post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Seorang pria berusia 71 tahun asal Utah, Jaime Jesus Carvajal, melayangkan keluhan serius terhadap maskapai United Airlines. Ia mengklaim bahwa maskapai tersebut gagal memberikan akomodasi yang memadai terkait kebutuhan oksigen tambahannya selama penerbangan, yang menyebabkannya berada dalam kondisi tanpa oksigen saat berada di udara.

Permasalahan ini bermula sekitar dua jam setelah penerbangan lepas landas dari Bandara Internasional Salt Lake City (SLC) menuju Bandara Interkontinental George Bush (IAH) di Houston. Carvajal, yang menderita chronic obstructive sleep apnea dan asma kronis, mendapati baterai perangkat konsentrator oksigen portabel miliknya habis.

Carvajal mengungkapkan bahwa sebelum keberangkatan, ia telah melakukan koordinasi dengan pihak maskapai mengenai kebutuhan medisnya. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan staf check-in serta kru kabin mengenai penggunaan alat tersebut dan mendapatkan konfirmasi bahwa pengaturan yang ia buat sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.

Ketika baterai alatnya habis di tengah penerbangan, Carvajal meminta bantuan kepada kru kabin. Seorang pramugari kemudian memindahkannya dari kursinya ke lokasi lain dengan harapan dapat menyambungkan alat tersebut ke stopkontak pesawat agar bisa kembali berfungsi.

Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Carvajal menyatakan bahwa sambungan listrik di kursi baru tersebut hanya berfungsi sesaat, sebelum akhirnya perangkatnya mati total. Kondisi ini membuatnya tidak mendapatkan pasokan oksigen yang krusial untuk kesehatannya selama sisa perjalanan.

Menanggapi keluhan yang disampaikan oleh penumpang tersebut setelah insiden terjadi, United Airlines memberikan kompensasi berupa kredit penerbangan senilai $150. Pihak maskapai belum memberikan tanggapan mendalam mengenai detail teknis kegagalan daya di dalam kabin tersebut.

Kompensasi $150 tersebut dinilai sangat tidak memadai oleh pihak Carvajal. Melalui kuasa hukumnya, David Head, Carvajal menyatakan ketidakpuasannya atas respons maskapai dan berencana untuk menempuh jalur hukum dengan mengajukan gugatan terhadap United Airlines.

Di sisi lain, United Airlines memiliki panduan resmi terkait penumpang yang membawa perangkat medis. Maskapai menyatakan bahwa setiap penumpang yang menggunakan konsentrator oksigen portabel diwajibkan membawa baterai cadangan yang cukup untuk mengoperasikan perangkat selama 150% dari durasi rencana penerbangan.

Kasus ini kini menjadi sorotan mengenai pentingnya pemahaman aturan bagi penumpang yang bergantung pada alat medis. Pertarungan hukum ini diprediksi akan berlangsung lama, di mana pengadilan nantinya harus menentukan sejauh mana tanggung jawab maskapai dalam menjamin kenyamanan dan keamanan penumpang dengan kebutuhan khusus selama penerbangan.

Insiden ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pelancong mengenai perbedaan krusial antara izin membawa perangkat medis ke dalam kabin dengan jaminan ketersediaan daya listrik selama penerbangan. Hingga saat ini, kedua belah pihak tetap bersikeras pada posisi masing-masing terkait kronologi dan tanggung jawab atas kegagalan sistem tersebut.


Mendagri Malaysia: Pilot Mohd Saufi bin Othman Jadi Kurir Narkoba Sejak 2024

Sebelumnya

GATF 2026, Garuda Indonesia dan Bank Mandiri Kolaborasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews