post image
Salah satu demonstrasi yang digelar masyarakat Korea Selatan di Seoul menolak latihan perang Ulchi Freedom Shield.
KOMENTAR

Latihan gabungan militer antara Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dikenal dengan nama Ulchi Freedom Shield (UFS) tengah menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di panggung politik global. Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta pengurangan porsi partisipasi militer AS dalam program itu dengan alasan biaya yang terlalu tinggi serta ketidakefektifan latihan. 

Langkah Trump ini tentu saja membuka ruang diskusi luas mengenai masa depan stabilitas keamanan di Semenanjung Korea.

Secara historis, Ulchi Freedom Shield merupakan kelanjutan dan bentuk modern dari serangkaian latihan militer bersama yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Akar dari latihan ini bermula dari tahun 1968 setelah penyusupan pasukan khusus Korea Utara ke Istana Kepresidenan Korea Selatan (Blue House Raid), yang melahirkan latihan bernama Taeguk dan kemudian berkembang menjadi Ulchi.

Nama Ulchi diambil dari Ulchi Mundok, seorang jenderal legendaris Kerajaan Goguryeo yang berhasil mempertahankan wilayah Korea dari invasi asing pada abad ke-7.

Tujuan utama dibentuknya Ulchi Freedom Shield adalah untuk memelihara kesiapsiagaan tempur gabungan serta memperkuat pertahanan bersama antara Komando Pasukan Gabungan AS-Korea Selatan (Combined Forces Command), Komando PBB (United Nations Command), dan tentara Korea Selatan. Melalui simulasi dan latihan lapangan, kedua negara berusaha memastikan bahwa doktrin pertahanan gabungan mereka dapat merespons skenario invasi mendadak atau krisis keamanan nasional.

Skala dan durasi simulasi UFS menjadikannya salah satu latihan militer gabungan berbasis komputer dan lapangan terbesar di dunia. Biasanya diselenggarakan setiap tahun pada bulan Agustus atau September, program ini berlangsung selama sekitar dua minggu dan melibatkan puluhan ribu personel dari kedua negara serta beberapa negara anggota Komando PBB.

Struktur latihan Ulchi Freedom Shield dibagi menjadi dua elemen utama yang berjalan secara beriringan. Elemen pertama adalah Command Post Exercise (CPX), yaitu simulasi pertahanan berbasis komputer dan pos komando. Elemen kedua adalah Field Training Exercise (FTX), yang melibatkan pergerakan pasukan secara fisik di lapangan, termasuk manuver darat, latihan tembak tempur (live-fire), latihan operasi udara gabungan, serta pertahanan maritim.

Salah satu keunikan UFS dibandingkan latihan militer standar lainnya adalah keterlibatan unsur pemerintah sipil Korea Selatan secara menyeluruh. Latihan ini menggabungkan manajemen krisis militer dan pertahanan sipil (skenario Ulchi Exercise oleh lembaga pemerintah). Skenario yang dilatih mencakup penanganan serangan keamanan siber, simulasi gangguan pada infrastruktur vital, respons terhadap ancaman senjata pemusnah massal (NBM/CBRN), hingga evakuasi darurat warga sipil.

Dalam konteks operasional, UFS difokuskan pada pengujian transisi kontrol operasional waktu perang (OPCON transfer) dari militer AS ke militer Korea Selatan. Selain merespons skenario perang konvensional, skenario latihan dalam beberapa tahun terakhir ditingkatkan untuk menghadapi ancaman asimetris terkini, seperti serangan drone, perang informasi, dan potensi eskalasi ancaman nuklir atau rudal dari Korea Utara.

Dari sudut pandang Korea Utara, Ulchi Freedom Shield dipandang secara konsisten sebagai bentuk provokasi langsung. Pyongyang mengklaim bahwa "latihan perang" ini bukan sekadar manuver defensif, melainkan sebuah latihan geladi bersih (rehearsal) untuk menginvasi Korea Utara dan menggulingkan rezim. Dampaknya, penyelenggaraan UFS hampir selalu diiringi dengan retorika keras atau uji coba rudal balistik oleh pihak Korea Utara sebagai bentuk protes.

Pernyataan Donald Trump yang mengkritik Ulchi Freedom Shield mencerminkan pendekatan strategisnya yang menitikberatkan pada aspek finansial dan pragmatisme diplomatik. Trump menganggap biaya operasional yang dikeluarkan AS untuk memobilisasi ribuan tentara, kapal induk, pesawat pengebom strategis, dan logistik antarbenua sangat membebani anggaran pertahanan AS, sementara manfaat langsung bagi pembayar pajak di Amerika dinilai relatif minim.

Arsitektur pendanaan latihan militer bersama ini sebenarnya melingkupi pembagian biaya antara Washington dan Seoul melalui Perjanjian Pembagian Biaya Pertahanan (Special Measures Agreement). Meskipun Korea Selatan menanggung sebagian besar biaya operasional pangkalan militer AS di wilayahnya (seperti Camp Humphreys), pemerintah AS tetap mengeluarkan biaya besar untuk pergerakan aset strategis dan pengerahan personel dari luar Semenanjung Korea.

Argumentasi diplomasi juga menjadi alasan utama di balik penolakan Trump terhadap skala penuh latihan ini. Berdasarkan pengalaman diplomasinya dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, Trump menilai bahwa pembatasan atau penundaan latihan perang dapat menjadi penawar posisi tawar (bargaining chip) yang efektif untuk menurunkan ketegangan dan membuka pintu perundingan denuklirisasi.

Di tengah dinamika antarnegara ini, masyarakat Korea Selatan sendiri terbelah dalam menyikapi penyelenggaraan Ulchi Freedom Shield. Kelompok masyarakat berhaluan konservatif, para purnawirawan militer, serta warga yang tinggal di kawasan perkotaan umumnya mendukung penuh keberadaan UFS. Bagi kubu pendukung, latihan ini adalah garansi mutlak atas kehadiran militer AS yang menjamin keselamatan warga dari ancaman nuklir Pyongyang, sehingga segala bentuk penundaan atau pengurangan skala latihan dianggap berbahaya bagi stabilitas nasional.

Sebaliknya, kelompok progesif, organisasi buruh, jaringan aktivis perdamaian, dan sebagian generasi muda secara terbuka menentang penyelenggaraan UFS. Kubu penentang ini rutin menggelar unjuk rasa di sekitar Kantor Kepresidenan di Seoul dan pangkalan militer AS. Mereka berargumen bahwa latihan militer skala besar justru memprovokasi Korea Utara, mempertinggi risiko perang ketimbang menciptakan perdamaian, serta menjadikan tanah Korea sebagai medan proksi bagi kepentingan geopolitik Amerika Serikat di Asia-Pasifik.

Sikap publik yang terbelah ini tecermin dari tingginya kecemasan masyarakat ketika isu pembatalan atau pengurangan UFS diangkat. Mayoritas warga khawatir perubahan kebijakan AS akan menurunkan kapasitas interoperabilitas—kemampuan gabungan militer AS dan Korea Selatan untuk bekerja sama secara efektif saat krisis. Keraguan atas keandalan aliansi ini bahkan memicu wacana publik yang semakin kuat di Korea Selatan mengenai perlunya memungut opsi pertahanan mandiri, termasuk mengembangkan program senjata nuklir sendiri demi menjamin keamanan nasional jangka panjang.

Secara keseluruhan, Ulchi Freedom Shield bukan sekadar simulasi militer rutin, melainkan cermin dari kompleksitas aliansi, perdebatan diplomasi, dan Polarisasi pandangan di dalam negeri Korea Selatan. Tarik-menarik antara efisiensi biaya, kesiapsiagaan tempur, dorongan diplomasi, serta aspirasi perdamaian dari masyarakat sipil membuktikan bahwa setiap penyesuaian terhadap UFS akan memberikan dampak domino yang menentukan masa depan stabilitas di Semenanjung Korea.


Ternyata Kim Jong Un Sudah Respons Ajakan Trump untuk Bertemu

Sebelumnya

MoU Iran-AS Berakhir, Uni Emirat Arab Minta Rakyat Selamatkan Diri dari Serangan Rudal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia