post image
Foto: Guardian
KOMENTAR

Negara-negara Teluk secara resmi memutuskan untuk menunda pertemuan penting dengan Iran yang membahas masa depan Selat Hormuz. Keputusan ini diambil menyusul kurangnya konsensus di antara negara-negara Arab serta meningkatnya kemarahan Saudi terhadap Teheran.

Ketegangan diplomatik ini semakin memuncak di tengah kemarahan Riyadh atas dukungan Iran terhadap pemberontak Houthi di Yaman. Kelompok Houthi dilaporkan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone baru yang menargetkan fasilitas militer strategis di Arab Saudi.

Salah satu sasaran utama serangan tersebut adalah Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Serangan itu dikabarkan merusak sejumlah fasilitas penting, termasuk hanggar jet tempur, sistem radar, landasan pacu, serta gudang amunisi.

Situasi keamanan regional kian memburuk setelah milisi dukung-Teheran di Irak memaksa Arab Saudi menutup jalur pipa minyak penting timur-barat. Pipa tersebut sebelumnya diandalkan Riyadh sebagai jalur alternatif ekspor minyak setelah Iran secara efektif menutup jalur Selat Hormuz.

Kombinasi antara penutupan pipa minyak, tertundanya perundingan Hormuz, dan penguasaan wilayah pesisir Laut Merah Yaman oleh Houthi langsung berdampak pada pasar global. Lonjakan ketegangan ini mendorong harga minyak dunia melonjak melewati angka $108 per barel.

Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, menyatakan bahwa pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dengan Iran terpaksa ditunda demi menjaga konsensus regional. Kendati demikian, Oman menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dialog demi stabilitas jangka panjang.

Pertemuan yang sedianya dijadwalkan tersebut sebenarnya bertujuan untuk merundingkan rute pelayaran komersial sementara apabila Selat Hormuz dibuka kembali. Namun, pihak Teheran telah menetapkan berbagai prasyarat ketat, termasuk pencabutan blokade pelabuhan minyak Iran oleh Amerika Serikat dan gencatan senjata di Lebanon.

Di sisi lain, pergerakan cepat pasukan Houthi yang berhasil menguasai Selat Bab al-Mandab turut memperkeruh situasi di lapangan. Kelompok tersebut berdalih bahwa mereka tidak berniat memblokir seluruh pelayaran komersial, melainkan hanya mengincar kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi.

Sementara itu, pihak Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas membantah segala bentuk keterlibatan Teheran dalam serangan terhadap pipa minyak Saudi maupun eskalasi konflik di Yaman.

Meski proses diplomasi menemui jalan buntu akibat memanasnya konflik militer ini, komunitas internasional tetap memantau ketat perkembangan kawasan Teluk. Stabilitas pasokan energi global kini sangat bergantung pada kemampuan para aktor regional dalam meredakan krisis yang terus berlanjut.


Rekor Baru Demografi Jepang, Warga Berusia di Atas 100 Tahun Lampaui 100 Ribu Orang

Sebelumnya

Drama Spionase “Jiaofeng” Ubah Ketegangan Selat Taiwan Menjadi Tontonan Populer di China

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia