Untuk pertama kalinya dalam 78 tahun sejarahnya, Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mengalami penyusutan armada hingga di bawah 5.000 unit pesawat. Penurunan jumlah pesawat ini menandai momen krusial bagi kekuatan udara militer terbesar di dunia tersebut, yang kini memiliki sekitar 4.900 armada aktif.
Penyebab utama dari penurunan drastis ini adalah strategi divest-to-invest (pensiun untuk investasi) yang diterapkan oleh pentagon. USAF secara agresif memensiunkan pesawat-pesawat tua (legacy platforms) yang dinilai tidak lagi ekonomis maupun tangguh dalam pertempuran modern, demi mengalihkan anggaran ke program modernisasi generasi berikutnya.
Saat ini, armada USAF mencatatkan rata-rata usia pesawat mencapai 32 tahun. Kombinasi antara jet pertempuran tua dan lambatnya pengiriman unit pengganti membuat tingkat kesiapan tempur (mission-capable readiness) merosot hingga titik terendah sebesar 62% pada tahun 2025, di mana hampir 2.000 pesawat tidak siap tempur secara penuh.
Laju pensiun armada pesawat tua ternyata tiga kali lebih cepat dibandingkan kemampuan pabrikan militer dalam memproduksi unit baru. Kendala rantai pasok global serta perselisihan tenaga kerja di industri pertahanan telah menghambat pengiriman pesawat tempur dan tanker baru seperti Lockheed Martin F-35A, Boeing F-15EX Eagle II, dan KC-46A Pegasus.
Sejumlah jet legendaris seperti F-15C/D Eagle, F-16C/D Fighting Falcon, hingga pesawat tempur A-10 Thunderbolt II terus dikirim ke tempat penyimpanan (boneyard). Meski demikian, rencana pensiun total armada A-10 sempat ditahan oleh Kongres AS setelah pesawat tersebut terbukti efektif dalam operasi serangan balik terhadap taktik asimetris di Timur Tengah.
Di sisi lain, USAF mulai mendistribusikan anggaran ke teknologi masa depan, termasuk pembom siluman generasi keenam Northrop Grumman B-21 Raider. Pesawat pembom canggih ini dirancang untuk menembus pertahanan udara modern yang paling ketat dan menjadi pilar utama pencegahan strategis AS di masa depan.
Namun, pengembangan program pesawat tempur generasi keenam Next Generation Air Dominance (NGAD) seperti Boeing F-47 terbentur masalah biaya yang sangat tinggi. Dengan estimasi harga mencapai $300 juta (sekitar Rp4,8 triliun) per unit—tiga kali lipat harga F-35A—USAF diperkirakan hanya mampu membeli sekitar 185 hingga 200 unit F-47.
Untuk menutupi celah kuantitas armada, USAF berinvestasi besar-besaran pada pesawat nirawak otonom melalui program Collaborative Combat Aircraft (CCA) atau drone loyal wingman. Drone murah seperti FQ-42A Dark Merlin dan FQ-44A Fury dirancang mendampingi jet tempur utama untuk menyerap risiko pertempuran garis depan.
Kondisi armada yang menyusut ini makin diperparah oleh krisis perekrutan pilot dan personel perawatan tempur. Para teknisi militer dipaksa bekerja ekstra keras untuk menjaga ketersediaan jet tua yang masih tersisa, yang pada akhirnya mempercepat keausan badan pesawat (airframe).
Penutupan armada tua tanpa diimbangi kecepatan produksi pesawat baru menciptakan dilema bagi pertahanan udara AS. USAF kini berada di persimpangan jalan antara mempertahankan kualitas teknologi super-canggih bernilai tinggi atau menjaga jumlah kuantitas armada agar tetap siap merespons konflik global di berbagai wilayah.



KOMENTAR ANDA