post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

DI dalam makalah oseanologis ini, yang tampil bukan Mimi, pemeran utama mahaopera mahakarya Puccini “ La Boheme” namun Mimi, sang fosil hidup.

Di sela pasir pantai, kadang kita menemukan makhluk aneh berbentuk seperti helm perang. Punggungnya keras, ekornya runcing seperti pecut , dan jalannya pelan. Itu adalah Mimi, atau yang dikenal dunia sebagai kepiting tapal kuda. Bagian perut tubuhnya mirip wajah mahluk luar angkasa di serial film “Predator”.

Jangan tertipu namanya. Mimi bukan kepiting. Ia justru kerabat dekat kalajengking dan laba-laba. Dan yang lebih menakjubkan: ia sudah hidup di bumi sejak 450 juta tahun lalu. Lebih tua dari dinosaurus.

Bayangkan. Mimi sudah ada sejak zaman Ordovisium. Ia menyaksikan trilobita punah, dinosaurus muncul lalu hilang, dan manusia baru lahir kemarin sore secara usia bumi. Bentuk tubuhnya hampir tidak berubah selama ratusan juta tahun.

Karena apa? Karena desainnya sempurna. Cangkang keras melindunginya. 10 kakinya multifungsi untuk jalan, gali, dan makan. Dan ekor panjangnya berfungsi sebagai kemudi sekaligus tuas jika ia terbalik . Itulah kenapa para ilmuwan menyebutnya "sang fosil hidup".

Ini bagian paling penting bagi manusia. Darah Mimi berwarna biru. Bukan merah seperti kita. Di dalam darahnya ada sel khusus yang langsung menggumpal jika bersentuhan dengan bakteri. Para ilmuwan memanfaatkan ini untuk membuat LAL Test - alat uji paling akurat untuk memastikan vaksin, obat suntik, dan alat medis steril dari racun bakteri.

Setiap tahun, industri farmasi dunia bergantung pada darah Mimi untuk menjaga obat-obatan kita aman. 1 liter darah birunya bisa berharga 15.000 dolar AS. Tapi kabar baiknya: Mimi tidak perlu dibunuh. Darahnya diambil sedikit, lalu ia dilepas kembali ke laut. 

Saat musim bertelur tiba, ribuan Mimi akan naik ke pantai saat bulan purnama. Mereka menggali pasir dan bertelur puluhan ribu butir. Telur-telur ini adalah makanan penting bagi burung pantai yang bermigrasi ribuan kilometer. Anak penyu juga memakannya.

Jadi kalau populasi Mimi turun, rantai makanan pantai ikut terganggu. Sayangnya, habitat Mimi makin sempit karena reklamasi dan polusi plastik. Padahal ia sudah bertahan 4 kepunahan massal.

Ia tidak berevolusi berlebihan. Ia tidak butuh teknologi. Ia hanya butuh laut yang bersih dan pantai untuk bertelur. Menjaga Mimi berarti menjaga laut kita. Menjaga laut berarti menjaga masa depan kita juga. Hormati sang fosil hidup ini. Karena di dalam tubuhnya mengalir sejarah bumi. dan juga darah biru yang penting bagi pengembangan pelayanan kesehatan manusia.  


Perang Thailand-Kamboja

Sebelumnya

Arkeologi Gundukan Tanah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana