post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

DI antara sekian banyak perbendaharaan koleksi seni patung Metropolitan Museum, New York City yang paling menggetar sukma saya adalah sebuah patung perunggu ukuran 68,3X56,5 cm berjuluk Shiwa Nataraja alias Shiwa sebagai Dewa Menari.

Patung yang berasal dari jaman Chola abad XIII tersebut menampilkan sosok Shiwa Nataraja sebagai dewa yang sekaligus merangkap peran Tri Murti sebagai sang pencipta, sang pemelihara sekalogus sang perusak alam semesta di dalam konsep Hinduisme tentang lingkaran waktu tanpa ujung-pangkal abadi berputar tanpa henti. 

Sama halnya dengan Batara Guru di dalam narasi versi Wayang Purwa, Shiwa ditampilkan sebagai dewa bertangan empat. Tangan kanan atas Shiwa menggenggam damaru sebagai kendang pertama menyuarakan bahana genesis, selentata tangan kanan bawah menggenggam abahaymudra sebagai penangkal ketakutan. 

Tangan kiri atas menggenggam api yang siap mengiamatkam jagad raya sementara telunjuk tangan kiri bawah memunjuk ke arah kaki kanan Shiwa sebagai penyelamat para umat Shaiwisme. Kaki kiri Shiwa menginjak seorang manusia kerdil melambangkan apasmara purusha sebagai ilusi yang menyesatkan umat manusia.

Energi yang keluar dari tubuh sedang menari menggerakkan rambut Shiwa berkibar-kibar ke kanan ke kiri memetaforakan supra estetika seni skulptur yang menggetar alam semesta.

Pada patung Shiwa menari tersebut, saya dapat memahami inti makna yang terkandung pada tafsir Shiwa Nataraja sebagai dewa yang memegang tiga fungsi sekaligus yaitu sang pencipta, sang perawat serta sang penghancur. Pada hakikatnya Shiwa ssbagai pencipta dan pemilihara adalah sang Dwi Murti sementara sebagai sang penghancur Shiwa disebut sebagai Rudra.

Di dalam Rig Veda, nama Shiwa disebut 18 kali sementara nama yang disebut 57 kali adalah Rudra.

Sementara Shiwa dipuja dengan penuh rasa hormat dan kasih  oleh umatnya maka Rudra dipuja dengan rasa cemas dan takut maka relatif menerima sesaji lebih banyak agar Rudra tidak mengumbar angkara murka yang menyengsarakan umat manusia.

Maka di antara para penganut Shaiwisme sebagai pemuja Shiwa dapat dimengerti bahwa Hanuman dianggap sebagai avatar Shiwa sementara Ashwatama (putra tunggal Dorna) sebagai satu-satunya sekutu Kurawa yang tidak gugur di medan laga Bharatayuda diyakini adalah avatar Rudra.


Kenapa Anak Mirip Orang Tuanya?

Sebelumnya

Kewajiban Asasi Manusia

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana