post image
Ilustrasi "Centenarian" di Jepang.
KOMENTAR

Jumlah penduduk lanjut usia berusia 100 tahun atau lebih di Jepang secara resmi telah melampaui angka 100.000 jiwa untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Jepang menjelang hari libur nasional "Respect for the Aged Day", total populasi centenarian tercatat mencapai 107.677 orang.

Pencapaian demografi ini menandai kenaikan yang terus menerus selama 56 tahun berturut-turut sejak pencatatan data pertama kali dimulai pada tahun 1963. Lonjakan ini menunjukkan bagaimana angka harapan hidup di negara tersebut terus mengalami peningkatan dari dekade ke dekade.

Dari total keseluruhan populasi centenarian tersebut, mayoritas besar didominasi oleh kaum perempuan. Data kementerian menunjukkan bahwa wanita menyumbang sekitar 88 hingga 90 persen dari keseluruhan warga Jepang yang telah menginjak usia satu abad atau lebih.

Di antara ratusan ribu lansia tersebut, terdapat beberapa figur yang menjadi simbol umur panjang di negara itu. Fuyo Kishimoto, seorang wanita berusia 114 tahun asal Kyoto, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang, sementara Hikaru Kato yang berusia 112 tahun asal Kumamoto menjadi pria tertua.

Lonjakan jumlah penduduk berusia 100 tahun ini menempatkan Jepang sebagai salah satu negara dengan proporsi lansia tertinggi di dunia. Berdasarkan data Bank Dunia, rata-rata usia penduduk di negara ekonomi terbesar keempat di dunia ini berada di angka 49,9 tahun.

Kendati mencerminkan keberhasilan sistem kesehatan dan kualitas hidup yang baik, pencapaian ini di sisi lain memperdalam krisis demografi yang sedang melanda Jepang. Angka kelahiran di negara tersebut terus mencatatkan rekor penurunan terendah dari tahun ke tahun, menciptakan ketimpangan struktur usia penduduk.

Situasi pelik ini memicu berbagai tantangan serius bagi perekonomian nasional, termasuk ancaman kekurangan tenaga kerja yang semakin meluas. Selain itu, basis pajak yang menyusut dihadapkan pada lonjakan biaya jaminan sosial dan perawatan kesehatan yang harus ditanggung oleh pemerintah.

Pemerintah Jepang terus berupaya merumuskan kebijakan adaptif guna mengatasi beban anggaran pensiun serta kebutuhan tenaga medis dan perawatan lansia yang terus meningkat. Tantangan struktural ini menuntut solusi jangka panjang agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah masyarakat yang menua.

Fenomena membludaknya jumlah warga berusia 100 tahun ini tidak hanya dialami oleh Jepang seorang diri di kawasan Asia. Negara tetangga seperti Korea Selatan dan Singapura juga menghadapi tekanan demografi serupa berupa penurunan angka kesuburan dan penyusutan angkatan kerja.

Rekor baru yang dicetak oleh Jepang ini menjadi pengingat penting bagi komunitas global mengenai pergeseran piramida penduduk dunia. Di satu sisi umur panjang adalah sebuah prestasi peradaban, namun di sisi lain ia menuntut kesiapan luar biasa dalam mengelola masa depan kesejahteraan sosial.


Drama Spionase “Jiaofeng” Ubah Ketegangan Selat Taiwan Menjadi Tontonan Populer di China

Sebelumnya

Pembicaraan Selat Hormuz Ditangguhkan, Riyadh-Teheran Memanas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia