Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menyampaikan kecaman keras terhadap pemerintah Amerika Serikat atas kebijakan embargo minyak dan sanksi ekonomi yang kian diperketat. Dalam pidatonyanya, ia melabeli tindakan Washington tersebut sebagai bentuk "genosida politik" yang sengaja dirancang untuk menekan rakyat Kuba.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Díaz-Canel di Pinar del Río saat memimpin peringatan ke-73 Hari Pemberontakan Nasional. Momen bersejarah ini menandai penyerangan Markas Barracks Moncada pada tahun 1953 yang dipimpin oleh Fidel Castro, peristiwa awal dari Revolusi Kuba yang akhirnya menjatuhkan rezim Fulgencio Batista.
Dalam pidatonya yang berlangsung di hadapan ribuan pendukung pemerintah, Díaz-Canel secara khusus menyoroti laporan terbaru dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Laporan tersebut menuduh Kuba melakukan infiltrasi ke dalam pemerintah AS serta mendukung gelombang terorisme sayap kiri di tanah Amerika.
Menanggapi tuduhan tersebut, Díaz-Canel menegaskan bahwa pemerintah AS hanya berusaha mencari kambing hitam atas permasalahan internal mereka sendiri. Menurutnya, gelombang gelisah dan protes di AS sebenarnya dipicu oleh ketimpangan ekonomi yang membuat kelompok kaya makin kaya dan kelompok miskin makin terpuruk.
Ia menambahkan bahwa tuduhan tidak berdasar dari Washington tersebut sengaja diciptakan untuk membentuk dalih baru. Tujuannya adalah untuk terus mempertahankan dan memperpanjang sanksi serta tekanan ekonomi terhadap Kuba.
Pidato ini mengemuka di tengah krisis ekonomi terburuk yang dialami Kuba dalam beberapa dekade terakhir. Sanksi yang diperketat serta blokade pasokan minyak dari AS telah memicu kelangkaan bahan bakar yang parah dan menyebabkan pemadaman listrik bergilir hingga kelumpuhan jaringan listrik nasional.
Dampak krisis ini telah melumpuhkan berbagai sektor vital di Kuba. Sistem transportasi umum terhenti, tahun ajaran sekolah harus dipangkas karena ketiadaan bahan bakar, dan sejumlah perusahaan internasional di sektor pariwisata serta keuangan memilih untuk menghentikan operasinya di pulau tersebut.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat terus membela kebijakannya dengan melemparkan kesalahan balik kepada Havana. Washington menilai bahwa krisis hebat yang dialami Kuba merupakan hasil langsung dari salah kelola ekonomi pemerintah Kuba serta minimnya investasi pada infrastruktur yang kian menua.
Merespons kondisi tersebut, Díaz-Canel mendesak agar sanksi dan embargo minyak segera diakhiri, seraya menegaskan bahwa Kuba tidak pernah menjadi ancaman bagi AS maupun negara mana pun di dunia. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada lembaga dan kelompok internasional yang terus mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Kuba.
Pidato di fajar hari tersebut mempertegas kian meruncingnya ketegangan geopolitik antara Havana dan Washington. Di tengah kepungan sanksi dan keterbatasan sumber daya, Kuba kini harus berjuang menghadapi dampak krisis yang memengaruhi seluruh lapisan kehidupan masyarakatnya.



KOMENTAR ANDA