Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, yang mencakup Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Korps Marinir, saat ini sedang bersiap untuk memperluas armada jet tempur generasi terbaru mereka secara besar-besaran. Langkah ambisius ini menandai perubahan signifikan dalam strategi pertahanan udara Amerika, yang sebelumnya sangat bergantung pada armada kecil jet tempur siluman. Transformasi ini bertujuan untuk memastikan dominasi udara AS di tengah dinamika keamanan global yang terus berubah dan semakin kompetitif.
Kehadiran jet tempur siluman Lockheed Martin F-35 Lightning II telah menjadi tonggak utama dalam perluasan ini. Berbeda dengan jet tempur F-22 Raptor yang diluncurkan pada tahun 2005 dan diperlakukan sebagai "senjata pamungkas" dengan jumlah terbatas, F-35 dirancang untuk menjadi tulang punggung utama pertahanan udara. Saat ini, produksi F-35 telah mencapai skala epik dengan lebih dari 1.300 unit yang sudah beroperasi aktif di seluruh dunia.
Rencana ke depan menunjukkan bahwa lebih dari 3.000 unit F-35 akan diproduksi, di mana lebih dari separuhnya akan didedikasikan khusus untuk militer Amerika Serikat. Selain itu, langkah besar lainnya diambil pada awal tahun 2025 ketika Angkatan Udara AS secara resmi memberikan kontrak kepada Boeing untuk memulai pengembangan jet tempur generasi keenam, F-47 (dari program NGAD). Dalam dekade mendatang, kombinasi armada F-35 dan pesawat generasi baru diproyeksikan akan menghasilkan lebih dari seribu jet tempur siluman canggih bagi militer AS.
Namun, lonjakan kekuatan udara yang sesungguhnya akan datang dari lebih dari 1.000 Pesawat Tempur Kolaboratif (Collaborative Combat Aircraft/CCA), yakni drone siluman otonom. Pesawat nirawak canggih ini dirancang khusus untuk terbang berdampingan dengan jet tempur yang dipiloti oleh manusia. Setiap jet tempur berawak nantinya diperkirakan akan dipasangkan dengan setidaknya dua drone otonom ini, menciptakan pergeseran paradigma yang akan mendefinisikan peperangan udara di abad mendatang.
Perluasan besar-besaran ini juga menjadi momen refleksi atas keputusan penghentian produksi F-22 Raptor di masa lalu. Keputusan yang kala itu didorong oleh kendala anggaran tersebut hanya menyisakan armada F-22 di angka 186 unit, dengan tingkat kesiapan tempur yang memprihatinkan, yakni hanya sekitar 40 persen pada tahun 2024. Kurang dari 100 unit F-22 diperkirakan benar-benar siap tempur pada waktu tertentu akibat kendala perawatan dan usia pakai.
Dari segi biaya, F-22 dikenal sebagai salah satu pesawat tempur termahal, dengan harga mencapai sekitar 150 juta dolar AS per unit. Sementara itu, perkiraan awal Kongres menyebutkan bahwa F-47 bisa memakan biaya hingga 300 juta dolar AS per unit, meskipun Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal David Allvin menargetkan agar harganya kelak bisa ditekan lebih murah dari F-22. Secara keseluruhan, gabungan pesawat tempur generasi keenam dari Angkatan Udara dan Angkatan Laut (program F/A-XX) akan mencapai hampir 500 unit.
Sayangnya, upaya Amerika Serikat untuk segera mendominasi era jet tempur generasi keenam tengah menghadapi tantangan terkait tenggat waktu produksi. Sejumlah analis menyebutkan bahwa proyek F-47 tertinggal hingga empat tahun dari jadwal akibat kendala dalam pengembangan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya, terutama masalah mesin siklus variabel yang diprediksi tertunda hingga tahun 2030. Sebagai perbandingan, Tiongkok berhasil mengembangkan jet tempur Chengdu J-20 hanya dalam kurun waktu enam tahun.
Cepatnya perkembangan militer Tiongkok inilah yang menjadi pendorong utama bagi AS untuk mempercepat program jet tempur siluman generasi baru. Tiongkok telah membuat langkah besar dalam menutup kesenjangan teknologi pertahanan dengan Amerika Serikat. Saat ini, terdapat sedikitnya 300 unit jet tempur siluman Chengdu J-20 yang dioperasikan oleh angkatan udara mereka, menjadikannya armada pesawat siluman non-Amerika terbanyak di dunia.
Angka tersebut diprediksi akan terus melonjak tajam seiring peningkatan kapasitas produksi pertahanan Beijing. Para analis memperkirakan bahwa Tiongkok dapat memiliki lebih dari 1.000 armada pesawat J-20 pada tahun 2030. Ditambah lagi, jet tempur siluman multi-peran baru J-35A buatan mereka diperkirakan akan segera diproduksi massal, memberikan pijakan udara dan laut yang hampir setara dengan AS dan sekutunya di kawasan Asia-Pasifik.
Pada akhirnya, penghentian produksi F-22 di masa lalu telah meninggalkan dampak panjang terhadap hilangnya infrastruktur dan rantai pasokan kedirgantaraan AS yang kini harus dibangun kembali dengan susah payah. Meskipun AS merencanakan integrasi spektakuler antara armada tempur berawak generasi baru dengan ribuan drone siluman, para ahli masih mempertanyakan apakah langkah besar ini akan cukup dan tepat waktu untuk mengimbangi kecepatan produksi Tiongkok dalam skenario konflik di masa depan.



KOMENTAR ANDA