Pihak kepolisian Inggris melancarkan penyelidikan setelah sebuah panggilan telepon berisi ancaman bom palsu memicu pengerahan darurat jet tempur Royal Air Force (RAF). Laporan tersebut menyasar pesawat komersial Qatar Airways yang sedang dalam penerbangan menuju Bandara Manchester, Inggris.
Pesawat yang terlibat adalah Boeing 777-300ER dengan nomor registrasi A7-BAJ, yang beroperasi sebagai penerbangan QTR52N dari Doha menuju Manchester. Ketika mendekati ruang udara Britania Raya, pesawat tersebut mendadak menjadi sasaran ancaman keamanan berupa ancaman bom palsu.
Merespons potensi bahaya tersebut, komando pertahanan udara Inggris langsung mengaktifkan prosedur Quick Reaction Alert (QRA). Dua jet tempur Eurofighter Typhoon FGR4 dengan tanda panggil RIGID 11 dan RIGID 12 dikerahkan (scrambled) dari pangkalan udara RAF Coningsby sekitar pukul 18:00 UTC.
Di udara, para pilot penerbangan Qatar Airways menyadari adanya pengawalan militer setelah sistem Traffic Collision Avoidance System (TCAS) di kokpit mengeluarkan peringatan (Resolution Advisory). Awak kapal sempat mengirimkan pesan otomatis melalui sistem ACARS ke pusat operasi Qatar Airways untuk mengonfirmasi bahwa mereka sedang dicegat oleh pesawat militer dan menunggu instruksi dari kontrol lalu lintas udara (ATC).
Dengan dikawal ketat oleh kedua jet tempur Typhoon dari jarak dekat, pesawat komersial tersebut meneruskan perjalanannya secara aman hingga mendarat di Bandara Manchester. Di landasan, armada kendaraan darurat dan personel kepolisian dalam jumlah besar telah bersiap mengamankan area.
Kepolisian Greater Manchester (Greater Manchester Police) mengonfirmasi bahwa mereka tengah memeriksa seorang anak laki-laki berusia 14 tahun terkait insident ancaman bom tersebut. Pihak kepolisian juga mengonfirmasi bahwa remaja tersebut sama sekali bukan merupakan penumpang dalam penerbangan itu.
Hingga saat ini, kepolisian belum memperjelas apakah remaja 14 tahun tersebut adalah pihak yang melakukan panggilan telepon secara langsung atau memiliki keterkaitan lain dengan aksi teror palsu ini. Proses pemeriksaan mendalam masih terus berlangsung untuk mengusut motif di balik tindakan tersebut.
Chief Inspector Gary Homa dari Bagian Operasi Bandara Manchester mengecam keras aksi nekat tersebut. Ia menegaskan bahwa laporan palsu semacam ini bukanlah sebuah lelucon (prank), melainkan kejahatan serius yang membuang-buang sumber daya darurat dan menciptakan kecemasan besar bagi para penumpang serta kru di udara.
Pencegatan oleh jet tempur QRA merupakan prosedur standar respon cepat pertahanan udara ketika ada ancaman keamanan terhadap penerbangan sipil. Pesawat Typhoon milik RAF yang disiagakan dalam mode QRA selalu dilengkapi dengan amunisi aktif, termasuk rudal canggih pemandu radar Meteor dan rudal pemandu inframerah ASRAAM.
Peristiwa pencegatan di langit Inggris ini sempat diabadikan oleh warga di darat yang melihat jejak kondensasi (contrail) tebal dari Boeing 777 yang diapit dua jejak tipis jet tempur. Insiden ini mengingatkan publik pada kejadian serupa pada tahun 2014, di mana penerbangan Qatar Airways juga pernah dicegat oleh Typhoon akibat ancaman bom palsu.



KOMENTAR ANDA