Boeing berhasil memulihkan dan mempercepat kembali jalur produksi jet tempur F-15EX Eagle II hanya dalam hitungan minggu setelah berakhirnya aksi mogok kerja selama 105 hari. Aksi mogok yang melumpuhkan fasilitas manufaktur pertahanan di kawasan St. Louis tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran besar terhadap jadwal modernisasi armada tempur Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).
Mogok kerja bersejarah ini dimulai pada 4 Agustus 2025, ketika sekitar 3.200 teknisi ahli yang tergabung dalam International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) District 837 menolak tawaran kontrak kerja dari pihak manajemen Boeing. Penolakan tersebut memicu penghentian aktivitas pabrik di St. Louis dan St. Charles, Missouri, serta Mascoutah, Illinois, menjadikannya pemogokan tenaga kerja terpanjang dalam sejarah operasional Boeing di wilayah tersebut.
Setelah melalui lima penolakan proposal kontrak kerja, perselisihan perburuhan akhirnya mencapai titik temu pada 13 November 2025 melalui pemungutan suara keenam. Perjanjian kontrak lima tahun yang baru disepakati mencakup kenaikan upah umum dan bonus ratifikasi, sehingga para teknisi mulai kembali ke lantai pabrik beberapa hari kemudian untuk mengaktifkan kembali fasilitas perakitan pesawat tempur.
Meskipun lini produksi sempat terhenti, pengiriman F-15EX tetap berjalan berkat koordinasi intensif antara Boeing, Air Force Life Cycle Management Center, dan Defense Contract Management Agency. Sayap Tempur ke-142 (142nd Wing) di Pangkalan Garda Nasional Udara Portland menerima pesawat kedelapannya hanya sembilan hari setelah mogok kerja resmi berakhir, disusul pesawat berikutnya kurang dari tiga minggu kemudian.
Pencapaian logistik ini membuktikan ketahanan jalur perakitan F-15EX yang mampu beralih dari status dorman menuju kapasitas output penuh secara kilat. Boeing menargetkan fasilitas St. Louis dapat memproduksi hingga dua unit F-15EX per bulan, seiring dengan alokasi anggaran tahun fiskal 2027 yang mencakup pesanan tambahan 24 pesawat senilai 2,66 miliar dolar AS.
Pemulihan cepat ini juga menghidupkan kembali perdebatan seputar rasio biaya dan nilai F-15EX dibandingkan jet tempur siluman generasi kelima F-35. Dengan harga per unit berkisar antara 90 hingga 97 juta dolar AS—lebih mahal dari F-35 yang berada di kisaran 82,5 juta dolar AS—USAF berdalih bahwa F-15EX memiliki masa pakai operasional hingga 20.000 jam terbang, jauh melampaui F-35A yang dirancang untuk sekitar 8.000 jam.
Keunggulan utama lain dari Eagle II terletak pada biaya transisi infrastruktur yang minim bagi pangkalan udara yang sebelumnya mengoperasikan jet F-15 generasi terdahulu. Skuadron udara dapat beralih menerbangkan F-15EX dalam hitungan minggu tanpa perlu merombak fasilitas pangkalan secara besar-besaran, sebuah solusi cepat untuk menggantikan armada F-15C/D yang sebagian besar telah mengalami pembatasan terbang akibat kelelahan struktur rangka.
Secara performa, jet bermesin ganda turunan F-15QA ini memiliki kecepatan hingga Mach 2.5 dengan ketinggian terbang mendekati 60.000 kaki serta kapasitas muatan tempur mencapai 29.500 pon. Kapasitas angkut persenjataan yang masif ini menjadikannya "truk rudal" andalan di inventaris militer AS, termasuk kemampuan membawa rudal hipersonik berukuran besar yang tidak muat di dalam ruang senjata (internal bay) jet tempur siluman.
Isu penting lain yang akhirnya terselesaikan adalah pendanaan tangki bahan bakar konformal (Conformal Fuel Tanks atau CFT), yang pada batch produksi awal sempat tidak didanai. Melalui paket anggaran rekonsiliasi Kongres tahun fiskal 2026 sebesar 910 juta dolar AS, pengadaan CFT kini telah terjamin untuk menambah jangkauan terbang tempur armada F-15EX tanpa menambah hambatan aerodinamis eksternal secara berlebih.
Jangkauan jelajah yang panjang dan daya tahan mengudara yang tinggi menjadikan F-15EX elemen kunci dalam doktrin Agile Combat Employment (ACE) di kawasan Indo-Pasifik. Dalam skema taktis kolaboratif, jet tempur siluman seperti F-35 dan F-22 bertindak sebagai pemantau di garis depan tanpa terdeteksi, sementara F-15EX meluncurkan rudal jarak jauh dari batas cakrawala, mengurangi ketergantungan armada tempur terhadap pesawat tanker pengisi bahan bakar di zona rawan konflik.



KOMENTAR ANDA