Sebuah tragedi yang menimpa seorang pria akibat tersedot mesin pesawat Frontier Airlines pada 8 Mei lalu di Bandara Internasional Denver (DEN) telah mengungkap fakta mengejutkan mengenai lemahnya keamanan di bandara tersebut. Insiden tersebut tercatat sebagai pelanggaran keamanan di area landasan pacu yang keenam kalinya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir di bandara sibuk di Colorado tersebut.
Kejadian fatal yang melibatkan Matthew Mott ini terjadi ketika ia berhasil mengakses area terlarang bandara sebelum akhirnya tertabrak oleh pesawat Airbus A321neo yang sedang bersiap untuk lepas landas. Insiden yang diklasifikasikan sebagai tindakan bunuh diri ini sempat menyebabkan pesawat mengalami kerusakan mesin dan kebakaran, yang memaksa seluruh penumpang serta kru untuk dievakuasi dan dipindahkan ke penerbangan pengganti.
Menurut laporan The Denver Post, tercatat ada enam kasus penyusup yang berhasil masuk ke area bandara sejak tahun 2023. Selain insiden fatal tersebut, berbagai peristiwa lain juga pernah terjadi, mulai dari seseorang yang menabrak gerbang pagar pembatas hingga individu yang ditemukan duduk di area jalur taksi (taxiway) pada dini hari setelah meninggalkan kendaraannya di dekat lokasi.
Pihak otoritas juga pernah menangani seseorang yang nekat memanjat pagar dan mengklaim kepada petugas bahwa ia sedang "berjalan kaki menuju Texas," sebuah jarak yang mencapai lebih dari 1.440 kilometer. Rentetan kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai efektivitas parameter deteksi dan keamanan yang diterapkan di Bandara Internasional Denver dalam mencegah akses tidak sah.
Annmarie Heth, seorang asisten profesor ilmu penerbangan dan dirgantara di Metropolitan State University of Denver, menyatakan bahwa meskipun insiden fatal seperti yang menimpa Mott tergolong langka, upaya penyusupan yang disengaja tetap menjadi tantangan besar. Menurutnya, sistem keamanan secanggih apa pun akan sulit menghentikan seseorang yang sudah bertekad kuat untuk menerobos masuk ke dalam area terbatas.
Masalah ini semakin pelik karena tidak adanya basis data nasional yang komprehensif mengenai pelanggaran keamanan bandara. Dari enam insiden yang tercatat di Denver yang melibatkan delapan penyusup, beberapa di antaranya diketahui memiliki surat perintah penangkapan aktif, termasuk kasus mangkir dari pengadilan atau pencurian kendaraan bermotor.
Sistem pelaporan yang ada saat ini, seperti yang dikelola oleh Federal Aviation Administration (FAA), utamanya berfokus pada insiden landasan pacu (runway incursions) yang terjadi di menara pengawas lalu lintas udara. Data FAA mencakup kesalahan kontrol lalu lintas udara, tindakan pilot, atau pejalan kaki yang masuk ke landasan tanpa izin, namun data tersebut tidak secara spesifik merangkum seluruh pelanggaran keamanan perimeter secara nasional.
Catatan menunjukkan bahwa dari enam insiden di Denver, hanya dua yang didokumentasikan dalam basis data FAA pada saat kejadian tersebut berlangsung. Secara keseluruhan, basis data tersebut hanya mencatat 37 insiden yang melibatkan kendaraan dan pejalan kaki yang tidak berwenang di seluruh bandara di AS selama dua dekade terakhir sejak April 2006.
Setiap adanya pelanggaran di pagar perimeter biasanya memicu respons keamanan berlapis, termasuk penggunaan sensor serat optik, radar darat, hingga kamera pencitraan termal. Ketika alarm terpicu di pusat komando keamanan, tim keamanan akan segera diaktifkan bersama penegak hukum setempat untuk melacak dan mengamankan lokasi penyusup tersebut.
Pelanggaran keamanan semacam ini tidak hanya berisiko tinggi terhadap nyawa manusia, tetapi juga menyebabkan gangguan operasional yang masif. Penutupan area landasan pacu akibat penyusup sering kali memaksa penerbangan masuk untuk berputar (holding) atau dialihkan ke bandara lain, yang mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan bagi maskapai dan operator bandara.



KOMENTAR ANDA