akhir tahun ini, disusul target penyelesaian pembangunan tahap pertama pangkalan ilmiah berawak di permukaan Bulan, International Lunar Research Station (ILRS), pada tahun 2035.

Keberhasilan luar biasa ini merupakan buah dari konsistensi Beijing yang menggelontorkan dana miliaran dolar selama 30 tahun terakhir demi mengejar ketertinggalan teknologi dari AS dan Rusia. Sebelum lompatan Shenzhou-23 ini, China telah mengguncang dunia dengan mendaratkan wahana Chang'e-4 di sisi jauh Bulan pada tahun 2019—sebuah rekor pertama dalam sejarah peradaban manusia—serta sukses mendaratkan robot penjelajah (rover) di planet Mars pada tahun 2021 silam.


Akhirnya NASA Bongkar Rencana Bangun Pangkalan Permanen di Bulan

Sebelumnya

Revolusi Teknologi Hipersonik Jepang Mencengangkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Tech