Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta
KAJIAN mengenai Perang Dunia II sering kali terjebak dalam romantisisme taktik medan tempur, kecanggihan alutsista, atau sekadar narasi kepahlawanan komandan lapangan.
Sementara dalam karya terbarunya, "The Strategists: How War Made Them and How They Made War", sejarawan militer Phillips Payson O'Brien membedah lapisan yang jauh lebih mendasar, yakni isi kepala lima pemimpin utama yang menentukan jalannya konflik paling mematikan dalam sejarah manusia.
Buku terbitan Penguin ini berfokus pada lima tokoh sentral: Winston Churchill, Franklin D. Roosevelt, Joseph Stalin, Adolf Hitler, dan Benito Mussolini.
O'Brien tidak memulai analisisnya saat peluru pertama meletus pada September 1939, melainkan jauh ke belakang untuk melacak bagaimana perang masa lalu membentuk doktrin dan insting strategis kelima tokoh tersebut.
Tesis utama yang diajukan O'Brien sangat tegas: strategi perang bukanlah produk spontan saat krisis pecah, melainkan akumulasi pengalaman traumatis, keterlibatan institusional, serta pemahaman teknologi dan geografi yang dipelajari para pemimpin ini pada dekade-dekade sebelumnya, terutama era Perang Dunia I.
Dalam perspektif hubungan internasional dan studi strategis, pendekatan ini menawarkan penyegaran terhadap teori individual level of analysis. O'Brien membuktikan bahwa keputusan makro negara dalam menggerakkan jutaan tentara dan seluruh basis industri nasional merupakan manifestasi langsung dari persepsi subjektif sang pemimpin tertinggi.
Bagian pertama buku ini mendalami konsep "How War Made Them", sebuah penelusuran biografi intelektual dan militer dari masing-masing figur. Pengalaman formatif mereka di masa muda menjadi lensa kaku yang dipakai untuk membaca peta konflik global beberapa dekade kemudian.
Franklin D. Roosevelt, misalnya, dibentuk oleh perannya sebagai Asisten Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat selama Perang Dunia I. Pengalaman birokratis dan logistik kelautan ini menanamkan kesadaran mendalam pada FDR bahwa perang modern dimenangkan melalui kapasitas manufaktur, supremasi laut, serta penguasaan ruang udara.
Di seberang Atlantik, Winston Churchill membawa luka psikologis dan pelajaran berharga dari kegagalan kampanye Gallipoli serta pengalamannya di Admiralty. Churchill tumbuh dengan pandangan global yang bertumpu pada mobilitas armada laut dan udara imperium Inggris, bukan perang parit statis di daratan Eropa.
Sebaliknya, Adolf Hitler terkunci dalam realitas sempit seorang prajurit infanteri parit Perang Dunia I di Front Barat. Pengalaman tersebut menanamkan obsesi buta pada kekuatan angkatan darat (land-power), perebutan teritorial fisik (Lebensraum), serta ilusi bahwa kehendak ideologis murni mampu mengalahkan superioritas logistik musuh.
Benito Mussolini menghadirkan potret kegagalan strategis yang paling mencolok. O'Brien menggambarkan Il Duce sebagai figur yang terjebak dalam retorika fasisme teatrikal tanpa pernah memahami prasyarat teknis, fondasi industri, maupun koordinasi militer modern yang dibutuhkan untuk menopang ambisi imperialnya.
Joseph Stalin ditempa oleh brutalitas Perang Saudara Rusia, khususnya pertempuran Tsaritsyn. Pengalaman itu membentuk watak paranoia akut, sentralisasi komando ekstrem, serta ketergantungan pada massa artileri dan kekuatan darat masif yang dikorbankan demi pertahanan ruang kedalaman (strategic depth) Uni Soviet.
Memasuki bagian "How They Made War", O'Brien mengkaji bagaimana cetak biru mental tersebut dieksekusi secara nyata dalam keputusan-keputusan strategis Perang Dunia II. Di sini, sang penulis secara tajam mendekonstruksi mitos kehebatan taktis Jerman.
O'Brien berargumen bahwa Hitler adalah penyusun strategi yang buruk karena gagal memahami dimensi udara dan laut yang sesungguhnya menentukan lanskap perang global. Keputusan Jerman menyerbu Uni Soviet mencerminkan keterbatasan visi kontinental Hitler yang mengabaikan daya tahan rantai pasok dan bahaya keterlibatan industri Amerika Serikat.
Mussolini, di sisi lain, membawa Italia ke dalam kehancuran instan dengan melancarkan perang di Yunani dan Afrika Utara tanpa doktrin yang matang, kesiapan amunisi, maupun armada modern yang memadai untuk menantang dominasi Sekutu di Mediterania.
Di kubu Sekutu, FDR dan Churchill terbukti lebih unggul dalam membaca arah peperangan modern. Keduanya memahami bahwa perang total abad ke-20 tidak ditentukan oleh perebutan garis parit, melainkan oleh pertempuran mematikan untuk mengontrol jalur logistik maritim dan penghancuran sistem produksi lawan dari udara.
FDR berhasil mentransformasi ekonomi Amerika Serikat menjadi "Arsenal of Democracy", memprioritaskan pembangunan ribuan kapal kargo Liberty, armada kapal induk, serta pesawat pengebom jarak jauh jauh sebelum kekuatan darat Sekutu menginjakkan kaki di daratan Eropa.
Hubungan antara Churchill dan FDR tidak luput dari gesekan tajam, namun O'Brien memperlihatkan bagaimana mekanisme musyawarah demokratis dan pertukaran pandangan strategis antar-staf militer Sekutu jauh lebih adaptif dibandingkan sistem komando totaliter Poros yang anti-kritik.
Stalin, kendati sempat melakukan kesalahan fatal pada awal Operasi Barbarossa akibat salah menilai niat Hitler, perlahan belajar mendelegasikan keputusan operasional kepada para jenderalnya seperti Zhukov, sembari memfokuskan kendalinya pada mobilisasi industri berat di balik Pegunungan Ural.
Kekuatan metodologis buku ini terletak pada kemampuan O'Brien menghubungkan arsip sejarah personal dengan data statistik produksi militer, pergerakan minyak, dan efektivitas logistik global.
O'Brien secara konsisten menentang historiografi tradisional yang kerap memuja kejeniusan taktis operasional medan tempur dengan menegaskan bahwa kemenangan perang modern selalu berakar pada keunggulan strategi mobilitas dan logistik.
Para pembaca studi pertahanan disuguhi realitas bahwa pertempuran laut dan udara di Atlantik serta Pasifik memiliki bobot strategis yang sama krusialnya dengan pertempuran darat di Kursk atau Stalingrad.
Kelemahan para diktator berakar pada ilusi autarki dan pandangan sempit berbasis ruang darat yang terbukti usang di hadapan jejaring aliansi maritim-udara global Sekutu.
Sebagai catatan kritis, buku ini tetap membawa bias historiografi Barat dengan porsi analisis teater Pasifik dan peran front Asia yang relatif lebih sedikit dibandingkan dinamika teater Eropa dan Atlantik.



KOMENTAR ANDA