Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) secara resmi merilis foto-foto perdana yang menunjukkan pesawat tempur legendaris A-10C Thunderbolt II, atau yang populer dengan julukan Warthog, sedang melakukan pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) di kawasan Timur Tengah.
Menariknya, jet tempur pendukung udara dekat (close air support) tersebut kini dilengkapi dengan perangkat modifikasi baru bernama Probe Refueling Adapter. Komponen ini memungkinkan A-10C menggunakan sistem probe and drogue saat mengudara di wilayah tanggung jawab Komando Sentral AS (USCENTCOM).
Operasi pengisian bahan bakar yang berlangsung pada 9 Mei 2026 ini melibatkan pesawat tanker HC-130J Combat King II. Keberhasilan ini dicapai hanya berselang satu bulan setelah modifikasi tersebut pertama kali diuji coba pada awal April lalu. Langkah cepat ini diambil demi memperluas opsi logistik bahan bakar bagi armada A-10C, serta memberikan fleksibilitas operasional yang jauh lebih besar di medan tempur yang dinamis.
Selama ini, armada A-10C sangat bergantung pada pesawat tanker penyuplai sistem flying boom lama seperti KC-135 Stratotanker. Ketergantungan ini diperparah karena jet tempur tersebut belum mendapatkan sertifikasi operasional untuk menerima bahan bakar dari pesawat tanker generasi terbaru, KC-46 Pegasus.
Akibat keterbatasan armada tanker di teater operasi, muncul kebutuhan mendesak dari komando tempur untuk mencari solusi alternatif agar A-10C bisa disuplai oleh pesawat tanker berbasis C-130.
Foto-foto bersejarah yang dirilis pada 21 Mei 2026 tersebut memperlihatkan performa tangguh pesawat A-10C milik Skuadron Tempur ke-107 dari Angkatan Udara Garda Nasional (ANG) Selfridge, Michigan. Skuadron ini sendiri diketahui baru tiba dan dikerahkan di Timur Tengah pada awal April.
Publikasi foto ini juga menyusul sebuah video yang dirilis sehari sebelumnya, memperlihatkan uji coba serupa oleh pesawat A-10s asal Pangkalan Udara Moody, Georgia, menggunakan tanker HC-130J.
Salah satu karakteristik utama yang unik dari pesawat A-10C adalah letak lubang penerima bahan bakar (receptacle) standar yang berada tepat di bagian hidung, persis di depan kokpit. Lubang ini awalnya dirancang khusus agar operator flying boom pada pesawat tanker bisa mencolokkan pipa pengisi.
Namun, pensiunnya armada tanker KC-10 dan belum tuntasnya pengujian integrasi dengan KC-46 sempat membuat perencanaan misi operasional A-10C menjadi sangat terbatas dan kaku.
Menjawab tantangan tersebut, Pusat Pengujian Komando Cadangan Angkatan Udara Garda Nasional (AATC) bergerak cepat merancang Probe Refueling Adapter yang sukses diuji pertama kali pada 2 April 2026. Alat adaptasi ini dipasang langsung pada lubang penerima bahan bakar yang ada di hidung pesawat.
Begitu terpasang, sistem mekanis A-10C secara instan dikonversi dari konfigurasi standar boom menjadi sistem probe and drogue yang kompatibel dengan selang fleksibel milik pesawat seri C-130.
Pihak AATC menjelaskan bahwa adaptor penjelajah ini merupakan solusi yang dapat dikonfigurasi langsung di lapangan (field-configurable). Artinya, personel garis depan di landasan pacu dapat memasangnya hanya "dalam hitungan jam" tanpa perlu membawa pesawat ke fasilitas depo pusat.
Kemudahan ini memberikan keuntungan taktis karena pesawat dapat dibongkar-pasang konfigurasinya antara sistem boom atau probe sesuai dengan tuntutan misi operasional harian.
Kendala sertifikasi dengan tanker modern KC-46 dilaporkan berkaitan dengan masalah teknis pada aktuator di dalam boom, serta dipicu oleh faktor kecepatan terbang A-10C yang relatif lambat. Sebagai pesawat bantuan darat, A-10C terkenal berjalan jauh lebih lambat dibanding jet tempur USAF lainnya, dengan kecepatan maksimum hanya 420 mil per jam (Mach 0,56).
Sementara KC-46 harus terbang sangat lambat dengan beban berat maksimal di awal misi, pesawat tanker berbasis C-130 justru dapat terbang lebih mudah pada kecepatan dan ketinggian yang rendah.
Selain modifikasi pengisian bahan bakar, pesawat A-10C yang tertangkap kamera di Timur Tengah ini juga terlihat membawa pod peperangan elektronik canggih, Angry Kitten. Pod penjamur (jammer) ini awalnya dikembangkan sebagai alat simulasi ancaman untuk pelatihan pilot F-16 sejak tahun 2013 oleh Georgia Tech Research Institute.
Kini, pod tersebut telah berevolusi menjadi aset garis depan operasional dan mencatatkan debut pertempuran pertamanya dalam Operasi Epic Fury bersama jet tempur F-16.
Teknologi di dalam Angry Kitten mengusung arsitektur Technique Description Language (TDL) yang memadukan kecepatan perangkat keras dengan kecerdasan perangkat lunak untuk mengambil keputusan kompleks secara mandiri (cognitive EW).
Keunggulan utama dari perangkat perang elektronik milik pemerintah AS ini adalah kemampuannya untuk diprogram ulang secara cepat melalui pembaruan real-time di lapangan tanpa harus dikirim kembali ke kontraktor. Hal ini memangkas biaya dan waktu pengembangan sekaligus mempercepat pelumpuhan sistem pertahanan udara musuh.




KOMENTAR ANDA