Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis setelah pasukan militer Israel (IDF) melancarkan operasi darat besar-besaran dan merebut wilayah strategis di Lebanon Selatan kemarin. Penyerbuan ini menandai inkursi terdalam militer Israel ke wilayah kedaulatan Lebanon dalam lebih dari seperempat abad terakhir. Langkah agresif ini dinilai melanggar komitmen gencatan senjata nominal yang sempat disepakati sebelumnya dan memicu kekhawatiran akan pecahnya perang regional berskala penuh.
Fokus utama dari serangan kemarin adalah perebutan Benteng Beaufort (Qalaat al-Shaqif), sebuah kastel bersejarah era Perang Salib yang bertengger di atas bukit strategis dekat kota Nabatiyeh. Pasukan Israel berhasil menguasai benteng tersebut setelah terlibat pertempuran sengit selama berhari-hari melawan milisi Hizbullah serta melancarkan serangan udara masif yang menghancurkan desa-desa di sekitarnya. Pengibaran bendera Israel di puncak benteng tersebut memicu trauma mendalam bagi warga lokal yang mengingatkan pada masa pendudukan masa lalu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi keberhasilan operasi militer ini dan menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan titik balik yang sangat krusial. Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh media The Guardian, Netanyahu menyebut penguasaan Benteng Beaufort sebagai fase dramatis dalam kebijakan pertahanan negaranya demi memperluas zona aman di sepanjang perbatasan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menambahkan bahwa pasukan IDF telah menyeberangi Sungai Litani untuk membersihkan infrastruktur militer musuh.
Aksi sepihak Israel ini langsung memicu gelombang kecaman keras dari berbagai pemimpin dunia dan organisasi internasional. Prancis menjadi salah satu negara barat pertama yang bereaksi keras atas pendudukan baru ini. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Prancis BFM TV, menyatakan ketidaksetujuannya yang mendalam terhadap operasi militer tersebut karena dianggap tidak memiliki dasar pembenaran yang kuat.
"Tidak ada hal yang dapat membenarkan perpanjangan operasi militer Israel di Lebanon dan pendudukannya yang semakin dalam di wilayah kedaulatan Lebanon," tegas Jean-Noël Barrot sebagaimana dilansir oleh PBS NewsHour. Menyusul situasi darurat ini, pemerintah Prancis segera mengajukan permohonan resmi untuk menggelar pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) guna membahas pelanggaran hukum internasional tersebut.
Kecaman senada juga datang dari Berlin. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, merilis pernyataan resmi yang menyatakan kekhawatiran mendalam atas manuver militer Israel yang terus merangsek maju ke arah utara Lebanon. Pemerintah Jerman memperingatkan dampak kemanusiaan yang sangat mengerikan akibat perang ini.
"Maju selangkah laginya tentara Israel ke dalam wilayah Lebanon Selatan adalah penyebab kekhawatiran yang sangat serius," kata Johann Wadephul dalam rilis resminya yang dimuat oleh The Times of Israel. Jerman juga menegaskan bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memperburuk situasi yang sudah tegang dan memicu gelombang pengungsian massal baru yang tak terkendali di dalam negeri Lebanon.
Dari pihak internal Lebanon sendiri, suara kemarahan digaungkan langsung oleh jajaran pimpinan tinggi negara. Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara terbuka menuduh Israel tengah menjalankan taktik perang kotor yang menyasar masyarakat sipil secara membabi buta demi mengusir penduduk asli keluar dari tanah kelahiran mereka.
"Israel sedang menerapkan kebijakan bumi hangus (scorched-earth policy) dan hukuman kolektif dengan menghancurkan kota serta desa-desa kami, sekaligus memaksa penduduknya ke pengasingan," kecam PM Nawaf Salam, seperti dilaporkan oleh The Guardian. Beliau menambahkan bahwa tindakan brutal ini sama sekali tidak akan membawa keamanan ataupun stabilitas bagi wilayah Israel sendiri, melainkan justru memperpanjang lingkaran kekerasan.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel yang menyertai pergerakan pasukan darat kemarin tidak hanya merusak fasilitas sipil, tetapi juga melukai belasan petugas medis di dekat Rumah Sakit Hiram di Tyre. Agresi terbaru ini kian memperpanjang daftar hitam krisis kemanusiaan di Lebanon, di mana PBB mencatat lebih dari 1,2 juta warga telah kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi sejak konflik memanas awal Maret lalu.




KOMENTAR ANDA